Hormuz Membara, Perang AS-Iran Mengancam Di Depan Mata

Hormuz Membara, Perang AS-Iran Mengancam Di Depan Mata
Hormuz Membara, Perang AS-Iran Mengancam Di Depan Mata

Kembali Tegangnya Hubungan Iran dan Amerika Serikat

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi penghubung utama perdagangan minyak dunia. Sejumlah analis menilai bahwa peluang terjadinya konflik terbuka kini lebih besar dibandingkan harapan untuk mencapai perundingan damai.

Seorang analis politik Iran, Profesor Mostafa Khoshcheshm, menyebut langkah Teheran sebagai respons langsung atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat. Ia mengatakan kepada Al Jazeera dari Teheran bahwa kesepakatan gencatan senjata sejatinya mewajibkan selat tersebut tetap terbuka.

Blokade yang dilakukan AS merupakan pelanggaran langsung terhadap gencatan senjata. Bahkan, Amerika juga menambah pasukan dan peralatan militernya di kawasan, yang kembali melanggar kesepakatan, ujarnya.

Khoshcheshm menjelaskan bahwa Iran sempat melakukan upaya terbatas untuk membuka selat tersebut pada malam sebelumnya. Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak akurat justru memicu Teheran menutup kembali jalur strategis itu.

Trump menyampaikan klaim yang keliru kepada media. Dari situlah Iran menyimpulkan bahwa menutup kembali selat adalah satu-satunya pilihan, kata Khoshcheshm.

Ia pun pesimistis terhadap masa depan diplomasi. Saat ini kondisinya jauh lebih sulit dibanding sebelumnya. Trump bisa mengubah sikap dan pernyataannya hampir setiap jam, ucapnya blak-blakan.

Menurut Khoshcheshm, rekam jejak Trump yang kerap mengabaikan berbagai perjanjian dan komitmen internasional menjadi alasan utama sulitnya membangun kepercayaan. Dia tidak menunjukkan rasa hormat terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun Dewan Keamanan. Dalam situasi seperti ini, saya melihat kemungkinan perang jauh lebih besar dibandingkan negosiasi apa pun, tegasnya.

Kritik dari Amerika Latin

Sementara itu, kritik juga datang dari Amerika Latin. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyerukan kepada lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB agar segera mengubah pendekatan mereka yang dinilai gagal meredam konflik di Timur Tengah.

Dalam pertemuan puncak internasional para pemimpin progresif di Barcelona, Lula secara tersirat menyentil Trump yang kerap melontarkan ancaman melalui media sosial terhadap Iran.

Kita tidak bisa setiap pagi bangun dan setiap malam tidur dengan pesan dari seorang presiden yang mengancam dunia dan menyatakan perang, ujar Lula.

Masa Depan yang Tidak Jelas

Pernyataan-pernyataan keras dari berbagai pihak ini semakin menegaskan bahwa krisis Selat Hormuz bukan sekadar soal jalur pelayaran, melainkan cermin rapuhnya stabilitas geopolitik global yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi konflik berskala besar.

Beberapa faktor penting yang memperburuk situasi antara Iran dan Amerika Serikat adalah:

  • Pelanggaran Kesepakatan: Iran menganggap tindakan AS sebagai pelanggaran langsung terhadap gencatan senjata yang telah disepakati.
  • Penambahan Pasukan Militer: Aksi AS menambah pasukan dan peralatan militer di kawasan membuat Iran merasa terancam.
  • Perubahan Sikap Trump: Presiden AS sering kali mengubah pernyataannya dalam waktu singkat, sehingga sulit bagi Iran untuk memprediksi tindakan AS.
  • Kurangnya Kepercayaan Internasional: Rekam jejak Trump yang sering mengabaikan perjanjian internasional membuat Iran sulit percaya pada komitmen AS.