
Suasana Gedung Sate Saat Uji Coba Work From Home
Pada hari pertama pelaksanaan uji coba kebijakan bekerja dari rumah (WFH) di Jawa Barat, Gedung Sate yang biasanya menjadi pusat aktivitas para Aparatur Sipil Negara (ASN) terlihat lengang dan sunyi. Gedung ikonik yang berada di pusat Kota Bandung ini, pada hari Kamis (6/11/2025), tampak sepi dengan lampu-lampu di berbagai ruangan dimatikan hingga menciptakan kesan suram.
Di bagian dalam gedung, khususnya di area yang mengapit aula barat dan aula timur, sejumlah ruangan terlihat hening tanpa tanda-tanda aktivitas seperti biasanya. Tidak ada pegawai yang berlalu-lalang membawa berkas, berdiskusi di depan komputer, atau melakukan pekerjaan lainnya. Pintu-pintu ruangan juga terkunci rapat, tanpa jejak keberadaan penghuni di baliknya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kebijakan WFH diterapkan sebagai upaya untuk mengoptimalkan efisiensi anggaran. Seluruh lampu dan perangkat elektronik dalam gedung dimatikan sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan tersebut. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, menjelaskan bahwa uji coba kebijakan ini diterapkan pada semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tidak berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat.
Adi menyebutkan bahwa jajarannya telah menyusun skema kegiatan harian untuk mendukung efektivitas kerja selama WFH. "Di Dinas Komunikasi dan Informatika, kami sudah mulai menjalankan kebijakan ini. Semalam, kami sudah menetapkan jadwal kegiatan untuk masing-masing unit kerja, beserta target-target harian yang harus dicapai hari ini," ujar Adi, Kamis (6/11).
Menurut Adi, secara mendasar tidak ada perbedaan signifikan antara bekerja di rumah dan di kantor. Pegawai tetap diwajibkan memenuhi target produktivitas mereka melalui sistem pelaporan harian. "Sebenarnya ini hanya penerapan ulang dari sistem yang pernah kita jalankan saat pandemi Covid-19. Konsepnya sama saja, hanya saja kali ini dijadwalkan seminggu sekali," tambahnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai bahwa pelaksanaan WFH mampu mengurangi biaya operasional kantor secara signifikan. “Hari ini pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah melakukan WFH, tidak lagi terjadi penumpukan orang, dia (para ASN) bekerja di rumah,” ujar Dedi, Kamis (6/11) siang.
Dedi menambahkan bahwa monitoring pelaksanaan WFH dapat dilakukan oleh masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) melalui sistem pengawasan internal mereka. Progres pekerjaan bisa dievaluasi langsung dari perkembangan kinerja tiap OPD.
Penerapan WFH ini terbilang sangat efisien. ASN tetap produktif, sementara biaya operasional dapat ditekan. “Menurut saya sangat efisien. Pertama, orang tetap bekerja. Kedua, listrik irit. Tiga, air irit, dan jalan tidak macet,” ucapnya.
Ke depan, kata Dedi, Pemprov Jabar akan membedakan tunjangan kinerja bagi ASN yang bekerja di rumah, di kantor, dan di lapangan dan berisiko tinggi. “Beda tunjangan kinerjanya antara yang bekerja di lapangan dengan tingkat resiko yang tinggi dengan yang bekerja di rumah. Nanti beda,” katanya.
Seorang staf sebuah dinas Pemprov Jawa Barat, Adi Permana, membagikan pengalamannya menjalani hari pertama WFH. Menurutnya, pelaksanaan uji coba berjalan lancar tanpa kendala. "Tugas saya membuat konten tetap berjalan seperti biasa, hanya saja semua dikerjakan dari rumah," ujar Adi.
Lebih lanjut, Adi menjelaskan bahwa laporan hasil kerja selama WFH disampaikan melalui aplikasi TRK atau e-kinerja. Hal tersebut membuat dokumentasi kerja tetap terpantau dengan jelas. "Semua kegiatan dicatat dan dilaporkan melalui sistem tersebut," tuturnya.
Adi mengapresiasi kebijakan WFH ini karena memberikan manfaat berupa penghematan waktu perjalanan dan efisiensi biaya transportasi. "Ada perbedaan nyata dalam hal efisiensi waktu. Rumah saya berada di Soreang, jadi saya tidak perlu terjebak kemacetan saat menuju kantor. Selain itu, pekerjaan saya seperti membuat konten juga tidak memerlukan alat kerja spesifik selain laptop dan koneksi internet," ungkapnya.