
Robinhood Melangkah ke Pasar Modal Indonesia
Harga saham Robinhood Markets Inc (HOOD) mengalami kenaikan sebesar 3,4% menjadi US$ 136,57 setelah perusahaan mengumumkan strategi ekspansi ke pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan melalui akuisisi dua perusahaan lokal, yaitu PT Buana Capital Sekuritas dan PT Pedagang Aset Kripto. Proses akuisisi tersebut ditargetkan selesai pada paruh pertama tahun depan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada hari perdagangan awal, harga saham HOOD dibuka di level US$ 134 dan sempat mencapai titik tertinggi sebesar US$ 138,09. Kapitalisasi pasar Robinhood yang berbasis di Amerika Serikat saat ini mencapai US$ 122,6 miliar.
Setelah proses akuisisi, Robinhood akan terus melayani nasabah yang sudah ada dengan produk-produk keuangan lokal. Dalam jangka panjang, setelah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Robinhood akan memperkenalkan aplikasi mereka yang akan memberikan akses ke saham AS, aset kripto global, serta instrumen investasi internasional lainnya.
Patrick Chan, Head of Robinhood Asia, menyampaikan harapan bahwa rencana ini akan terealisasi dalam waktu satu tahun. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pasar modal yang dinamis.
Potensi Pasar Indonesia
Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar yang menarik bagi perdagangan saham dan aset digital. Hingga akhir Oktober 2025, terdapat lebih dari 19 juta investor pasar modal (single investor identification/SID) dan 17 juta investor kripto di dalam negeri. Jumlah investor baru meningkat sebesar 4,28 juta atau naik 58,4%.
Pertumbuhan investor di pasar modal dan digital di Indonesia didorong oleh minat generasi muda yang sangat antusias terhadap teknologi mobile dan investasi digital. Dari total 19 juta investor pasar modal, sekitar 54,25% adalah investor muda di bawah usia 30 tahun, sementara 26,42% berusia antara 30 hingga 41 tahun, dan sisanya di atas 41 tahun.
Robinhood melihat peluang besar di Indonesia, terutama dalam membantu calon investor meningkatkan literasi keuangan dan mempermudah akses mereka ke pasar modal. Patrick menilai bahwa akuisisi Buana Capital merupakan langkah strategis yang sesuai dengan visi perusahaan.
Jejak Bisnis Robinhood
Robinhood Markets, Inc., didirikan pada 2013 dan berbasis di Menlo Park, California. Perusahaan ini menawarkan layanan perdagangan saham, ETF, opsi, futures, hingga kripto, dengan lebih dari 27 juta pelanggan dan total aset kelolaan mencapai US$ 343 miliar.
Robinhood dikenal sebagai pionir perdagangan tanpa komisi dengan basis pengguna muda yang besar. Akuisisi Buana Sekuritas dan Pedagang Aset Kripto menjadi bagian dari strategi ekspansi perusahaan. Robinhood didirikan oleh Vladimir Tenev dan Baiju Bhatt, dua insinyur yang sebelumnya membangun platform high-frequency trading di New York.
Sejak awal kehadirannya, Robinhood menarik perhatian investor karena aplikasinya yang sederhana dan biaya transaksi nol. Pada Maret 2015, Robinhood meluncurkan aplikasi perdagangan saham dan ETF dengan model bisnis yang mengandalkan payment for order flow, margin lending, serta transaksi aset kripto.
Layanan kripto mulai ditawarkan pada Februari 2018, diikuti oleh produk cash-management pada 2019 melalui kemitraan dengan bank yang diasuransikan FDIC. Perusahaan ini kemudian memperluas ekspansi ke pasar Inggris pada 2024, dan pada 2025 mulai memasuki kawasan Eropa dengan layanan tokenisasi saham dan ETF.
Meskipun Robinhood telah menghadapi beberapa kontroversi, seperti skema payment for order flow yang sering dikritik, serta gangguan sistem besar pada awal pandemi, perusahaan tetap menjadi simbol transformasi perdagangan ritel berbasis aplikasi. Dengan model bisnis yang fokus pada akses finansial dan teknologi efisien, ekspansi Robinhood ke pasar internasional dianggap dapat mendorong evolusi ekosistem investasi ritel, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
Rencana Ekspansi dan Persyaratan
Robinhood menyatakan bahwa layanan untuk nasabah eksisting akan tetap berjalan seperti biasa dengan produk-produk lokal yang tersedia. Di masa depan, perusahaan berencana memperluas jenis layanan, termasuk akses perdagangan saham AS, aset kripto global, dan instrumen internasional lainnya, setelah mendapatkan persetujuan regulator.
Kedua akuisisi tersebut masih harus memenuhi persyaratan penutupan transaksi, termasuk perizinan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan regulator terkait. Penyelesaian aksi korporasi tersebut ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026.