
aiotrade
- Pemerintah memberikan bantuan khusus kepada guru yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan bahwa sebanyak 16.500 guru akan menerima insentif sebesar Rp 2 juta per orang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Yang kami sampaikan sebanyak 16.500 guru yang menerima bantuan, kemudian buat masing-masing menerima bantuan Rp 2 juta per guru," ujar Mu'ti dalam sebuah pernyataan.
Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 35 miliar untuk tunjangan khusus bagi guru yang terkena dampak bencana di wilayah Sumatera. Anggaran tersebut saat ini masih dalam proses revisi dari anggaran tahun 2025.
Selain itu, Mu'ti juga menjelaskan berbagai bentuk bantuan yang telah diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kepada para korban bencana. Beberapa di antaranya adalah:
- Bantuan barang seperti 148 tenda ruang kelas darurat, 15.000 perlengkapan sekolah atau school kit, 7.500 bingkisan anak, 2.000 pasang sepatu, 700 family kit, serta 65.000 buku teks dan non teks.
- Bantuan dalam bentuk uang sebesar Rp 21,1 miliar yang berasal dari anggaran eksisting.
Bantuan-bantuan ini bertujuan untuk membantu para guru dan siswa yang terkena dampak bencana agar dapat melanjutkan aktivitas pendidikan dengan lebih baik.
Ada yang lakukan pembelajaran secara sebagian atau penuh
Mu'ti menambahkan bahwa beberapa daerah terdampak bencana di Sumatera sudah mulai melakukan pembelajaran, baik secara sebagian maupun penuh.
Terkait hal ini, pihak Kemendikdasmen telah menyiapkan skenario kurikulum khusus untuk menanggulangi dampak bencana. Skenario ini mencakup beberapa tahapan:
- Dalam 0–3 bulan pertama, diberlakukan tanggap darurat bencana dengan penyesuaian kurikulum minimum esensial. Kurikulum disederhanakan menjadi kompetensi esensial seperti literasi dasar, numerasi dasar, kesehatan, keselamatan diri, dukungan psikososial, dan informasi mitigasi bencana.
- Pengembangan bahan belajar darurat.
- Metode pembelajaran adaptif.
- Dukungan psikososial yang terintegrasi dalam pembelajaran.
- Asesmen yang sangat sederhana.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan para siswa dan guru tetap dapat menjalani proses belajar mengajar meskipun dalam situasi darurat.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan situasi dan siap memberikan bantuan tambahan jika diperlukan. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas pendidikan dan kesejahteraan para guru serta siswa yang terkena dampak bencana.