Harga energi dipengaruhi pasokan dan situasi geopolitik

admin.aiotrade 09 Des 2025 3 menit 13x dilihat
Harga energi dipengaruhi pasokan dan situasi geopolitik


Pergerakan Harga Komoditas Energi di Tengah Dinamika Pasokan dan Permintaan

Harga komoditas energi terus bergerak bervariasi, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti sentimen pasokan global, perubahan cuaca, serta ekspektasi kebijakan moneter. Pergerakan ini mencerminkan kompleksitas pasar yang terus berubah seiring dengan perkembangan ekonomi dan politik dunia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut data dari Trading Economics pada Selasa (9/12/2025) pukul 20.18 WIB, harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan sebesar 0,12% menjadi US$ 58,952 per barel. Di sisi lain, harga gas alam mengalami penurunan sebesar 3,02% menjadi US$ 4,76 per MMBtu. Pergerakan ini menunjukkan ketidakstabilan yang terjadi di pasar energi global.

Wahyu Laksono, founder Traderindo.com, menjelaskan bahwa pemulihan produksi minyak Irak menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga minyak. “Pemulihan produksi besar ini menambah pasokan minyak global, yang secara alami menekan harga ke bawah karena kekhawatiran adanya kelebihan pasokan,” ujarnya. Faktor ini memberikan tekanan pada harga minyak, meskipun permintaan tetap stabil.

Selain itu, pasar juga sedang memantau ketidakpastian dalam penyelesaian konflik antara Rusia dan Ukraina. Jika konflik tersebut selesai, kemungkinan besar pasokan minyak Rusia akan kembali masuk ke pasar global, yang bisa memengaruhi harga minyak secara keseluruhan.

Penurunan harga gas alam disebabkan oleh tekanan pasokan dan proyeksi cuaca. Menurut Wahyu, harga gas alam melemah setelah perkiraan cuaca musim dingin yang tidak terlalu ekstrem dan kelebihan pasokan global. “Kelebihan pasokan ini menekan permintaan, terutama untuk pemanas, sehingga memperlemah harga,” jelasnya.

Menjelang awal 2026, arah pasar energi diperkirakan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, termasuk surplus pasokan, dinamika geopolitik, dan kebijakan bank sentral. Pemulihan permintaan di China menjadi katalis positif bagi harga minyak, sementara potensi perang dagang dan penguatan dolar AS dapat melemahkan permintaan minyak.

Di sisi pasokan, peningkatan produksi minyak di Amerika Serikat dan kebijakan produksi OPEC+ menjadi penentu keseimbangan pasar. Kedua faktor ini akan memengaruhi stabilitas harga komoditas energi dalam jangka pendek maupun menengah.

Prospek harga minyak WTI masih menunjukkan kecenderungan melemah dalam jangka pendek–menengah selama sentimen surplus pasokan bertahan. Namun, dalam jangka panjang, peluang pemulihan bisa muncul jika defisit investasi energi memicu kekurangan pasokan setelah 2026.

Sementara itu, prospek harga gas alam bergantung pada tingkat keparahan musim dingin dan dinamika ekspor Liquefied Natural Gas (LNG). Rebound signifikan sejak November menunjukkan respons pasar terhadap peningkatan permintaan pemanas dan aliran LNG AS yang mencapai rekor. Namun, inventaris yang tinggi tetap menjadi faktor penahan.

Hingga awal 2026, Wahyu memperkirakan harga WTI akan berada dalam kisaran moderat sesuai konsensus lembaga riset, yaitu sekitar US$ 52–US$ 64 per barel. Sementara itu, harga gas alam diproyeksikan bergerak lebih volatil dalam rentang luas US$ 3,0–US$ 7,0 per MMBtu, dengan potensi mencapai level US$ 10 per MMBtu pada skenario permintaan ekstrem.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan