Harga Saham Melonjak, Tjoe Ay Sebut "Gorengan" Salah Kaprah

admin.aiotrade 25 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Harga Saham Melonjak, Tjoe Ay Sebut "Gorengan" Salah Kaprah

Wacana Pemberantasan Saham Gorengan Kembali Mengemuka


Jakarta, aiotrade – Isu pemberantasan saham gorengan kembali menjadi perhatian setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) harus bertanggung jawab dalam mengendalikan praktik yang berpotensi merugikan investor ritel. Pernyataan ini disampaikan oleh Purbaya usai pertemuan dengan jajaran direksi BEI dan pelaku pasar modal di Gedung BEI, Jakarta, pada Kamis (9/10/2025).

Purbaya menekankan bahwa pengendalian praktik penggorengan saham menjadi tanggung jawab otoritas bursa demi melindungi investor kecil. Ia menyatakan bahwa seluruh aktivitas yang bisa merugikan investor harus dikendalikan oleh BEI.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Artinya yang goreng-goreng itu kan dikendalikan sama dia (BEI), supaya investor kecil terlindungi,” ujarnya.

Selain itu, Purbaya juga menyebut bahwa pemerintah tidak akan segera memberikan insentif sebelum BEI menertibkan perilaku pelaku pasar, khususnya praktik pengerekkan harga saham secara tidak wajar.

Persepsi yang Tidak Akurat tentang Saham Gorengan

Menanggapi isu tersebut, Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management Kartika Sutandi menilai bahwa istilah saham gorengan rawan disalahpahami. Ia mengkhawatirkan bahwa isu ini bisa memicu ketakutan berlebihan di pasar modal tanpa adanya definisi yang jelas.

Analis yang akrab disapa Tjoe Ay juga mempertanyakan makna saham gorengan yang sering digunakan secara longgar. Label ini sering diberikan pada saham yang harganya melonjak tajam atau dinilai mahal secara valuasi.

Tjoe Ay menilai cara pandang tersebut keliru. Ia menegaskan bahwa harga saham yang mahal tidak otomatis mencerminkan praktik manipulatif. Valuasi tinggi sering kali lahir dari persepsi investor atas kualitas bisnis, kinerja keuangan, serta prospek jangka panjang perusahaan.

Contoh Saham dengan Valuasi Tinggi

Stigma bahwa saham mahal adalah saham gorengan dinilai tidak adil. Pendekatan ini berisiko menyeret saham berfundamental kuat ke dalam citra negatif. Tjoe Ay memberikan contoh PT Bank Central Asia Tbk., yang sahamnya diperdagangkan dengan valuasi tinggi dibandingkan emiten perbankan lain.

Harga saham bank ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap konsistensi kinerja, tata kelola, dan kualitas bisnis. Ia menyebut bahwa hampir tidak ada bank di kawasan Asia Tenggara yang diperdagangkan hingga tiga atau empat kali nilai buku.

“Fakta ini menunjukkan valuasi tinggi bukan anomali dan tidak otomatis menandakan manipulasi harga,” ujarnya.

Perbandingan dengan Pasar Global

Tjoe Ay juga membandingkan situasi ini dengan pasar global. Banyak saham teknologi di Amerika Serikat diperdagangkan dengan valuasi tinggi, seperti NVIDIA, Palantir Technologies Inc, dan Tesla Inc. Otoritas pasar modal setempat tidak melabeli saham tersebut sebagai gorengan.

“NVIDIA mahal, Palantir mahal, Tesla juga mahal. Apakah Amerika bilang itu gorengan? Jadi mahal itu bukan gorengan,” katanya.

Praktik Pump and Dump dan Backdoor Listing

Tjoe Ay juga menyoroti praktik pump and dump yang kerap dijadikan dasar pelabelan saham gorengan. Ia mengakui bahwa praktik manipulasi jangka pendek itu ada, namun penilaian perlu melihat pola dan rentang waktu pergerakan harga.

Pump and dump terjadi saat harga saham dinaikkan cepat dalam waktu singkat tanpa dukungan fundamental, lalu dilepas secara massal. Pola tersebut berbeda dengan kenaikan harga dalam periode panjang.

Kenaikan harga selama dua hingga tiga tahun yang kemudian diikuti koreksi tidak otomatis menunjukkan manipulasi. Pergerakan semacam itu bisa mencerminkan pertumbuhan bisnis atau penyesuaian pasar.

“Ngomong pump and dump itu mesti lihat, naiknya berapa lama. Kalau saham naik tiga tahun, lalu turun di tahun terakhir, apa empat tahun itu dianggap gorengan? Pump and dump itu ada periodenya,” kata Tjoe Ay.

Fenomena backdoor listing juga disinggung. Menurut Tjoe Ay, lonjakan harga saham dalam kasus injeksi aset sering kali mencerminkan perubahan fundamental. Aksi korporasi dinilai menjadi faktor utama pergerakan harga saham.

“Banyak saham backdoor listing, tapi kan di-inject aset. Itu gorengan apa enggak? Itu ada corporate action loh. Semua saham bergerak karena aksi korporasi,” ujarnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan