Gus Yahya, Ulama NU yang Berwibawa dalam Mengajar Agama

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 16x dilihat
Gus Yahya, Ulama NU yang Berwibawa dalam Mengajar Agama
Gus Yahya, Ulama NU yang Berwibawa dalam Mengajar Agama

Peran Ulama NU dalam Mengajarkan Agama

Ulama Nahdlatul Ulama (NU) memiliki peran penting dalam mengajarkan agama. Hal ini didasari oleh keilmuan mereka yang diperoleh melalui sanad yang muttasil, yaitu sanad yang terus menerus hingga kepada Nabi Muhammad Shalallahu allaihi wassalam. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, dalam acara Lirboyo Bersholawat yang digelar dalam rangka Mensyukuri Hari Santri 2025 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Gus Yahya menyampaikan pesan Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, bahwa para ulama telah mengambil ilmu dari orang-orang sebelumnya dengan sanad yang bersambung hingga kepada mereka. Ia menegaskan bahwa para ulama NU adalah gudang-gudangnya ilmu dan pintu-pintunya ilmu. “Janganlah orang-orang masuk rumah kecuali dari pintunya. Barangsiapa masuk rumah-rumah tidak dari pintu, dari jendela, dari genteng, dari bobol dinding, dia dinamai maling,” ujar Gus Yahya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Ditegaskan Gus Yahya, para santri diajak untuk memahami pentingnya menuntut ilmu agama dari sumber yang benar. “Kita memilih menjadi santri karena kita ingin menjalankan agama tidak seperti maling. Kita ingin memasuki agama dari pintu-pintunya. Ilmu, agama yang kita pelajari ini, adalah agama dari Nabi Muhammad saw,” tegas Gus Yahya.

Ajaran yang Lurus dan Otentik

Gus Yahya kembali menegaskan bahwa seluruh ajaran yang diajarkan oleh para masyayikh dan kiai NU merupakan ajaran yang lurus dan otentik. Sebagaimana ajaran yang disampaikan dan dibawa oleh Nabi besar Muhammad Shalallahu allaihi wassalam tanpa penyelewengan hingga akhir zaman.

“Kita tidak akan pernah berkecil hati. Apa pun yang dikatakan orang, kita tidak akan pernah kendor. Semangat kita menjadi santri karena Allah swt telah menjanjikan walaupun orang-orang tidak suka kepada pesantren, NU, petunjuk, hidayah, nilai-nilai agama yang diajarkan ulama dijanjikan akan menjadi nyata di tengah-tengah dunia,” ujar Gus Yahya.

Ia juga menambahkan, “Kita semua sudah memilih menjadi santri. Apa pun yang dikatakan orang untuk menjelek-jelekkan santri, merendahkan pesantren, menghina kiai, selama-lamanya kita tetap santri. Santri adalah jaminan kemuliaan masa depan bagi negara Indonesia.”

Semangat dan Kesetiaan kepada Pesantren

Dalam sambutannya, Gus Yahya menyerukan semangat dan kesetiaan kepada pesantren, Nahdlatul Ulama (NU), dan Indonesia. “Santri? Siap bela Lirboyo? Siap bela pesantren? Siap bela NU? Dan siap untuk membela Indonesia?” teriak Gus Yahya yang dijawab dengan gemuruh para santri, “Siap…!”

“Alhamdulillah, tidak ada lagi yang perlu dikatakan,” sambut Gus Yahya.

Tiga Elemen Utama dalam Menjadi Santri

Dalam sambutannya, Gus Yahya juga mengingatkan tiga elemen utama yang harus dimiliki para santri. Yaitu, thalabul ‘ilmi, tazkiyatun nafs, dan jihad fi sabilillah.

“Menjadi santri itu adalah sa’yun syamil, perjuangan yang utuh yang menggabungkan sekurang-kurangnya tiga elemen utama, thalabul ‘ilmi, tazkiyatun nafs, dan jihad fi sabilillah. Menjadi santri itu kalau dia mau menggerakkan dirinya untuk thalabul ‘ilmi, mencari ilmu—dulu disebut menuntut ilmu, tapi kita khawatir nanti dianggap ilmu ini punya salah sehingga dituntut-tuntut, maka kita maknai dengan mencari ilmu, tazkiyatun nafs, membersihkan jiwa,” kata Gus Yahya.

Karena, lebih dari sekadar mereka yang belajar di dalam lingkungan lembaga-lembaga sekuler atau di dalam lingkungan lembaga-lembaga pendidikan yang dikatakan formal atau lebih modern. Santri harus belajar tidak hanya dengan mengisi akalnya saja, tapi juga diiringi dengan riyadlah untuk membersihkan jiwanya.

“Jadi kalau cuma belajar dengan menyerap ilmu pengetahuan saja, itu belum santri. Santri itu belajarnya dibarengi dengan tirakat. Ini karena dedikasi total kepada ilmu sehingga ilmu itu betul-betul diperjuangkan secara lahir dan batin.

Dan, elemen utama yang ketiga, jelas adalah jihad fi sabillah, “Karena seluruh keberadaan kita semua sebagai makhluk ini adalah untuk menghamba kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan puncak dari penghambaan itu adalah jihad fī sabilillah,” kata Gus Yahya.


Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan