Tanggapan Santai Rieke Diah Pitaloka terhadap Perseteruan Pejabat
Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, memberikan respons yang santai terhadap perseteruan antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Perseteruan ini berawal dari perbedaan data mengenai dana pemerintah daerah yang disebut mengendap di bank.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @riekediahp, pada Rabu (22/10/2025), Rieke menyatakan bahwa ia tidak ikut larut dalam perdebatan tersebut. Ia mengaku hanya menjadi penonton dalam peristiwa tersebut. “Beberapa hari ini terjadi perdebatan Kang Purbaya sama Kang Dedi, dan Nyi Iroh (Rieke) jadi penonton,” ujarnya dengan gaya khasnya yang santai.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Rieke menilai bahwa perbedaan pandangan antara kedua pejabat sebaiknya tidak diperpanjang. Ia menyarankan agar mereka menyelesaikan masalah melalui dialog yang tenang dan saling memahami. “Yang akur-akur saja, bisa diobrolin supaya ada solusi gitu,” lanjutnya.
Selain membahas isu dana mengendap, Rieke juga menyentuh topik lain yang penting, yaitu utang BUMN kepada Bank BJB. Meskipun tidak merinci lebih jauh, pernyataannya menunjukkan bahwa ia tetap mengamati dinamika kebijakan ekonomi, tanpa terjebak dalam konflik antarpejabat.

Program Penempatan Dana Rp 200 Triliun ke Bank Himbara
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa program penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menunjukkan hasil positif. Menurutnya, kebijakan ini berhasil mendorong penyaluran dana ke sektor riil dengan kinerja yang memuaskan.
Purbaya menyebutkan bahwa dalam waktu singkat, tingkat penyerapan dana sudah melampaui 70 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa aliran dana pemerintah benar-benar terserap dengan cepat oleh perbankan. Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa bank melaporkan bahwa dana yang diberikan sudah habis tersalurkan.
Bank Mandiri, misalnya, telah mengajukan permintaan tambahan dana pemerintah untuk kembali digulirkan ke masyarakat. “Yang Rp 200 triliun, kecuali BTN belum lapor ya berapa. Tapi yang lain sepertinya udah makin besar deh penyerapannya. Tadi saya ketemu orang Danantara, sepertinya Mandiri akan minta lagi tuh. Karena uangnya sudah habis, yang (diberikan) Rp 55 triliun itu,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan bahwa apabila penyerapan dana oleh bank Himbara mencapai 100 persen, pemerintah siap untuk kembali menggelontorkan dana tambahan. Langkah ini dilakukan agar momentum pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga.

Dampak Kebijakan Pengeluaran Dana ke Bank terhadap Ekonomi
Purbaya juga menilai bahwa kebijakan penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian nasional. Ia menyebut, indikator pertumbuhan kredit dan penjualan ritel Bank Indonesia (BI) kini mulai bergerak naik, menandakan geliat ekonomi yang semakin kuat.
“Kalau retail sales BI mulai naik, angka yang terakhir ya. Ini kan sudah sebulan lebih. Sudah mulai gerak, tapi saya akan monitor lagi kalo masih kurang kita dorong lagi,” tambahnya.
Secara keseluruhan, dana pemerintah sebesar Rp200 triliun itu disebarkan ke lima bank besar nasional, yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Tiga bank yang masuk dalam kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4, yaitu Mandiri, BNI, dan BRI, masing-masing mendapatkan alokasi Rp55 triliun. Sementara BTN dan BSI, yang tergolong KBMI 3, memperoleh dana lebih kecil, yakni Rp25 triliun dan Rp10 triliun.
BSI menjadi satu-satunya bank syariah penerima dana karena memiliki kemampuan menyalurkan pembiayaan di wilayah Aceh. Pada 9 Oktober 2025, Purbaya mengungkapkan hasil evaluasi penyerapan dana tersebut. Ia memaparkan bahwa BTN masih menjadi bank dengan realisasi terendah dibandingkan bank Himbara lainnya. “Kalau anda lihat tuh sebelah kanan tuh saya kasih ke Mandiri Rp 55 triliun, dia udah nyalurin 74 persen.”