
Harga emas kembali mengalami ketidakstabilan akibat perkembangan terkini mengenai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar keuangan kini berada dalam situasi yang membingungkan, meskipun sebelumnya emas dianggap sebagai aset aman selama masa konflik.
Menurut laporan dari Bloomberg, pada Senin (27/4), harga emas batangan turun sebesar 0,6 persen, mendekati USD 4.680 per ons. Hal ini memperpanjang penurunan sebesar 2,5 persen pada pekan sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk keputusan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana perjalanan utusannya untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan Iran di Islamabad.
Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan melakukan negosiasi selama masih ada ancaman dari pihak AS. Selain itu, kenaikan harga minyak juga memberi tekanan tambahan terhadap pasar emas. Jalur vital Selat Hormuz dilaporkan hampir tidak dapat dilalui akibat blokade dari kedua negara.
Gangguan pasokan energi ini meningkatkan risiko inflasi global dan membuat kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan mungkin menaikkannya. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena emas tidak memberikan imbal hasil langsung. Sejak perang dimulai pada akhir Februari, harga emas telah turun sekitar 11 persen.
Nicky Shiels, kepala riset dan strategi logam di MKS PAMP SA, menjelaskan bahwa kondisi pasar emas saat ini masih sangat tidak menentu. "Emas berada di wilayah teknikal tanpa arah yang jelas. Keyakinan pasar tipis, alokasi besar masih tertahan, permintaan fisik beragam, dan kata 'tersesat' mungkin paling jujur untuk menggambarkan kondisi pasar saat ini," ujarnya.

Pelaku pasar juga sedang memantau arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve. Jaksa AS Jeanine Pirro disebut menghentikan penyelidikan terkait pembengkakan biaya di bank sentral, membuka jalan bagi Kevin Warsh sebagai kandidat ketua berikutnya. Investor meyakini bahwa Warsh tidak akan memangkas suku bunga secara agresif seperti yang diinginkan Trump, melainkan akan mengambil pendekatan bertahap.
Di kawasan Timur Tengah, penutupan efektif Selat Hormuz telah mengganggu sekitar seperlima aliran minyak dunia. Meski gencatan senjata sempat berlangsung selama akhir pekan, Trump meminta utusannya, Jared Kushner dan Steve Witkoff, untuk membatalkan kunjungan ke Pakistan yang berperan sebagai mediator.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan masuk dalam negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade. Menurut Shiels, ketidakpastian terkait status gencatan senjata membuat pasar sulit bergerak pasti. Menurutnya, pola pikir pasar telah dibentuk oleh kabar tentang jadi atau batalnya gencatan senjata.
"Emas kini berperilaku seperti aset berisiko, berkorelasi negatif dengan minyak, sedikit positif dengan saham, tetapi bukan representasi yang baik untuk keduanya, sehingga minat untuk membeli di bawah USD 5.000 sangat terbatas," jelasnya.
Pada perdagangan pagi di Asia, harga emas spot turun 0,5 persen menjadi USD 4.685,14 per ons pada pukul 06.40 waktu Singapura. Harga perak melemah 0,8 persen menjadi USD 75,10 per ons, sementara platinum dan palladium juga ikut turun. Indeks Dolar Spot Bloomberg, yang mengukur kekuatan dolar AS, naik 0,1 persen setelah menguat 0,3 persen pada pekan sebelumnya.