Guru Belajar dari Entrepreneur: Ngonten Jadi Bisnis Sampingan yang Menguntungkan dan Edukatif

admin.aiotrade 07 Nov 2025 6 menit 14x dilihat
Guru Belajar dari Entrepreneur: Ngonten Jadi Bisnis Sampingan yang Menguntungkan dan Edukatif

Pengalaman Mengajar dan Belajar di Era Digital

Dua orang siswa saya, Rajwa dan Akil, sedang mengikuti bimbingan lomba. Saat saya mengajarkan mereka membuat power point yang menarik, mereka terkejut. Tidak hanya itu, rancangan tersebut menjadi acuan setiap kali mereka mengikuti lomba.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Bunda buat sendiri powerpointnya?" tanya keduanya. Saya tertawa saat menjawabnya. "Namanya juga 'power point' jadi ada point-point penting yang kita ambil menjadi kekuatan yang membantu kita menjelaskan ide saat presentasi."

Selama ini, dengan rutinitas yang sama dan tumpukan banyak rencana pelajaran, berkas penilaian, serta kesibukan mengajar, eskul, dan wali kelas, saya sering berpikir bagaimana sebaiknya memanajemeni semuanya agar bisa mendapat prioritas yang sama. Dan tidak terjebak dalam kerja yang bisa membuat kita berada di lingkaran yang sama tanpa ada perubahan berarti.

Saya juga ingin bisa terus tumbuh sebagai pendidik di era digital yang serba cepat ini. Bukan sekedar mengajar, meskipun itu prioritas karena telah menjadi panggilan jiwa. Tapi di balik profesi yang identik dengan rutinitas kelas, saya mulai menyadari pentingnya berinvestasi pada diri sendiri, dalam bentuk yang mungkin berbeda dari biasanya.

Sewaktu sekolah sering mengharuskan guru ikut webinar, saya menjadi punya keinginan untuk mengasah diri bukan lagi sebatas memperbarui metode mengajar, melainkan juga belajar memahami dunia baru di luar ruang kelas, yaitu dunia bisnis digital, content creation, dan platform daring yang kini mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Substansinya memang masih berkaitan dengan proses mendidik, hanya saja wujudnya kini lebih cair dan lintas batas.

Dari Guru ke Pembelajar

Saya meyakini bahwa guru sebagai pembelajar sepanjang hayat tidak boleh kendor agar tidak tertinggal. Di waktu luang saya mulai sering mengikuti berbagai webinar dan pelatihan daring gratis, terutama yang membahas cara menjadi pengusaha sukses lewat jalur pendidikan. Apalagi banyak ruang baru yang menggabungkan pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru.

Saya semakin tertarik saat mengikuti webinar yang menjadi pengalaman yang paling membuka mata, ketika saya mengikuti sesi bersama Irvan Maulana, seorang pengusaha muda, entrepreneur yang sukses membangun bisnis daring di bidang pendidikan. Irvan bukan sosok yang tiba-tiba viral karena keberuntungan. Ia membangun kesuksesannya dari ketelitian membaca peluang, memahami kebutuhan orang, dan konsistensi dalam mengeksekusi ide.

Saya menyukai strategi dan tipsnya menemukan celah-celah potensi dalam materinya. Irvan menjelaskan prinsip yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya mendalam, carilah niche, celah pasar kecil yang paling membutuhkan solusi nyata. Niche sering menjadi sumber potensi yang tidak terduga.

Jadi bukan sekadar ikut tren atau meniru orang lain, tetapi benar-benar mengidentifikasi siapa orang-orang yang paling membutuhkan sesuatu yang bisa kita tawarkan. "Kalau kamu bisa menjawab kebutuhan spesifik seseorang, maka kamu sudah selangkah lebih maju dari pesaing," katanya dalam webinar itu.

Belajar dari Cerita Keberhasilan

Sering kali kita butuh motivasi dengan disertai bukti nyata. Irvan memulai langkahnya dengan membangun kursus online untuk calon tenaga medis, mereka yang ingin masuk ke bidang kebidanan dan keperawatan. Tak disangka, minatnya melesat luar biasa. Pesertanya membengkak menjadi ratusan ribu orang. Gebrakannya tidak hanya meraup keuntungan besar, tetapi juga membuka akses belajar bagi banyak orang yang sebelumnya kesulitan mencari pelatihan berkualitas dengan harga terjangkau.

Ada titik kunci yang bisa menjadi pembelajaran kita. Salah satunya adalah ketelitian dalam membaca kebutuhan publik dan keberanian bertindak cepat. Tidak perlu harus menunggu harus diikuti dengan inisiatif cepat ketika peluang itu muncul, karena momentumnya bisa saja akan berubah. Dengan langsung mengujinya di lapangan digital menurutnya kita bisa berhasil menyiapkan materi yang relevan, menyusun strategi distribusi konten yang efisien, dan membangun kepercayaan dengan konsistensi.

