
Harga minyak mentah Indonesia, atau Indonesian Crude Price (ICP), pada bulan November 2025 mengalami penurunan menjadi sebesar US$62,83 per barel. Angka ini lebih rendah dibandingkan harga ICP pada bulan Oktober 2025 yang berada di level US$63,62 per barel. Penurunan tersebut tercatat sebesar US$0,80 per barel.
Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa penurunan harga ini sejalan dengan tren melemahnya harga minyak mentah utama di pasar internasional. Salah satu penyebab utamanya adalah penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap mata uang utama dunia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kondisi ini mendorong investor untuk mengalihkan dana mereka ke pasar uang, sehingga menekan harga komoditas, termasuk minyak," ujar Laode dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Rabu, 17 Desember 2025.
Penetapan ICP November 2025 sebesar US$62,83 per barel telah diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 416.K/MG.03/MEM.M/2025 tentang Harga Minyak Mentah Bulan November 2025. Keputusan ini ditetapkan pada 10 Desember 2025.
Selain faktor nilai tukar, Laode menyampaikan bahwa kekhawatiran akan kelebihan pasokan minyak mentah global juga memberi tekanan pada harga. Salah satu pemicunya adalah kesepakatan OPEC+ yang merencanakan peningkatan suplai pada Desember 2025 sebesar 137 ribu barel per hari.
Berdasarkan laporan OPEC pada November 2025, produksi minyak mentah negara non-OPEC+ diperkirakan naik sekitar 900 ribu barel per hari sepanjang tahun 2025. Produksi rata-rata diproyeksikan mencapai 54,1 juta barel per hari. Kenaikan ini terutama berasal dari Brasil, Kanada, Amerika Serikat, dan Argentina. Sementara itu, produksi minyak mentah OPEC+ pada Oktober 2025 tercatat rata-rata 43,02 juta barel per hari.
Tekanan suplai juga terlihat dari data International Energy Agency (IEA). Dalam publikasi November 2025, lembaga tersebut melaporkan lonjakan persediaan minyak global sebesar 77,7 juta barel atau sekitar 2,6 juta barel per hari. Level ini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2021. IEA memproyeksikan pasokan minyak dunia meningkat 3,1 juta barel per hari pada 2025 dengan rata-rata tahunan mencapai 106,3 juta barel per hari.
"Faktor lain yang mempengaruhi penurunan ICP adalah potensi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina yang dipandang dapat meringankan sanksi terhadap Rusia dan meningkatkan pasokan minyak mentah, serta turut menurunkan harga minyak mentah dunia," kata Laode.
Tekanan tambahan datang dari kebijakan harga produsen utama. Arab Saudi menurunkan harga jual minyak mentah untuk pembeli Asia pada Desember 2025 sebesar US$1,20 hingga US$1,40 per barel. Langkah ini dilakukan seiring terpenuhinya kebutuhan pasar akibat peningkatan produksi OPEC+.
Sejalan dengan kondisi tersebut, harga rata-rata minyak mentah utama pada November 2025 juga melemah dibandingkan bulan sebelumnya. Berikut rincian penurunan:
- Dated Brent turun sebesar US$1,10/bbl dari US$64,75/bbl menjadi US$63,65/bbl.
- WTI (Nymex) turun sebesar US$0,59/bbl dari US$60,07/bbl menjadi US$59,48/bbl.
- Brent (ICE) turun sebesar US$0,29/bbl dari US$63,95/bbl menjadi US$63,66/bbl.
- Basket OPEC turun sebesar US$0,67/bbl dari US$65,14/bbl menjadi US$64,47/bbl.
Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia turun sebesar US$0,80/bbl dari US$63,62/bbl menjadi US$62,83/bbl.