
Harga Emas Batangan PT Antam Kembali Naik
Harga emas batangan produksi PT Antam Tbk kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Senin, menandai adanya geliat baru di tengah sentimen global yang masih gelisah. Logam mulia yang selama ini menjadi jangkar bagi investor ritel Indonesia itu naik sebesar Rp8.000 menjadi Rp2.307.000 per gram. Lonjakan kecil ini sering kali dibaca pasar sebagai tanda awal dari gejolak yang lebih besar.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada harga jual, tetapi juga pada nilai buyback. Antam mencatat bahwa harga pembelian kembali emas meningkat menjadi Rp2.172.000 per gram, naik dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp2.161.000. Lonjakan ini mempersempit jarak antara harga beli dan jual, sebuah pola yang biasanya menunjukkan permintaan kuat di tingkat ritel.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Jika emas sering disebut sebagai "tempat berlindung terakhir" bagi kekhawatiran ekonomi, maka pergerakan harga hari ini menambah lapisan kecemasan baru. Kekhawatiran terhadap prospek inflasi global, gejolak geopolitik, dan arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia ikut mendorong minat investor dalam negeri terhadap aset konservatif.
Antam menawarkan emas mulai dari pecahan 0,5 gram hingga 1.000 gram, dengan harga yang bergerak serentak mengikuti tren harian. Pecahan terkecil dibanderol seharga Rp1.203.500, sementara emas seberat satu kilogram dijual dengan harga Rp2.247.600.000. Data harian ini, meski rutin diterbitkan, kini kembali menjadi sorotan ketika konsumen mencari pijakan yang lebih pasti di tengah ekonomi yang goyah.
Namun, pembelian emas di Indonesia tidak sepenuhnya sederhana. Sesuai PMK Nomor 34/PMK.10/2017, setiap transaksi dikenai Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Pembeli dengan NPWP harus menanggung tarif 0,45 persen, sedangkan mereka yang tidak memiliki NPWP menanggung dua kali lipatnya. Aturan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kepatuhan pajak, tetapi di mata sebagian investor ritel, pungutan ini menjadi biaya tambahan yang wajib diperhitungkan.
Pada sisi buyback, pajak juga ikut menyesuaikan. Untuk transaksi penjualan kembali emas dengan nilai di atas Rp10 juta, tarif PPh 22 sebesar 1,5 persen dikenakan bagi pemilik NPWP, dan 3 persen bagi yang tidak memilikinya. Pungutan dipotong langsung dari nilai yang diterima pelanggan, sebuah detail kecil yang sering mengejutkan pembeli pemula.
Meski demikian, pajak bukanlah penghalang bagi sebagian besar investor yang melihat emas sebagai pegangan jangka panjang. Dalam beberapa bulan terakhir, tren kenaikan permintaan ritel tampak stabil. Analis melihat bahwa pola ini sejalan dengan kecenderungan rumah tangga untuk mengamankan tabungan mereka dari tekanan inflasi yang mulai merayap sejak semester awal 2025.
Kenaikan harga emas hari ini juga muncul hanya beberapa pekan setelah Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi September yang disokong oleh kenaikan harga komoditas, termasuk emas. Bagi pemerintah, dinamika ini menjadi tantangan ganda: menjaga stabilitas harga sembako sekaligus memantau lompatan harga logam mulia yang dapat mempengaruhi psikologi pasar.
Di sisi lain, Antam terus menjadi barometer utama untuk pasar emas domestik. Transparansi harga harian dan cakupan distribusi nasionalnya membuat perusahaan ini tetap menjadi rujukan. Dalam suasana ekonomi yang berubah cepat, pergerakan harga di laman Logam Mulia kerap menjadi pertanda awal sebelum pasar lain bereaksi.
Pada akhirnya, kenaikan harga emas awal pekan ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap logam mulia tetap kokoh. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik, emas kembali bersinar sebagai aset yang memberi rasa aman. Dan selama ketegangan makroekonomi belum mereda, para analis memperkirakan kilau itu akan bertahan lebih lama.