Hati-hati! Modus penipuan BTS palsu masih mengancam

admin.aiotrade 15 Des 2025 2 menit 17x dilihat
Hati-hati! Modus penipuan BTS palsu masih mengancam

Modus Penipuan Menggunakan BTS Palsu Masih Marak

Ketua Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Heru Sutadi, menyatakan bahwa modus penipuan dengan memanfaatkan Base Transceiver Station (BTS) palsu atau fake BTS masih marak terjadi. Praktik kejahatan ini sulit diberantas karena perangkat fake BTS relatif murah dan mudah dirakit.

Selain itu, minimnya regulasi yang ketat dari pemerintah serta pengawasan operator seluler terhadap penyebaran sinyal palsu turut memperparah situasi. “Pelaku biasanya berpindah-pindah wilayah sehingga tidak mudah terdeteksi. Di sisi lain, rendahnya literasi digital masyarakat membuat korban kerap percaya pada SMS yang diterima tanpa melakukan verifikasi,” ujar Heru dalam keterangannya, Senin (15/12/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Muncul Tautan Berbahaya


Ia menilai pelaku kejahatan memanfaatkan BTS palsu untuk mengirim SMS phishing berisi tautan berbahaya dengan menggunakan sender ID yang menyerupai perusahaan resmi, termasuk perbankan. “Sasaran utama modus ini adalah pencurian data pribadi, one-time password (OTP), hingga pengurasan rekening korban,” ungkapnya.

Modus Fake BTS yang Bikin Nasabah Khawatir


Sementara itu, pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan modus fake BTS umumnya memanfaatkan jaringan 2G sebagai jalur distribusi SMS. Perangkat BTS palsu kerap dipasang di kendaraan dan mampu memancarkan sinyal kuat dalam radius sekitar 500–1.000 meter, sehingga ponsel korban secara otomatis terhubung ke jaringan milik pelaku. Setelah terkoneksi, pelaku dapat mengirim SMS massal dengan sender ID palsu dan pesan bernada mendesak. Alfons menegaskan bahwa penyebaran SMS melalui fake BTS tidak berkaitan dengan sistem perbankan. “Pelaku hanya memanfaatkan kelemahan pada jaringan komunikasi, khususnya 2G, untuk mengirim pesan langsung ke perangkat korban,” tegasnya.

OJK Imbau Perbankan Kurangi Ketergantungan pada SMS


Senada dengan hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menegaskan penipuan fake BTS tidak melibatkan peretasan sistem SMS milik bank. SMS sepenuhnya dikirim oleh pelaku melalui BTS palsu dengan teknik penyamaran. OJK menilai keberadaan jaringan 2G yang masih digunakan oleh sejumlah operator seluler menjadi celah bagi kejahatan ini.

“Untuk menekan risiko, OJK mendorong industri perbankan mengurangi ketergantungan pada SMS sebagai sarana komunikasi dengan nasabah dan beralih ke kanal yang lebih aman, seperti aplikasi mobile banking,” ungkapnya. Selain itu, OJK mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada SMS yang mengatasnamakan perusahaan tertentu serta segera menghubungi pihak bank atau otoritas terkait jika menerima pesan atau panggilan yang mencurigakan.

Jelang Nataru, Menko Airlangga Usulkan Pekerja WFA

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan