Guru Tampar Siswa Diwajibkan Ganti Rugi Rp150 Ribu, Dedi Mulyadi Siapkan Pengacara

admin.aiotrade 06 Nov 2025 3 menit 15x dilihat
Guru Tampar Siswa Diwajibkan Ganti Rugi Rp150 Ribu, Dedi Mulyadi Siapkan Pengacara

Peristiwa Guru Menampar Siswa di Subang

\n

Rana Saputra, seorang guru yang menampar siswanya di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengakui bahwa dirinya dimintai uang ganti rugi sebesar Rp150 ribu. Uang tersebut diberikan sebagai pengganti biaya visum yang dilakukan oleh siswanya setelah ditampar. Namun, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta Rana untuk tidak memenuhi tuntutan tersebut.

\n

Dedi Mulyadi bahkan menyatakan siap menyiapkan pengacara untuk membantu Rana jika kasus ini dibawa ke ranah hukum. Hal ini dilakukan karena ia merasa bahwa jika setiap guru harus memberikan ganti rugi terhadap siswa yang melanggar aturan, maka akan berdampak buruk pada cara mendidik para siswa.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
\n

Awal Kejadian

\n

Guru SMP Negeri 2 Jalancagak, Kabupaten Subang, Rana Saputra menampar siswa berinisial ZR (16) karena ketahuan meloncat pagar yang baru saja selesai dibangun. Orang tua ZR yang tidak terima kemudian datang ke sekolah dan terjadi ketegangan antara ZR dan Rana. Orang tua ZR merekam kejadian tersebut dan mengunggahnya ke media sosial hingga viral.

\n

Di sekolah, ZR dikenal sebagai siswa yang bermasalah. Meski sudah beberapa kali dibina, tabiat ZR tetap tidak berubah. Pelanggaran yang dilakukannya termasuk merokok di sekolah hingga berkelahi. Terakhir, ZR meloncat dari pagar yang baru selesai dibangun, diduga hendak membolos sekolah. Aksi itu akhirnya membuat Rana geram hingga berujung menampar ZR.

\n

Pembenaran dan Mediasi

\n

Meskipun telah menampar ZR, Rana telah mengakui kesalahannya di depan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia juga telah meminta maaf kepada orang tua ZR setelah pihak sekolah menggelar mediasi, Selasa (4/11/2025). Namun, malam hari setelah mediasi, Rana tiba-tiba dihubungi oleh orang tua ZR yang masih meminta penyelesaian secara kekeluargaan, meski telah ada kesepakatan damai sebelumnya.

\n

Rana menjelaskan bahwa setelah penamparan, ZR tidak mengalami luka atau memar. Ia bahkan langsung kembali ke sekolah keesokan harinya. Meskipun demikian, Rana bersedia mengganti uang pengobatan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat dengan orang tua ZR.

\n

Penolakan Gubernur

\n

Dedi Mulyadi melihat isi perjanjian tersebut dan meminta Rana untuk tidak memberikan ganti rugi. Menurutnya, jika setiap siswa yang akan dididik di sekolah, kemudian guru selalu menghadapi permasalahan harus ganti rugi materil maupun formil, hal itu akan berdampak pada cara mendidik.

\n

Menurut Dedi Mulyadi, jika setiap siswa yang akan dididik oleh gurunya, kemudian gurunya selalu menghadapi harus ganti rugi, baik materil maupun formil, nanti guru akan cuek semuanya pada muridnya. Ia juga menegaskan bahwa gurunya tidak perlu memberikan ganti rugi.

\n

Tanggapan dari Sekolah

\n

Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Sarana dan Prasarana SMP Negeri 2 Jalancagak, Yaumi Basuki, menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula saat Rana berupaya menegakkan kedisiplinan. Pasalnya, ZR dan tujuh siswa lainnya kedapatan meloncat pagar sekolah untuk bolos. Lebih lagi, pagar tersebut baru selesai dibangun dan pihak sekolah telah mewanti-wanti agar fasilitas itu dijaga.

\n

Namun, dalam kasus ini, pihak sekolah tidak membenarkan adanya kekerasan fisik yang dilakukan Rana terhadap para siswa tersebut. Sebab, sebelumnya pagar mengalami kerusakan disebut karena ulah siswa. Namun, dalam kasus ini, pihak sekolah tidak membenarkan adanya kekerasan fisik yang dilakukan Rana terhadap para siswa tersebut.

\n

Klarifikasi Orang Tua ZR

\n

Sementara itu, orang tua ZR, Deni Rukmana (38), menjelaskan maksud dan tujuannya mendatangi sekolah usai anaknya ditampar guru. Ia menegaskan, kedatangannya ke sekolah hanya untuk mengklarifikasi secara baik-baik. Namun, menurutnya, situasi memanas karena sang guru merasa tidak terima atas pertanyaannya.

\n

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan