
Harga Minyak Mentah Dunia Terus Melemah
Harga minyak mentah dunia terus mengalami penurunan, didorong oleh kekhawatiran akan potensi kelebihan pasokan dan permintaan yang lemah, khususnya di Amerika Serikat (AS), yang merupakan konsumen minyak terbesar di dunia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut laporan yang diterbitkan pada Jumat (7/11/2025), harga minyak berjangka jenis Brent turun sebesar 14 sen atau 0,22% menjadi US$63,38 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun 17 sen atau 0,29% menjadi US$59,43 per barel.
Pada bulan Oktober, harga minyak global mencatat penurunan untuk ketiga kalinya secara beruntun. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran terkait kelebihan pasokan, karena OPEC dan sekutunya (OPEC+) meningkatkan produksi mereka, sementara produksi dari negara-negara non-OPEC juga terus meningkat.
John Kilduff, mitra Again Capital, menyatakan bahwa pasar minyak terus dibayangi oleh kelebihan pasokan yang sudah diprediksi sejak lama. Menurutnya, hal ini menjadi tekanan bagi harga minyak.
Di sisi lain, lemahnya permintaan tetap menjadi fokus utama pasar. Dalam satu tahun hingga 4 November 2025, permintaan minyak global meningkat sebesar 850.000 barel per hari, yang masih di bawah proyeksi sebelumnya sebesar 900.000 barel per hari dari JPMorgan. Catatan bank tersebut menunjukkan bahwa indikator frekuensi tinggi menunjukkan konsumsi minyak AS masih rendah.
Aktivitas perjalanan yang tidak stabil dan penurunan pengiriman kontainer menjadi faktor utama dalam penurunan permintaan minyak di AS. Pada sesi sebelumnya, harga minyak turun setelah Energy Information Administration AS melaporkan kenaikan stok minyak mentah sebesar 5,2 juta barel menjadi 421,2 juta barel pekan lalu.
Kilduff menjelaskan bahwa rendahnya tingkat operasional kilang menunjukkan bahwa permintaan minyak mentah di AS saat ini tidak kuat, akibat musim perawatan kilang yang signifikan. Hal ini secara fundamental menekan harga minyak.
Arab Saudi, sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, memangkas tajam harga minyak mentah untuk pembeli Asia pada Desember 2025. Tindakan ini dilakukan sebagai respons terhadap pasar yang mulai terdampak oleh peningkatan produksi dari OPEC+.
Capital Economics dalam catatannya menyatakan bahwa tekanan penurunan harga minyak akan terus berlanjut, mendukung perkiraan mereka di bawah konsensus, yaitu US$60 per barel pada akhir 2025 dan US$50 per barel pada akhir 2026.
Di sisi lain, sanksi terbaru terhadap perusahaan minyak terbesar Rusia dua minggu lalu memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan. Meskipun produksi OPEC+ meningkat, para analis tetap khawatir tentang dampak dari sanksi tersebut.
Sebelumnya, operasional Lukoil pada bisnis luar negeri dilaporkan mengalami kesulitan akibat sanksi. Jorge Montepeque dari Onyx Capital Group mengatakan bahwa meski ada sedikit pengaruh terhadap harga dari sanksi, dampaknya tidak signifikan. Ia menambahkan bahwa pasar masih perlu diyakinkan bahwa akan ada pengaruh nyata dari sanksi tersebut.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak
- Kelebihan Pasokan: OPEC+ meningkatkan produksi, sementara produksi dari negara non-OPEC juga terus bertumbuh.
- Permintaan yang Lemah: Permintaan minyak global meningkat di bawah proyeksi, terutama di AS.
- Stok Minyak Mentah: Naiknya stok minyak mentah AS memberikan tekanan pada harga.
- Perawatan Kilang: Musim perawatan kilang yang signifikan mengurangi permintaan minyak mentah di AS.
- Sanksi terhadap Rusia: Meskipun ada kekhawatiran, dampaknya belum signifikan terhadap harga minyak.