
Emas Kembali Rekor Tertinggi, Investor Terus Berlomba
Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi pada akhir pekan lalu. Peningkatan ini terjadi karena aksi beli dari para investor, seiring dengan meredanya ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta harapan akan berakhirnya penutupan pemerintahan AS.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Berdasarkan data Bloomberg, pada hari Selasa (21/10/2025), harga emas di pasar spot sempat melonjak hingga 2,6% menjadi US$4.361,55 per troy ounce atau sekitar Rp2,31 juta per gram. Sementara itu, harga emas Comex terpantau naik 3,78% pada level US$4.372,80 per troy ounce.
Di sisi lain, indeks Bloomberg Dollar Spot mengalami kenaikan tipis. Sementara itu, harga perak meningkat sebesar 1% menjadi US$52,50 per ounce setelah sebelumnya menyentuh rekor sepanjang masa di level US$54,48 pada akhir pekan lalu.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Emas
Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas adalah komentar Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa hubungan dengan China akan baik-baik saja menjelang dimulainya kembali perundingan dagang antara kedua negara. Hal ini memberikan optimisme kepada para investor.
Di sisi lain, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett mengisyaratkan bahwa penutupan pemerintahan federal berpotensi berakhir dalam pekan ini. Meskipun kondisi ini seharusnya menekan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas, para pelaku pasar justru memanfaatkan pelemahan harga pada Jumat pekan lalu untuk kembali membeli logam mulia, mendorong harga emas mencetak rekor baru di US$4.381,52 per ounce, melampaui rekor sebelumnya di US$4.379,93 yang tercatat pekan lalu.
“Pasar emas saat ini hanya dipenuhi pembeli. Pelemahan harga pada akhir pekan lalu langsung menarik permintaan baru, menunjukkan masih kuatnya minat beli di bawah permukaan pasar,” ujar Ole Hansen, Analis Komoditas Saxo Bank AS.
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO)
Analis TD Securities, Dan Ghali, menyebut lonjakan harga emas kali ini didorong oleh fenomena fear of missing out (FOMO) ekstrem atau kekhawatiran tertinggal dari reli harga.
“Kenaikan emas kali ini sangat kuat, dan sebagian besar didorong oleh investor di kawasan Barat,” ujarnya.
Logam mulia menunjukkan reli tajam sepanjang tahun 2025, dengan emas mencatatkan kenaikan selama sembilan pekan berturut-turut. Harga emas telah melonjak lebih dari 65% sejak awal tahun, ditopang oleh pembelian bank sentral dan arus masuk ke reksa dana berbasis emas (ETF).
Penyebab Kenaikan Harga Emas
Kenaikan juga diperkuat oleh tingginya permintaan terhadap aset aman di tengah ketegangan geopolitik dan dagang, peningkatan utang pemerintah, serta kekhawatiran terhadap independensi The Federal Reserve.
Adapun perak mencatatkan performa lebih tinggi, melesat lebih dari 80% sepanjang tahun ini. Lonjakan harga perak turut dipicu oleh faktor makro yang sama dengan emas.
Di pasar London, terbatasnya likuiditas memicu perburuan global terhadap logam tersebut, sementara harga acuan melonjak melewati level kontrak berjangka di New York.