Harga minyak dan gas melonjak setelah AS sita kapal Iran

Harga minyak dan gas melonjak setelah AS sita kapal Iran

Harga minyak acuan dunia dan gas bumi Eropa mengalami kenaikan signifikan setelah Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menyita sebuah kapal Iran pada hari Minggu (19/4). Penyitaan tersebut terjadi ketika Iran menembaki kapal-kapal dan kembali memberlakukan kontrol di Selat Hormuz.

Harga minyak Brent naik sebesar 5,8% menjadi US$95,65 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate melonjak 7,0% menjadi US$89,75 per barel. Sementara itu, harga gas alam Eropa juga meningkat sebesar 11%.

Iran sempat membuka akses Selat Hormuz pada Jumat (16/4), namun akses tersebut kembali ditutup setelah blokade AS terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Iran dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal tersebut di Teluk Oman setelah kapal itu tidak mengindahkan peringatan untuk berhenti saat meninggalkan Selat Hormuz. Ini merupakan insiden besar pertama dalam blokade yang telah berlangsung selama seminggu.

Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam setelah negosiasi damai di Islamabad yang memicu tarik-ulur. Trump mengatakan dirinya melihat peluang untuk mencapai kesepakatan, sementara pihak Iran menilai belum ada prospek jelas untuk mencapai perjanjian.

“Jika situasi terus berlanjut seperti sekarang, kemungkinan harga akan naik bertahap ke kisaran US$105–US$115, tetapi dengan fluktuasi akibat berbagai perkembangan berita,” kata Haris Khurshid, Chief Investment Officer di Karobaar Capital LP di Chicago, dikutip dari Bloomberg, Senin (20/4).

Selat Hormuz merupakan rute vital perdagangan yang mengangkut sekitar seperlima pasokan migas dunia, jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Iran menutup selat tersebut saat meletusnya perang pada akhir Februari.

Akses yang kembali tertutup berpotensi memperdalam krisis energi global dan menggagalkan prediksi Trump bahwa perang akan segera berakhir. Jalur ini hanya salah satu dari sejumlah isu yang belum terselesaikan, termasuk nuklir Iran dan invasi Israel yang masih berlangsung di Lebanon.

Berdasarkan data pelacakan yang dihimpun Bloomberg, tidak ada pergerakan kapal yang terpantau melintasi Selat Hormuz pada Minggu (19/4). Setidaknya 13 kapal tanker minyak berbalik arah menuju Teluk Persia serta membatalkan upaya mereka untuk keluar dari perairan tersebut.

Konflik ini memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya, meningkatkan tekanan inflasi dan membebani pertumbuhan ekonomi global.

Dampak kumulatif perang terhadap ekonomi dunia mulai terlihat pekan ini, dengan survei bisnis dari berbagai negara berpotensi mengindikasikan risiko stagflasi. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain adalah kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, dan gangguan rantai pasok global.

Kemungkinan adanya peningkatan harga energi dapat berdampak pada sektor industri, transportasi, dan konsumen. Hal ini bisa memicu inflasi yang lebih tinggi dan mengurangi daya beli masyarakat.

Selain itu, krisis energi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi negara-negara yang bergantung pada impor energi. Negara-negara tersebut harus mempersiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menghadapi potensi kenaikan biaya produksi dan pengangguran.

Tantangan-tantangan ini menunjukkan pentingnya konsensus internasional dalam mencari solusi damai dan stabil untuk menghindari eskalasi konflik yang bisa berdampak luas bagi dunia. Peran organisasi internasional seperti PBB dan badan-badan khusus sangat dibutuhkan untuk memfasilitasi dialog dan perdamaian.