Harga batubara turun di bawah US$ 110 per ton akibat permintaan China yang menurun

Harga batubara turun di bawah US$ 110 per ton akibat permintaan China yang menurun

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Harga batubara turun di bawah US$ 110 per ton akibat permintaan China yang menurun menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Harga Batubara Kembali Melemah di Bawah US$ 110 Per Ton

Harga batubara kembali mengalami penurunan dalam sepekan terakhir, turun ke bawah level US$ 110 per ton. Berdasarkan data dari Trading Economics, harga batubara pada Selasa (16/12/2025) mencapai US$ 108,60 per ton, dengan penurunan sebesar 1,72% secara mingguan.

Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah melemahnya permintaan dari China. Negara tersebut merupakan pasar utama bagi batubara, namun saat ini permintaan sedang mengalami tekanan akibat perubahan bauran energi dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyatakan bahwa penurunan harga mencerminkan pergeseran keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar China. Ia menjelaskan bahwa perlambatan pembangkit listrik berbasis termal semakin terlihat seiring meningkatnya produksi energi angin dan surya yang tumbuh lebih dari 20% secara tahunan.

Selain itu, stok batubara di pembangkit listrik China masih tinggi, diperkirakan mencapai sekitar 230 juta ton. Hal ini memberikan tekanan tambahan terhadap harga batubara.

Tekanan Ekonomi dan Energi Terbarukan

Data ekonomi China yang tidak menggembirakan juga menjadi faktor penurunan harga. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa lemahnya penjualan ritel dan produksi industri membatasi ruang penguatan harga batubara.

Menurut Lukman, dengan kondisi makroekonomi saat ini, harga batubara akan sulit menembus level US$ 110. Faktor utamanya tetap China, sementara percepatan transisi menuju energi terbarukan juga menjadi isu penting.

Prospek Harga Batubara Hingga Awal 2026

Prospek harga batubara hingga awal 2026 diperkirakan masih berada di bawah tekanan. Sutopo menilai bahwa transisi energi bersifat struktural dan jangka panjang. Sementara itu, pemulihan ekonomi China, khususnya di sektor properti, masih berjalan lambat.

Meski terdapat peluang kenaikan musiman saat puncak musim dingin, dampaknya dinilai terbatas karena tingginya tingkat persediaan. Sutopo memperkirakan harga batubara akan bergerak terbatas di bawah US$ 110 per ton hingga awal 2026, dengan kisaran bawah di level US$ 95–US$ 105 per ton. Potensi kenaikan sementara diperkirakan tidak melampaui US$ 115–US$ 120 per ton.

Lukman memproyeksikan harga batubara pada awal 2026 berada di kisaran US$ 100–US$ 105 per ton. Di tengah volatilitas harga, investor disarankan tetap selektif.

Strategi Investasi untuk Pelaku Pasar

Sutopo menyarankan pelaku pasar saham batubara fokus pada efisiensi biaya dan diversifikasi pendapatan, serta melakukan aksi ambil untung saat harga mendekati area resistensi. Senada dengan pandangan Sutopo, Lukman menilai strategi sell on rally masih relevan, seiring tren harga yang cenderung menurun dan meningkatnya risiko dari pergeseran global menuju energi hijau.

Dengan situasi seperti ini, para pelaku pasar perlu memantau perkembangan ekonomi dan politik global, serta memperhatikan perubahan dalam kebijakan energi negara-negara besar.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Harga batubara turun di bawah US$ 110 per ton akibat permintaan China yang menurun ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar