Hujan Deras dan Angin Kencang Rusak Ratusan Rumah di Bekasi

admin.aiotrade 24 Okt 2025 5 menit 10x dilihat
Hujan Deras dan Angin Kencang Rusak Ratusan Rumah di Bekasi
Hujan Deras dan Angin Kencang Rusak Ratusan Rumah di Bekasi

Bencana Cuaca Ekstrem di Wilayah Jawa Barat

Hujan lebat disertai angin kencang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi sejak Rabu 22 Oktober 2025 malam hingga Kamis 23 Oktober 2025 sore. Akibatnya, ratusan rumah rusak akibat tersapu kencangnya angin.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi, ada delapan desa dari delapan kecamatan yang dilanda hujan lebat dan angin kencang. Akibat kejadian itu, lebih dari 100 rumah rusak. Rata-rata kerusakan terjadi pada atap rumah yang tersapu angin kencang. Sementara itu cuaca ekstrem juga membuat sejumlah pohon tumbang.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi Dodi Supriadi menjelaskan, hujan deras di­sertai angin kencang terjadi sekitar pukul 16.00 hingga 17.00. Meski singkat, hujannya sangat lebat.

BPBD langsung mengerahkan tim untuk membersihkan pohon tumbang, memperbaiki jaringan listrik yang terputus, dan mengevakuasi warga yang rumahnya roboh sebagian.

“Kami juga berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Barat dan BNPB untuk penyediaan bantuan logistik. Hari ini (kemarin, red), tim akan melanjutkan pendataan dan distribusi kebutuhan dasar warga terdampak,” ujarnya.

Delapan kecamatan yang terdampak, yaitu Kedungwaringin, Karangbahagia, Pebayan, Tambelang, Cikarang Utara, Sukatani, Serangbaru, dan Cikarang Timur. Kecamatan terakhir terkena dampak terparah. Dilaporkan 61 rumah di Desa Karangsari Kecamatan Cikarang Timur rusak pada bagian atap dan dinding akibat terpaan angin. Sebanyak 108 keluarga terdampak akibat bencana tersebut.

“Berdasarkan laporan yang kami terima serta hasil pendataan di lapangan, ada lebih dari 60 rumah yang terdampak di Karangsari. Baik rusak ringan dan sedang. Petugas masih terus bersiaga di Cikarang Timur dan titik rawan lainnya,” kata Dodi.

Selain kerusakan rumah, beberapa fasilitas umum seperti penerangan jalan dan jaringan listrik sempat padam akibat kabel tertimpa ranting pohon. Tidak ada laporan korban jiwa, namun BPBD meminta masyarakat tetap siaga menghadapi potensi cuaca ekstrem lanjutan.

“Kami imbau warga berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama menjauhi pohon besar, baliho, dan bangunan yang rapuh,” kata Dodi Supriadi.

Berdasarkan prakiraan BMKG, kata Dodi, cuaca ekstrem ini disebabkan fenomena awan konvektif yang cukup aktif di wilayah pesisir utara Jawa Barat. Kondisi itu memicu peningkatan potensi hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang di wilayah Jabodetabek, termasuk Bekasi, selama sepekan ke depan.

“Dengan kondisi tersebut, kami imbau masyarakat untuk waspada. Segera laporkan jika terjadi peristiwa kebencanaan pada aparat terdekat,” ucap Dodi.

Sehari sebelumnya, bencana angin kencang yang melanda wilayah Cianjur, khususnya Kecamatan Karangtengah dan Mande. Cuaca ekstrem itu menyebabkan kerusakan parah pada ratusan rumah warga serta sejumlah fasilitas umum.

Sejumlah Desa di Karangtengah terdampak bencana tersebut. Desa Sukasarana mencatat jumlah kerusakan terbanyak yakni lebih dari 100 rumah rusak.

"Yang paling parah itu di Sukasarana yang paling banyak terdampak, lebih dari 100 rumah. Kemudian disusul Ciherang, Sukajadi, Sukamantri," kata Doni, Kamis 23 Oktober 2025.

