Harga Emas dan Perak Melonjak, Investor Beralih ke Aset Aman

admin.aiotrade 09 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Harga Emas dan Perak Melonjak, Investor Beralih ke Aset Aman

Harga Emas Dunia Melampaui 4.000 Dolar AS per Ounce untuk Pertama Kalinya

Harga emas dunia mencatat rekor baru pada Rabu (8/10/2025), melampaui ambang batas 4.000 dolar AS per ounce untuk pertama kalinya. Kenaikan ini menunjukkan kekuatan reli yang terus berlanjut, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, serta ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang mendorong investor beralih ke aset aman.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pada pukul 13.01 waktu setempat, harga emas spot naik sebesar 1,9 persen menjadi 4.057,12 dolar AS per ounce. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga menguat 1,9 persen menjadi 4.079,40 dolar AS per ounce. Peningkatan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap logam mulia semakin tinggi.

Tidak hanya emas, harga perak juga mengalami lonjakan signifikan. Perak naik 3,2 persen menjadi 49,35 dolar AS per ounce, setelah sempat mencapai rekor tertinggi di 49,57 dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia sedang dalam kondisi yang sangat positif.

Matthew Piggott, Direktur Emas dan Perak di Metals Focus, mengatakan bahwa kekuatan emas mencerminkan kondisi makroekonomi dan geopolitik yang sangat positif bagi aset aman. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap aset lindung nilai tradisional lainnya juga turut memengaruhi tren ini.

Emas, yang dikenal sebagai penyimpan nilai saat terjadi ketidakstabilan, kini naik 52 persen sejak awal tahun. Setelah mencatat kenaikan 27 persen sepanjang 2024, logam mulia ini menjadi salah satu aset dengan performa terbaik pada 2025. Emas mengungguli pasar saham global, bitcoin, serta mengimbangi pelemahan dollar AS dan harga minyak mentah.

Perak juga mengalami kenaikan sebesar 71 persen sepanjang tahun ini, dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama serta kondisi pasar fisik yang semakin ketat. Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Bank, menjelaskan bahwa pasar perak terus mengetat, dengan meningkatnya biaya sewa dan permintaan musiman dari India. Reli ini juga didukung oleh arus masuk besar ke produk ETP.

Reli logam mulia ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, ketidakpastian politik dan ekonomi global, pembelian besar oleh bank sentral, arus masuk dana ke ETF, serta pelemahan dollar AS. Matthew Piggott menambahkan bahwa dengan faktor-faktor ini yang masih bertahan hingga 2026, ia tidak melihat adanya pemicu yang dapat menahan kenaikan emas. Ia memperkirakan harga emas akan terus naik dan mencoba menembus 5.000 dolar AS per ounce.

Krisis politik di berbagai belahan dunia juga memperkuat minat investor terhadap emas. Konflik di Timur Tengah dan perang di Ukraina mendorong permintaan terhadap logam mulia, sementara gejolak politik di Prancis dan Jepang menambah arus ke aset aman ini.

Data World Gold Council mencatat, aliran dana ke ETF emas global telah mencapai 64 miliar dolar AS sejak awal tahun, dengan rekor 17,3 miliar dollar AS pada September 2025. Selain emas dan perak, platinum naik 2,8 persen menjadi 1.660,78 dolar AS per ounce, sementara palladium melonjak 7,2 persen ke 1.434,25 dollar AS—tertinggi sejak Juni 2023.

Bank HSBC pada Rabu (8/10/2025) juga menaikkan proyeksi harga rata-rata perak menjadi 38,56 dolar AS per ounce untuk 2025 dan 44,50 dolar AS untuk 2026, seiring ekspektasi harga emas yang tinggi dan permintaan investor yang meningkat.

Sementara itu, indeks kekuatan relatif (RSI) emas kini berada di angka 88, menandakan kondisi overbought atau jenuh beli. Kenaikan harga emas ini juga terjadi di tengah shutdown pemerintah AS yang memasuki hari kedelapan, sehingga menunda rilis data ekonomi penting.

Pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan berikutnya dan kembali melakukan hal serupa pada Desember.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan