
Penjualan Saham BUVA oleh Happy Hapsoro
Pemegang saham utama PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), Happy Hapsoro, dilaporkan menjual sebanyak 709,82 juta saham BUVA. Aksi penjualan ini memberikan dana sebesar Rp 578,50 miliar kepada Happy Hapsoro.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), kepemilikan saham Happy Hapsoro di BUVA berkurang dari 820,67 juta saham menjadi 110,84 juta saham setelah melakukan aksi lepas saham tersebut. Persentase hak suaranya juga mengalami penurunan dari 3,99% menjadi 0,54%.
Tujuan dari transaksi ini adalah untuk merealisasikan keuntungan dan menyelaraskan portofolio investasi. Hal ini disampaikan oleh Happy Hapsoro dalam keterbukaan informasi BEI.
Meskipun kepemilikan saham pribadi Happy Hapsoro terhadap BUVA mengalami penurunan signifikan, ia masih mempertahankan kendali atas perusahaan perhotelan tersebut melalui PT Nusantara Utama Investama. Berdasarkan laporan registrasi pemegang efek per 30 September 2025, Nusantara Utama Investama tercatat sebagai pemegang saham mayoritas BUVA dengan porsi 67,02%.
Rencana Ekspansi BUVA di Sektor Perhotelan
BUVA juga mengungkapkan rencana ekspansi besar di sektor perhotelan. Perseroan tengah menyiapkan akuisisi mayoritas saham anak usaha Summarecon Agung Tbk (SMRA) senilai Rp 175 miliar.
Dalam surat resmi kepada BEI, BUVA akan mengambil alih 55% saham PT Bukit Permai Properti (BPP) dari dua entitas anak PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), yaitu PT Summarecon Bali Indah dan PT Bali Indah Development. Akuisisi ini akan dilakukan seiring dengan rencana BUVA melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue.
“Dengan pengambilalihan mayoritas saham BPP, maka Perseroan akan menjadi Pengendali BPP,” tulis manajemen BUVA dalam keterbukaan informasi yang diteken Direktur Utama BUVA Satrio.
BPP diketahui memiliki aset hotel dan lahan premium di kawasan Pecatu, Bali. Langkah ini menjadi bagian dari rencana strategis BUVA memperkuat portofolio hotel mewah di destinasi wisata unggulan.
Strategi Sinergi Operasional
Strategi sinergi operasional yang akan diterapkan Perseroan antara hotel-hotel eksisting dan aset yang diakuisisi melalui BPP adalah integrasi dalam aspek manajemen, pemasaran, dan operasional. Manajemen BUVA menilai bahwa kawasan Pecatu merupakan kawasan wisata dengan pasar premium atau luxury travellers dengan menyajikan pengalaman berlibur dan pelayanan personalized.
Investasi infrastruktur akan mendukung sinergi dengan anak usaha SMRA untuk menciptakan nilai tambah serta memperkuat posisi Perseroan di industri perhotelan. Meski begitu, manajemen BUVA belum bisa menjelaskan rencana pengembangan di kawasan Pecatu tersebut secara rinci.