Dodi mengatakan, mayoritas kerusakan dikategorikan ringan hingga sedang. "Pada pagi hari ini (Kamis), lebih dari 100 personel gabungan disebar untuk melaksanakan penanganan di semua titik, mencakup sekitar 5 wilayah yang terdampak," ucapnya.

Untuk membantu korban terdampak bencana, dapur umum telah didirikan di Kantor Desa Sukasarana. "Ada satu dapur umum kita sediakan," katanya.

Antisipasi Banjir di Bandung

Seiring dengan peningkatan intensitas hujan belakangan ini, Wakil Wali Kota Bandung Erwin menyampaikan kesiapan mengantisipasi banjir. Selain melalui infrastruktur pengendali banjir, Pemkot Bandung juga menggalakkan gotong royong pembersihan lingkungan.

"Saat ini, sudah ada 27 titik rumah pompa yang kami tempatkan di daerah-daerah rawan banjir. Selain itu, ada juga program Mapag Hujan, yaitu kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk membersihkan saluran-saluran air," kata Erwin di Sukajadi, Kamis 23 Oktober 2025.

Program Mapag Hujan menjadi bentuk sinergi Pemkot dengan warga dalam menjaga kebersihan dan kelancaran drainase. Di beberapa kesempatan, Erwin bahkan turun langsung untuk membongkar bangunan liar yang menghambat aliran air di sungai atau selokan.

"Saya juga mengimbau kepada para camat dan lurah agar berkolaborasi dengan ketua RW untuk segera melaporkan apabila ada sungai yang mulai terkena erosi. Jangan menunggu parah dulu baru bertindak," ujar Erwin.

Terkait dengan infrastruktur pengendali banjir, dia menjelaskan bahwa Pemkot Bandung bukan hanya mengandalkan rumah pompa saja. Antisipasi banjir juga dilakukan melalui pembangunan kolam retensi di sejumlah wilayah sehingga kini ada 15 kolam retensi yang berfungsi.

"Target kami 30 kolam retensi, dan tahun 2025 sudah kami anggarkan tambahan dua lagi. Tentu ini tergantung pada kemampuan anggaran, tapi alhamdulillah sejauh ini sudah membantu cukup signifikan dalam mengurangi genangan,” katanya.

Erwin menambahkan, Pemkot Bandung juga berupaya mengantisipasi kejadian pohon tumbang. Dinas Pertamanan dan Ketahanan Pangan (DPKP), kata dia, telah melakukan pengecekan dan perawatan terhadap pohon-pohon tua di sejumlah ruas jalan utama.

Meski berbagai langkah antisipasi telah dilakukan, Erwin mengimbau agar masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan. "Kalau hujannya ringan, pohon-pohon masih kuat, tapi kalau badai besar datang ya kita tetap harus waspada," ujarnya.

Sistem Peringatan Dini Banjir di Sukabumi

Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Barat tengah melakukan kajian untuk memasang alat early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini banjir berupa open river cam di Sungai Cisuda, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi. Sungai Cisuda dipilih sebagai lokasi pertama penerapan sistem ini mengingat lokasi tersebut kerap mengalami luapan air saat terjadi hujan deras.

PMI selaku organisasi kemanusiaan menjadi leading sektor dalam proyek jangka pendek berbasis komunitas ini. Ketua PMI Kota Sukabumi, Suranto Sumowiryo mengatakan, sistem open river cam, terdiri dari jaringan kamera pemantau berbasis sumber terbuka berbiaya rendah, yang dipasang secara strategis di lokasi-lokasi sungai utama di daerah berisiko tinggi. Kamera-kamera ini menyediakan gambar secara waktu nyata memantau tinggi air, pola aliran, serta faktor cuaca.

"Ketika akan terjadi banjir, itu sudah termonitor, maka alat ini akan langsung memberikan peringatan dini. Warga yang ada di sekitarnya bisa segera melakukan mitigasi dan evakuasi mandiri. Lokasinya di Sungai Cisuda. Pelaksananya PMI Kota Sukabumi dibantu PMI pusat dan Palang Merah Amerika," kata Suranto di Balai Kota Sukabumi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan