Harga CPO Mencapai US$ 1.300 per Ton, Analis Perhatikan Dampak B50

admin.aiotrade 15 Nov 2025 3 menit 9x dilihat
Harga CPO Mencapai US$ 1.300 per Ton, Analis Perhatikan Dampak B50

Proyeksi Harga CPO Global pada Tahun Mendatang

Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global diperkirakan akan tetap berada di atas US$ 1.000 per ton pada tahun depan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan konsumsi yang melampaui produksi. Bahkan, jika pemerintah menerapkan program mandatori B50, harga CPO bisa menembus US$ 1.300 per ton pada paruh kedua 2026.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat bahwa rata-rata harga CPO global pada Januari–Oktober 2025 mencapai US$ 1.217 per ton. Meskipun diprediksi sedikit menurun pada akhir tahun seiring peningkatan produksi domestik, harga CPO tetap tinggi hingga kuartal pertama tahun depan, dengan rentang antara US$ 1.050 sampai US$ 1.125 per ton.

Menurut Ketua Bidang Luar Negeri Gapki M. Fadhil Hasan, harga CPO ditentukan oleh enam faktor utama dari sisi pasokan dan permintaan. Dari sisi permintaan, ada empat faktor yang dapat memengaruhi harga CPO global, yaitu:

  • Perjanjian perdagangan resiprokal Amerika Serikat
  • Undang-Undang Deforestasi Uni Eropa (EUDR)
  • Isu keberlanjutan di Cina
  • Pajak impor India

Sementara itu, dari sisi pasokan, dua faktor yang berpotensi mengganggu suplai CPO Indonesia ke pasar global adalah program mandatori B50 dan penyitaan lahan kebun sawit eksisting oleh pemerintah. Gapki mencatat total kebun yang telah disita mencapai 1,1 juta hektare.

Fadhil menilai kombinasi faktor-faktor tersebut membuat pasar CPO global semakin ketat akibat pertumbuhan permintaan yang tidak diimbangi produksi. Ia memprediksi harga CPO hingga akhir paruh pertama tahun depan akan berada di rentang US$ 1.050 sampai US$ 1.150 per ton.

Proyeksi Analis CPO Global

Direktur Godrej International Ltd, Dorab Mistry, memberikan proyeksi harga CPO yang lebih tinggi. Menurutnya, harga CPO global dapat mencapai RM 5.000 atau sekitar US$ 1.200 per ton pada November–Desember 2025, dan bertahan hingga paruh pertama tahun berikutnya.

Ia menjelaskan bahwa pada 2026 produksi CPO global hanya akan naik sekitar 4,2 juta ton, dipengaruhi minimnya peremajaan sawit rakyat di Indonesia. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa luas kebun sawit yang menjalani program peremajaan pada 2025 hanya 23.271 hektare dari target 120.000 hektare, sementara realisasi 2017–2025 hanya mencapai 399.996 hektare atau 32% dari target 1,26 juta hektare.

Pada saat yang sama, permintaan global diperkirakan meningkat 6 juta ton, dengan 60% di antaranya berasal dari kebutuhan energi, termasuk tambahan serapan sekitar 2 juta ton CPO dari program B50. Jika pemerintah Indonesia menerapkan mandatori B50 atau melanjutkan penyitaan lahan, harga CPO global pasti akan mencapai RM 5.500 atau sekitar US$ 1.300 per ton.

Proyeksi Harga CPO yang Lebih Agresif

Sementara itu, Direktur Eksekutif Oil World Thomas Mielke menyampaikan proyeksi harga yang lebih agresif. Ia memperkirakan harga CPO global dapat mencapai US$ 1.260 per ton antara Desember 2025 hingga Mei 2026.

Menurut Mielke, dua momentum akan menjadi pendorong harga CPO, yakni pengumuman kebijakan biodiesel di Amerika Serikat serta kepastian implementasi B50 di Indonesia. Harga CPO global juga akan bergerak sejalan dengan harga minyak kedelai di pasar ekspor.

Ia mengasumsikan bahwa program biodiesel di Amerika Serikat akan diumumkan dalam 3–4 pekan ke depan. Momentum berikutnya adalah keputusan pemerintah Indonesia terkait mandatori B50, yang diperkirakan akan diumumkan pada pertengahan tahun depan.

Selain faktor kebijakan, Mielke menilai harga CPO saat ini berada di bawah nilai intrinsiknya atau undervalued, sehingga berpotensi memasuki tren bullish pada 2026. Ia memprediksi bahwa harga CPO di Indonesia akan menyentuh US$ 1.300 per ton dengan asumsi peningkatan campuran biodiesel di Indonesia diimplementasikan sebelum pertengahan 2026.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan