Hacker Korea Utara Raup Rp 33 Triliun Kripto

admin.aiotrade 14 Nov 2025 3 menit 25x dilihat
Hacker Korea Utara Raup Rp 33 Triliun Kripto

Penyelundupan Aset Kripto oleh Kelompok Terkait Korea Utara Mencapai Rekor Tertinggi

Firma analisis blockchain Elliptic melaporkan bahwa kelompok peretas yang terkait dengan Korea Utara telah mencuri lebih dari US$ 2 miliar atau sekitar Rp 33 triliun dalam aset kripto sepanjang tahun ini. Angka ini menjadi rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir, menunjukkan meningkatnya aktivitas kejahatan siber yang terkait dengan negara tersebut.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Secara keseluruhan, total kerugian akibat pencurian aset kripto oleh kelompok peretas yang terkait Korea Utara mencapai lebih dari US$ 6 miliar atau sekitar Rp 100 triliun. Menurut laporan PBB dan berbagai lembaga pemerintah, dana hasil pencurian ini diyakini menjadi sumber pendanaan penting bagi program senjata nuklir dan pengembangan rudal balistik Korea Utara.

Elliptic menyatakan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari angka yang dilaporkan. Namun, atribusi serangan siber ke Korea Utara tidak selalu mudah dilakukan karena analisisnya didasarkan pada pola pencucian dana, data blockchain, serta informasi intelijen. Beberapa pencurian memiliki ciri khas aktivitas Korea Utara, tetapi tidak cukup bukti untuk memastikan, sementara kasus lainnya mungkin belum dilaporkan.

Kasus Pencurian Terbesar Tahun Ini

Kasus pencurian terbesar tahun ini adalah peretasan yang menimpa bursa kripto Bybit pada Februari, dengan kerugian mencapai US$ 1,46 miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Selain itu, serangan lain yang dikaitkan dengan Korea Utara meliputi LND.fi, WOO X, dan Seedify. Elliptic juga menghubungkan lebih dari 30 peretasan tambahan ke kelompok tersebut sepanjang 2025.

Total pencurian tahun ini hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu dan melampaui rekor sebelumnya pada 2022 yang mencapai US$ 1,35 miliar atau sekitar Rp 22 triliun. Temuan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam ketergantungan Korea Utara pada pencurian berbasis siber.

Perubahan Strategi Serangan

Elliptic mencatat bahwa sebagian besar serangan pada 2025 dilakukan melalui rekayasa sosial, bukan melalui eksploitasi teknis seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan pergeseran strategi dari metode tradisional ke pendekatan yang lebih berbasis manusia. Individu kaya dan memiliki aset tinggi semakin menjadi target, seiring dengan kenaikan harga kripto dan lemahnya perlindungan keamanan institusi.

Tantangan dalam Mengidentifikasi Pelaku

Meski ada indikasi kuat bahwa kelompok peretas terkait Korea Utara bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut, identifikasi pelaku tetap menjadi tantangan. Analisis dilakukan dengan memperhatikan pola transaksi di blockchain, serta data intelijen yang tersedia. Namun, adanya kemungkinan serangan yang tidak terdeteksi atau tidak dilaporkan membuat situasi semakin kompleks.

Dampak pada Keamanan Digital

Peningkatan aktivitas peretasan ini memberi peringatan tentang pentingnya meningkatkan keamanan digital, terutama bagi institusi finansial dan bursa kripto. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan meningkatnya nilai aset digital, risiko serangan siber juga semakin meningkat. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini menjadi sangat penting.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan