
Harga minyak dunia mengalami pergerakan stabil dengan perubahan yang relatif kecil pada hari Rabu (25/2/2026). Meskipun demikian, kenaikan stok minyak mentah di Amerika Serikat (AS) jauh melampaui perkiraan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya risiko konflik militer antara AS dan Iran.
Harga minyak mentah Brent ditutup naik 8 sen menjadi US$ 70,85 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 21 sen menjadi US$ 65,42 per barel. Laporan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebutkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik sekitar 16 juta barel pada pekan lalu. Kenaikan ini disebabkan oleh penurunan tingkat pemanfaatan kilang serta meningkatnya impor. Angka ini jauh melampaui perkiraan analis dalam survei Reuters yang hanya memperkirakan kenaikan sebesar 1,5 juta barel.
Selain itu, laporan EIA juga mencatat adanya penyesuaian data persediaan yang mencerminkan perubahan stok yang tidak tercatat mencapai rekor tertinggi sekitar 2,7 juta barel per hari. Analis komoditas UBS, Giovanni Staunovo, menilai dampak kenaikan stok terhadap harga relatif terbatas. Menurutnya, pasar minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor geopolitik di Timur Tengah.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan. Brent mencapai posisi tertinggi sejak 31 Juli, sementara WTI berada di level tertinggi sejak 4 Agustus. Kenaikan ini terjadi seiring langkah AS menempatkan pasukan militer di Timur Tengah untuk menekan Iran agar bersedia bernegosiasi terkait program nuklir dan rudal balistiknya.
Konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan minyak dari Iran, yang merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC, serta dari negara-negara lain di kawasan. Dalam pidato kenegaraan pada Selasa, Presiden AS Donald Trump menyinggung kemungkinan serangan terhadap Iran dan menegaskan tidak akan membiarkan negara tersebut memiliki senjata nuklir.
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan delegasi Iran dalam putaran ketiga pembicaraan di Jenewa pada Kamis. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kesepakatan dengan AS masih mungkin dicapai, asalkan diplomasi diprioritaskan. Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, menyebut ketidakpastian utama terletak pada sejauh mana produksi atau ekspor minyak Iran bisa terganggu jika AS melakukan serangan.
Ia menambahkan, sebagian pelaku pasar meyakini Arab Saudi dapat dengan cepat meningkatkan produksi untuk menutup kekosongan pasokan, sementara kehadiran militer AS dinilai mampu menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka. Meski demikian, pasar minyak diperkirakan tetap berada dalam kondisi tegang sambil menunggu hasil pembicaraan.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa produsen utama OPEC+ telah menyiapkan langkah peningkatan produksi dan ekspor minyak jangka pendek jika konflik mengganggu aliran pasokan. Secara terpisah, OPEC+ juga diperkirakan mempertimbangkan kenaikan produksi sebesar sekitar 137.000 barel per hari mulai April, mengakhiri jeda peningkatan produksi selama tiga bulan, seiring persiapan menghadapi puncak permintaan musim panas.
Delapan produsen OPEC+—Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman—dijadwalkan menggelar pertemuan pada 1 Maret. Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan tarif AS turut membebani sentimen investor. Tarif global sementara sebesar 10% mulai berlaku pada Selasa, menyusul putusan Mahkamah Agung AS. Trump kemudian menyatakan tarif dapat dinaikkan menjadi 15%, meski belum jelas kapan dan apakah kebijakan tersebut akan diterapkan.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer juga menyebut tarif untuk sejumlah negara berpotensi naik menjadi 15% atau lebih, tanpa merinci mitra dagang yang terdampak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar