
Fenomena Konflik Guru dan Siswa yang Semakin Meningkat di Indonesia
Konflik antara guru, siswa, dan orangtua semakin sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa Barat. Masalah ini menunjukkan pentingnya kemampuan komunikasi lintas generasi dalam menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks.
Kemarin, ratusan guru dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Subang menggelar aksi solidaritas di halaman Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Jalancagak, Jumat 7 November 2025 pagi. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada seorang guru yang berseteru dengan orangtua siswa akibat tindakan menampar anaknya di sekolah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kami ingin menunjukkan bahwa PGRI hadir untuk memperkuat sinergi antara guru dan orangtua. Karena mendidik anak itu bukan hanya tugas guru, tapi juga tanggung jawab orangtua,” kata Ketua PGRI Subang Aep Saepudin, kemarin.
Masalah yang melatarbelakangi aksi para guru adalah rekaman video yang beredar luas di media sosial berisi perseteruan antara guru dan orangtua siswa. Dalam video tersebut, orangtua siswa menyalahkan tindakan sang guru yang menampar anaknya di lapangan sekolah seusai upacara bendera.
Di sisi lain, sang guru beralasan hanya ingin memberikan hukuman tegas atas ketidakdisiplinan siswa yang bolos dengan cara melompati pagar sekolah. Guru yang bernama Rana Saputra itu juga sempat cekcok dengan Deni Rukmana, orangtua dari siswa berinisial ZR hingga videonya viral.
Aep menilai, kasus kali ini kembali memberikan pelajaran agar hukuman kepada siswa tidak menggunakan kekerasan fisik walaupun sedikit. ”Kami tetap mengimbau guru-guru agar disiplin tetap ditegakkan, tetapi tekniknya harus lebih pedagogis (mendidik),” ujarnya.
Solusi Alternatif untuk Hukuman Siswa
Alih-alih menampar siswa, guru sebaiknya memberikan sanksi berupa kerja bakti di lingkungan sekolah. Misalnya saja, membersihkan toilet, mencabut rumput, mengecat tembok atau kegiatan lain yang bermanfaat bagi sekolahnya.
Sanksi tersebut sesuai arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat mengunjungi SMPN 2 Jalancagak. Kedatangannya diakui untuk mendamaikan perseteruan antara guru dan orangtua siswa tersebut.
”Sanksi terhadap siswa jangan kekerasan. Sekolah harus tegas, tapi jangan sampai memukul. Risikonya terlalu tinggi. Sanksinya gampang saja, bersihkan sampah, babat rumput, mengecat ruang kelas, bantu guru menulis. Anak-anak yang merokok harus direhabilitasi, bukan digaplok. Semakin digaplok, makin bertambah merokoknya,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar berpesan agar pihak sekolah menerapkan pendidikan karakter seperti di barak militer untuk meningkatkan kedisiplinan para siswa. Gubernur meminta kedua belah pihak bertemu di Gedung Sate Kota Bandung untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan.
Rana menyampaikan ucapan terima kasih kepada para guru PGRI Subang yang telah memberikan dukungan kepadanya. Dia juga mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak melakukan kekerasan fisik untuk menghukum siswa yang melanggar aturan sekolah.
Menurut Rana, zaman sudah berubah begitu pula dengan sistem pendidikan di sekolah. Daripada dipolisikan, dia lebih memilih untuk menyerahkan anak bermasalah kepada orangtuanya untuk dididik secara swadaya atau dipindahkan ke sekolah lain yang lebih baik menurut mereka.
Pentingnya Komunikasi Lintas Generasi dalam Pendidikan
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani Miryam A Sigarlaki, M.Psi.Psikolog menjelaskan, perseteruan guru dan siswa biasanya muncul karena adanya masalah komunikasi. Ada ketidaksinkronan, ekspektasi yang tidak tersampaikan, dan ketidakmampuan menyampaikan pesan secara baik.
