
Pergeseran situasi di kawasan Timur Tengah terus memengaruhi pasar global. Kenaikan tajam harga minyak mentah dan ketidakstabilan bursa saham menjadi bukti bahwa ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memperburuk kondisi ekonomi dunia.
Pada awal perdagangan Asia, Senin (20/4/2026), harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 6% ke level US$ 96 per barel. Lonjakan ini disebabkan oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan energi setelah Iran memperketat akses di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman energi global.
Di sisi lain, kontrak berjangka indeks S&P 500 mengalami penurunan sekitar 0,7%, menunjukkan sikap hati-hati dari para investor. Pergerakan bursa di kawasan Asia juga beragam: indeks Australia melemah 0,5%, sedangkan Jepang justru menguat 0,7%.
Situasi kian memanas setelah Amerika Serikat menyita kapal kargo Iran. Respons dari Teheran datang dalam bentuk ancaman untuk melakukan tindakan balasan. Gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada hari Selasa kini berada di ambang kehancuran.
Meski demikian, pasar masih menunjukkan optimisme. Pasar tetap optimistis bahwa kedua pihak akan mencapai kesepakatan, ujar Damien Boey, analis strategi portofolio.
Fokus utama investor kini tertuju pada Selat Hormuz. Meski jalur tersebut sempat dibuka kembali, lalu lintas kapal masih terbatas. Data menunjukkan bahwa lebih dari 20 kapal melintas pada Sabtu, angka tertinggi sejak awal Maret, namun kondisi tetap rapuh.
Di pasar mata uang, dolar AS menguat tipis setelah sebelumnya melemah tajam. Sementara itu, euro dan dolar Australia sedikit tertekan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik kembali ke kisaran 4,27%, menandakan bahwa investor mulai mengurangi aset aman.
Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi, yang sebelumnya sempat mereda. Investor pun mulai mengurangi eksposur di obligasi sejak Maret, mengantisipasi tekanan harga energi.
Meskipun risiko meningkat, sebagian pelaku pasar masih berharap konflik tidak berkepanjangan. Skenario dasar kami tetap mengarah pada resolusi konflik, ujar Paul Chew dari Phillip Securities.
Dalam sepekan ke depan, perhatian pasar tidak hanya terfokus pada geopolitik, tetapi juga pada data ekonomi penting seperti inflasi Inggris, penjualan ritel AS, serta aktivitas manufaktur Eropa. Namun, satu indikator dinilai paling krusial: arus kapal di Selat Hormuz.
Ukuran paling nyata dari risiko geopolitik saat ini adalah jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz, kata Bob Savage, analis strategi pasar global.
Dengan kata lain, selama jalur energi dunia itu masih terganggu, tekanan pada harga minyak dan inflasi global diperkirakan belum akan mereda.