
aiotrade, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mempercepat pengembangan energi terbarukan seperti fotovoltaik sebagai respons terhadap tingginya harga listrik di wilayah timur Indonesia.
Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa pemerintah juga mengamati biaya listrik yang sangat mahal di kawasan timur Indonesia, terutama dari pembangkit listrik tenaga diesel. Harga tersebut bisa mencapai 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan wilayah Jawa.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Beban subsidi yang besar untuk bahan bakar diesel mendorong pemerintah untuk segera mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga diesel. Dengan penggunaan energi terbarukan seperti fotovoltaik di wilayah timur, harga listrik bisa menjadi jauh lebih rendah.
"Sekarang kami sedang mengembangkan sistem hybrid antara fotovoltaik dengan baterai untuk mendukung proses dedieselisasi itu," ujarnya kepada Bisnis dikutip, Kamis (23/10/2025).
Pemerintah telah menyiapkan langkah strategis untuk mempercepat transisi ke energi baru terbarukan (EBT) dalam satu dekade ke depan. Fokus utama adalah pengembangan di kawasan Indonesia Timur. Langkah ini sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 62,5 gigawatt (GW), di mana 70% di antaranya berasal dari energi bersih.
Investasi dalam rencana ekspansi ini akan melibatkan sebagian besar partisipasi swasta, bukan hanya dari pendanaan negara atau PLN.
“Investasinya itu 70% nya adalah IPP atau Independent Power Producer, jadi berasal dari mitra-mitra swasta,” imbuhnya.
Selain potensi tenaga surya, kawasan timur Indonesia dinilai memiliki intensitas radiasi matahari tertinggi serta potensi besar untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), baik skala kecil, menengah, maupun besar.
Oleh karena itu, pemerintah menilai akselerasi EBT dapat dimulai dari kawasan timur Indonesia.
Dengan kehadiran entitas seperti Danantara, pasti telah menyiapkan strategi investasi untuk berpartisipasi dalam program ini, baik melalui kemitraan strategis maupun investasi langsung.
Bentuk kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek-proyek energi hijau di berbagai wilayah, sekaligus mendukung target bauran EBT nasional yang lebih ambisius dalam 10 tahun mendatang.
Strategi Pengembangan EBT di Indonesia Timur
Pengembangan energi terbarukan di kawasan timur Indonesia tidak hanya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga untuk meningkatkan akses listrik yang lebih murah dan stabil. Berikut beberapa strategi utama yang dilakukan:
-
Pengembangan sistem hybrid
Pemerintah sedang membangun sistem hybrid yang menggabungkan fotovoltaik dengan baterai. Hal ini bertujuan untuk menyediakan pasokan listrik yang lebih andal dan efisien, terutama di daerah yang sulit dijangkau. -
Kolaborasi dengan pelaku swasta
Sebanyak 70% investasi dalam rencana ekspansi energi terbarukan berasal dari pelaku swasta. Ini termasuk perusahaan independen yang disebut sebagai Independent Power Producer (IPP). -
Pemanfaatan sumber daya alam lokal
Wilayah timur Indonesia memiliki potensi besar dalam energi surya, angin, dan air. Pemerintah berkomitmen untuk memaksimalkan sumber daya ini dalam pengembangan infrastruktur energi. -
Kemitraan strategis
Entitas seperti Danantara diharapkan dapat berkontribusi melalui kemitraan strategis atau investasi langsung, sehingga proyek energi hijau dapat segera direalisasikan.
Target Bauran EBT Nasional
Pemerintah menetapkan target bauran EBT nasional yang lebih ambisius dalam 10 tahun ke depan. Untuk mencapai target ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku swasta, dan lembaga penelitian.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencapaian target ini antara lain:
-
Peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan
Dalam RUPTL PLN, ditetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 62,5 GW, di mana 70% berasal dari energi bersih. -
Pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil
Dengan pengembangan EBT, ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti diesel akan berkurang secara signifikan. -
Peningkatan akses listrik di daerah terpencil
EBT dapat memberikan solusi untuk daerah yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik konvensional.
Potensi EBT di Kawasan Timur Indonesia
Wilayah timur Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan energi terbarukan. Beberapa aspek yang menjadi fokus antara lain:
-
Intensitas radiasi matahari tinggi
Wilayah ini memiliki intensitas radiasi matahari yang sangat tinggi, membuatnya ideal untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya. -
Potensi energi angin dan air
Selain tenaga surya, kawasan ini juga memiliki potensi besar untuk pembangkit listrik tenaga bayu dan air, baik skala kecil, menengah, maupun besar. -
Kemudahan akses ke daerah terpencil
Pengembangan EBT dapat membantu mengakses daerah yang sebelumnya sulit dijangkau oleh jaringan listrik konvensional.
Dengan berbagai strategi dan potensi yang ada, pemerintah optimis bahwa pengembangan energi terbarukan di kawasan timur Indonesia akan menjadi kunci dalam mencapai target bauran EBT nasional.