Kemudian, hal tersebut diwarnai kemungkinan pengelolaan emosi yang kurang sesuai disadari kedua pihak. Dalam konteks ini, seharusnya orangtua memegang peranan penting, bukan untuk memperkeruh, tapi justru meredakan.
"Orangtua dituntut untuk bisa melihat dan bersikap objektif terhadap suatu permasalahan. Meski sebagai orangtua siswa, tetap harus bisa melihat kedua belah pihak sesuai konteks. Cara menyikapinya, saat berkomunikasi, baiknya secara efektif, yaitu dengar dulu sebelum bereaksi. Soalnya, reaksi itu kerap spontan, jadi responsnya berbeda," ungkap Miryam.
Menurut Miryam, orangtua sebaiknya mendengar cerita anak dengan tenang, mencari fakta objektif, dan tanpa menyalahkan siapa pun. Akan lebih baik jika orangtua bisa membangun komunikasi tiga pihak, yaitu guru, siswa, dan orangtua.
"Konflik pendidikan bisa diselesaikan tanpa merugikan perkembangan anak. Yang lebih baik, anak diajarkan regulasi emosi karena banyak konflik yang terjadi akibat regulasi emosi. Fokus pada solusi, bukan saling menyalahkan," kata Miryam yang merupakan COO Jatidiri App.
Miryam mengungkapkan, generasi alpha tumbuh di lingkungan berbeda dari generasi milenial. Perbedaan persepsi dan karakter kuncinya di generasi alpha ini adalah generasi digital matic total. Jadi, sejak mereka lahir sudah terpapar gawai.
Dampaknya, kata Miryam, antara lain respons cepat, terbiasa dengan informasi yang instan, lebih visual interaktif, lebih ekspresif, dan berani menyuarakan perasaan. Akan tetapi, lebih sensitif terhadap cara berkomunikasi. Misalnya, lebih sensitif terhadap suara yang keras.
Oleh karena itu, generasi Alpha memerlukan dukungan. Sebut saja, hubungan yang hangat dari keluarga atau lingkungannya.
Sementara itu, generasi milenial tumbuh lebih sederhana, minim teknologi, belajar lebih linear, terstruktur, dan dibesarkan dengan pola asuh yang otoritas. Dampaknya, generasi milenial lebih tahan terhadap tekanan dan instruksi tegas.
"Generasi Alpha bukan lebih nakal, tapi cara mereka berkomunikasi dan berinteraksi untuk memahami dirinya berbeda. Maka dari itu, pola pendekatannya juga harus diadaptasi," ucap Miryam.
Perlu Adaptasi dalam Pendidikan
Miryam menyebutkan, guru atau tenaga pendidik harus memperbarui diri karena dunia berubah. Tuntutan bagi seorang guru adalah mengikuti zaman, tanpa menghilangkan nilai-nilai.
Menurut Miryam, cara belajar dan mengajarnya pun berubah. Generasi Alpha lebih cepat meresap dengan metode ceramah, dan harus diselingi dengan pembelajaran interaktif.
Kemudian, kebutuhan emosi meningkat. Alhasil, guru harus memahami regulasi emosi. Dengan pendekatan yang lebih supportif, penting untuk mengenali dan memahami regulasi emosi.
Lalu, yang nyata sekali adalah tantangan digital karena fokus perhatian menjadi pendek, cyber bullying, dan distraksi gadget. Akibatnya, perilaku anak lebih kompleks, karena stimulasi digital, tuntutan sosial, dan akademik.
Yang harus diperbarui guru, pertama kemampuan komunikasi lintas generasi. Kedua, strategi pengelolaan kelas yang positif dan support. Ketiga, pemahaman perkembangan anak masa kini. Keempat, mindfullness dan emosional literasi. Kelima pengusaan teknologi interaktif, jadi siswa paham teknologi, gurunya juga lebih paham.
"Guru tidak dituntut sempurna, tapi perlu belajar terus. Soalnya, karakter peserta didik berbeda jika dibandingkan dengan 10-20 tahun lalu," ujar Miryam yang sedang menempuh studi S-3 Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.