
Program B50, yang merupakan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan campuran minyak sawit mentah (CPO) dalam bahan bakar solar, mendapat perhatian serius dari para pemangku kepentingan. Mereka sepakat bahwa program ini berpotensi menaikkan harga CPO hingga lebih dari US$ 1.200 per ton pada tahun depan. Kenaikan tersebut dapat mengganggu kelangsungan program karena kenaikan harga di pasar ekspor bisa berdampak pada pasar domestik.
Direktur Eksekutif Oil World, Thomas Mielke, menyatakan bahwa pemerintah membutuhkan tambahan 2,2 juta ton CPO untuk menjalankan program B50. Kebutuhan ini akan diambil dari pasokan ekspor, sehingga mengurangi pasokan minyak nabati global. Ia mengkhawatirkan bahwa jika campuran biodiesel ditingkatkan, harga CPO di pasar ekspor akan langsung naik. Hal ini kemungkinan besar akan memicu pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pengendalian harga di dalam negeri, yang justru bisa memperburuk situasi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sebagai informasi, pemerintah pernah melarang ekspor CPO selama 25 hari pada 2022. Pada masa itu, harga CPO sempat mencapai RM 7.140 per ton pada 25 April 2022, sementara S&P Global mencatat harga mendekati US$ 2.000 per ton pada Maret 2022. Di dalam negeri, kenaikan harga global tersebut membuat harga minyak goreng curah mencapai hampir Rp 24.000 per liter, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 11.500 per liter.
Mielke menilai bahwa saat pemerintah mulai mengatur harga CPO global dengan menahan ekspor, harga justru akan naik lebih tinggi lagi. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kebijakan energi dan stabilitas harga di pasar domestik.
Pemerintah sendiri berencana menaikkan campuran CPO dalam solar dari 40% (B40) menjadi 50% (B50) pada 2026. Kebijakan ini akan bersifat wajib bagi seluruh produsen bahan bakar solar. Namun, rencana ini juga membawa risiko terhadap harga CPO global.
Proyeksi Harga CPO Global
Direktur Godrej International Ltd, Dorab Mistry, memproyeksikan harga CPO global dapat mencapai RM 5.500 atau sekitar US$ 1.300 per ton. Proyeksi ini diperkirakan terjadi 30 hari setelah pemerintah mengumumkan mandatori B50. Menurutnya, harga CPO bahkan bisa menembus RM 5.500 per ton jika harga minyak kedelai global ikut naik. Pasokan minyak kedelai diprediksi menurun akibat kebijakan biodiesel di Amerika Serikat dan Brasil.
“Namun daya saing CPO akan lemah jika harga tembus RM 5.500 per ton,” ujar Mistry kepada aiotrade.co.id. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga CPO tidak hanya berdampak pada pasar ekspor, tetapi juga bisa memengaruhi harga di pasar domestik.
Dengan proyeksi harga yang begitu tinggi, pemerintah harus mempertimbangkan berbagai skenario untuk menjaga keseimbangan antara kebijakan energi nasional dan stabilitas harga. Tantangan ini akan semakin kompleks mengingat fluktuasi harga komoditas global dan kebijakan pemerintah di sektor energi.