
Peristiwa Guru Tampar Siswa di Subang Viral dan Respons Gubernur Jabar
Sebuah kejadian yang melibatkan seorang guru yang tampaknya melakukan tindakan kekerasan terhadap siswanya kini menjadi sorotan publik. Insiden ini berawal dari video yang diunggah oleh akun Instagram @mangdans_, milik Deni Rukmana (38), ayah dari salah satu siswa yang terlibat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam video tersebut, Deni memprotes tindakan guru IPS yang diduga menampar anaknya usai upacara bendera pada Senin (3/11/2025). Dalam rekaman tersebut, wali murid bernama Deni Rukmana terlihat marah karena tidak terima anaknya ditampar oleh guru di sekolah tersebut. Ia sempat bertemu langsung dengan guru yang melakukan tindakan itu dan meluapkan emosinya.
Insiden ini melibatkan delapan siswa yang diduga berusaha kabur dari sekolah dengan cara melompati pagar. Guru IPS bernama Rana Saputra kemudian menampar para siswa sebagai bentuk pendisiplinan. Setelah kejadian ini viral, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, langsung turun ke sekolah untuk menemui pihak guru dan orang tua murid.
Tanggapan Gubernur Jabar
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, datangi SMP Negeri 2 Jalancagak setelah insiden ini. Ia menyampaikan bahwa tindakan pendisiplinan terhadap siswa tidak boleh dilakukan dengan kekerasan fisik, berapa pun berat pelanggarannya.
"Sanksi terhadap siswa jangan kekerasan. Sekolah harus tegas, tapi jangan sampai memukul. Risikonya terlalu tinggi," ujar Dedi kepada wartawan di SMPN 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, Jumat.
Ia mencontohkan, di daerah lain ada kasus guru madrasah yang dipidana 5 bulan karena memukul siswa. Untuk itu, ia menekankan agar sanksi diberikan dalam bentuk edukatif dan produktif, seperti membersihkan lingkungan sekolah atau memperbaiki fasilitas umum.
"Kita bisa memberikan sanksi dengan cara bersihin sampah, babat rumput, ngecat ruang kelas, bantuin guru nulis. Anak lemah matematika, ya sanksinya latihan matematika setiap hari sampai bisa. Itu mendidik, bukan menyakiti," ujarnya.
Penanganan Khusus bagi Siswa yang Menyimpang
Selain itu, Dedi menyoroti perlunya penanganan khusus bagi siswa yang telah menunjukkan perilaku menyimpang, seperti merokok. Ia menyarankan agar mereka diarahkan ke program rehabilitasi.
"Anak-anak yang merokok harus direhab, bukan digaplok. Semakin digaplok, makin tambah merokoknya. Kebetulan kan ada dana bagi hasil pajak rokok di setiap kabupaten/kota, itu bisa d
Penyesalan dari Guru yang Terlibat
Sementara itu, Rana Saputra, guru yang menjadi perhatian publik akibat video viral tersebut, menyampaikan penyesalan mendalam atas perbuatannya. Ia mengaku menjadikan insiden itu sebagai pembelajaran berharga.
Ia berharap masyarakat lebih menghormati profesi guru dan tidak serta-merta menganggap tindakan pendisiplinan sebagai bentuk kriminal.
"Di sini bukan soal siapa yang salah atau menang, tapi bagaimana muruah guru kembali dihargai. Saya akui kemarin memukul siswa, tapi saya punya ukuran, bukan untuk mencederai," kata Rana.
Rana juga menyatakan akan mengubah cara pemberian sanksi kepada siswa sesuai dengan arahan Gubernur. "Ke depan, sesuai arahan Kang Dedi, sanksi cukup dengan kerja sosial, bersihin toilet, betulin bangku, atau ngecat kelas. Yang penting anaknya disiplin tanpa harus disakiti," ujarnya.
Penjelasan dari Guru
Rana Saputra mengaku telah menampar siswa karena melakukan pelanggaran. "Dia (siswa ZR) pelanggarannya merokok, kemudian berkelahi, menganggu kelas yang lain, dan terakhir loncat dari pagar," bebernya.
Rana Saputra merupakan guru mata pelajaran IPS dan kini mendapat teguran dari Dedi Mulyadi. Ia mengakui kesalahannya dan berkomitmen untuk tidak mengulangi tindakan tersebut.
Pentingnya Kerja Sama antara Orang Tua dan Guru
Dedi Mulyadi menekankan pentingnya kerja sama antara orang tua dan guru dalam mendidik anak. "Ketika di sekolah anak menjadi tanggung jawab guru, ketika di rumah tanggung jawab orang tua, jadi dua-duanya harus saling menghargai," ungkapnya.
Ia meminta orang tua mempercayakan pendidikan anak ke guru selama di sekolah. "Kalau gurunya agak keras sedikit, nah orang tuanya juga harus menyadari kenapa kekerasan itu terjadi."
"Tetapi guru juga harus menyadari tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan," tandasnya.