"Jangan takut mulai kecil," ujarnya. "Yang penting, mulai dari apa yang benar-benar dibutuhkan orang. Kalau kamu bisa bantu satu orang, nanti orang itu akan bantu kamu menemukan seribu orang lainnya."

Sebagai guru, saya terbiasa mempersiapkan siswa menghadapi ujian, tapi ternyata, dunia digital menuntut saya untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Dan perubahan itu bukan ancaman, melainkan peluang. Ini menjadi sesuatu yang sangat menarik.

Melalui berbagai kesempatan webinar, saya mulai melihat bahwa peran guru sesungguhnya tak pernah berhenti di sekolah. Saya bisa merasakan bahwa dunia pendidikan kini melebar, dan ruang kelas bisa berbentuk apa saja, layar laptop, aplikasi ponsel, bahkan video pendek di media sosial. Di situlah saya menemukan semacam "jalur baru" untuk tetap mengajar sambil belajar. Ketika berdiskusi dengan siswa saya juga mendapat banyak masukan baru apa kebutuhan mereka yang krusial.

Ngonten, seharusnya bukan lagi kegiatan sampingan tanpa arah. Justru bisa menjadi medium pendidikan baru, cara kita untuk mentransfer pengetahuan dalam bentuk yang lebih kontekstual, cepat, dan menarik. Jika dulu saya mengajar dengan kertas plano dan spidol, kini saya bisa menjelaskan konsep lewat reels, infografik, atau modul digital.

Tapi saya juga belajar untuk melihat konten bukan sekadar dari sisi kreatifnya, tapi juga dari sisi strateginya. Webinar Irvan membuka mata saya tentang bagaimana konten bisa menjadi jembatan bisnis yang etis dan berkelanjutan. Artinya bahwa ngonten sebagai side job bagi seorang guru sejatinya tetap bisa menguntungkan asal tahu batas dan tidak jor-joran.

Mengasah Diri, Mengubah Pola Pikir

Bagaimanapun harus digarisbawahi jika tidak bijak sesuatu yang positif bisa menjadi bias. Ngonten bisa dianggap sesuatu yang tidak sesuai dengan kerja-kerja guru yang tepat. Menjadi guru sekaligus pembelajar di era digital bukan perkara mudah. Ada benturan antara idealisme pendidikan dan realitas industri konten yang kompetitif. Ada juga godaan untuk cepat-cepat mencari cuan, yang kadang membuat orang lupa pada nilai dasar, membantu orang lain tumbuh.

Beberapa waktu lalu viral seorang guru yang sibuk ngonten sementara kelas ribut dan anak-anak justru kebingungan di kelas.

Kemampuan kita untuk terus beradaptasi, berpikir terbuka, dan belajar dari siapa pun, termasuk dari para pengusaha meskipun mungkin tak pernah mengajar di kelas, namun juga penting untuk membantu kita belajar tentang growth mindset.

Saya merasakan pengalaman seperti murid lagi saat mengikuti webinar, mencatat dan mencoba menerapkannya sesuai kebutuhan saya. Ketika membahas pentingnya membuat value proposition atau apa nilai yang kita tawarkan kepada audiens, saya membayangkan bagaimana konsep itu bisa diterapkan dalam dunia pendidikan. Bagaimana jika guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tapi juga menyiapkan "nilai tambah" bagi siswanya, yaitu kemampuan hidup, keterampilan digital, dan cara berpikir kritis?

Saya mulai merancang ide-ide kecil tentang pembelajaran yang memudahkan. Bagi saya, inilah bentuk baru dari ngonten yang mendidik, tidak sekadar memburu algoritme, tetapi membangun ekosistem belajar yang berkelanjutan.

Memang ketika dijalani juga tidak semudah yang kita bayangkan, kita harus belajar untuk tetap kritis. Bagaimanapun dunia digital sering menjanjikan kebebasan, tapi di baliknya ada tekanan yang halus, harus selalu produktif, selalu relevan, selalu viral. Banyak orang terjebak dalam romantisme self-improvement yang tanpa henti, belajar terus, tapi tak pernah selesai.

Saya tak ingin terjebak di sana. Mestinya memang harus ada keseimbangan antara kecepatan digital dan refleksi. Belajar tidak harus selalu cepat, dan kesuksesan tidak harus selalu diukur dari jumlah pengikut atau nominal rupiah.

Kritik ini menurut saya penting, karena di balik semangat berinovasi, kita juga perlu menjaga nilai-nilai pendidikan itu sendiri, kesabaran, empati, dan tanggung jawab sosial. Jika guru ikut serta dalam dunia bisnis digital, maka etika harus tetap menjadi fondasi. Kita boleh beradaptasi, tapi tidak boleh kehilangan arah.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan