Harga minyak turun, bursa global naik setelah Iran pastikan Selat Hormuz aman

Harga minyak turun, bursa global naik setelah Iran pastikan Selat Hormuz aman

Perkembangan Pasar Keuangan Global

Pasar keuangan global mengalami penguatan pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran memberikan pernyataan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz akan tetap dibuka selama masa gencatan senjata dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel. Informasi ini langsung memengaruhi harga minyak dunia dan mendorong reli di pasar saham.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa semua kapal komersial diperbolehkan melintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, selama periode gencatan senjata berlangsung. Pernyataan ini berhasil meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak yang sebelumnya membuat harga energi melonjak.

Harga minyak pun mengalami penurunan signifikan. Minyak mentah Brent turun 11,5% ke level US$87,94 per barel, sementara minyak mentah AS melemah menjadi US$83,33 per barel. Meskipun masih di atas tingkat sebelum konflik sekitar US$70 per barel, harga tersebut sudah jauh dari puncak akhir Maret yang mendekati US$120 per barel.

Penguatan Indeks Saham Global

Sentimen positif ini membawa dampak positif bagi indeks saham global. Di Wall Street, indeks S&P 500 naik 1,15% ke 7.115,31, sedangkan Dow Jones melonjak 1,95% ke 49.524,91. Nasdaq juga menguat 1,15% ke 24.378,97. Indeks saham berkapitalisasi kecil, Russell 2000, mencetak rekor baru.

Di Eropa, indeks STOXX 600 naik 1,49% setelah sebelumnya bergerak datar. Kepala makro global ING, Carsten Brzeski, menilai kabar ini sebagai angin segar bagi pasar energi dan konsumen. "Ini jelas kabar positif dan akan membawa kelegaan bagi harga minyak dan pada akhirnya juga bagi konsumen," ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz kemungkinan tidak langsung terjadi. "Meski Iran menyatakan jalur dibuka, pelaku industri seperti perusahaan asuransi dan pemilik kapal bisa saja masih berhati-hati, sehingga arus pelayaran pulih secara bertahap," tambahnya.

Perubahan di Sektor Energi dan Penerbangan

Seiring turunnya harga minyak, saham sektor energi ikut tertekan. Saham perusahaan minyak dan gas di Eropa turun sekitar 4,5%, sementara raksasa energi AS seperti Exxon Mobil dan Chevron masing-masing melemah sekitar 5%. Sebaliknya, saham maskapai penerbangan menguat, dengan American Airlines naik sekitar 8%.

Di sisi lain, saham Netflix anjlok lebih dari 9% setelah perusahaan streaming tersebut memberikan proyeksi pertumbuhan yang lemah dan mengumumkan pengunduran diri chairman sekaligus salah satu pendirinya, Reed Hastings.

Perkembangan Pasar Obligasi dan Valuta Asing

Di pasar obligasi, aset safe haven menguat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level terendah sejak pertengahan Maret di 4,234%, sementara yield tenor 2 tahun turun menjadi 3,702%. Penurunan yield juga terjadi di Eropa, seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral.

Analis Pepperstone, Michael Brown, menyebut normalisasi aliran komoditas dari Selat Hormuz dapat mengurangi risiko besar bagi perekonomian global. “Jika de-eskalasi berlanjut dan aliran komoditas kembali mendekati normal, maka risiko besar bagi ekonomi global akan berkurang,” ujarnya.

Di pasar valuta asing, dolar AS melemah 0,51% ke level 97,71, menandai penurunan mingguan kedua berturut-turut seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven.