
Kisah Pilu Melda Safitri: Diceraikan Suami Dua Hari Sebelum Pelantikan PPPK
Melda Safitri, seorang wanita asal Aceh Selatan, menjadi sorotan publik setelah mengalami perceraian yang tidak terduga. Pernikahannya dengan Jakfar Sidik, suaminya, berakhir hanya dua hari sebelum pelantikan Jakfar sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Satpol PP Aceh Singkil.
Kejadian ini menimbulkan rasa sedih dan empati dari banyak orang, terutama Ibu Vina, tetangganya yang secara tulus membantu Melda pulang kampung ke Aceh Selatan. Video tangisan Ibu Vina saat melepas kepergian Melda menjadi viral di media sosial, membangkitkan perhatian dan dukungan dari warganet.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Tangisan Ibu Vina yang Menyentuh Hati
Dalam video yang viral tersebut, Ibu Vina terlihat mengenakan hijab berwarna hijau. Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, ia menatap Melda sambil berkata penuh emosi, Cantikkan badanmu, tanpa dia (Jakfar), kau itu hidup. Kata-kata sederhana itu seolah menjadi simbol kekuatan perempuan yang terluka namun tetap memilih untuk bangkit.
Bagi banyak netizen, tangisan Ibu Vina adalah bentuk solidaritas sesama perempuan bukan sekadar tetangga, tapi sosok ibu yang ikut merasakan penderitaan. Banyak yang menyebut bahwa Ibu Vina adalah contoh nyata dari ketulusan dan empati.
Perjuangan Melda dalam Menghadapi Kehidupan
Meski mengalami duka yang besar, Melda tetap tegar dan berjuang untuk membesarkan dua anaknya. Ia menjual gorengan dan minuman seribu rupiah di depan rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, sebelum pulang ke kampung halaman, Melda sempat berjualan untuk melunasi utang-utangnya.
Menurut Ibu Vina, Melda diceraikan pada Jumat, 15 Agustus 2025, hanya dua hari sebelum pelantikan PPPK pada 17 Agustus. Meskipun hatinya hancur, Melda masih sempat berjualan untuk melunasi utang-utangnya sebelum akhirnya pulang ke kampung halaman di Aceh Selatan.
Sebelum meninggalkan Aceh Singkil, Melda sempat menjual motor dan kulkasnya untuk melunasi semua utangnya. Ibu Vina juga masih mengingat momen haru saat Melda datang ke rumahnya meminta makan karena tak punya uang. Habis bayar utang, dia ketok-ketok rumahku minta makan, ya aku kasih, kata Ibu Vina.
Masalah Ekonomi sebagai Akar Perceraian
Ibu Vina menduga bahwa akar masalah rumah tangga Melda dan suaminya adalah ekonomi. Menurutnya, tekanan hidup yang sulit kerap menjadi pemicu retaknya hubungan. Keadaan ekonomi itu mestinya bisa diselesaikan dengan baik-baik. Mengapa harus ditinggalkan? ujarnya.
Ia juga mengungkap bahwa Jakfar sempat meninggalkan Melda dan anak-anaknya selama tiga bulan tanpa nafkah. Dia pergi ke rumah orang tuanya, ditinggalkan anak istrinya tiga bulan lebih, kenangnya.
Diceraikan Karena Jabatan, Bukan Pertengkaran
Dalam pengakuannya, Melda Safitri menceritakan awal mula rumah tangganya retak. Tiga hari sebelum pelantikan PPPK, suaminya pulang kerja dan marah karena tidak menemukan lauk di rumah. Hari itu tanggal 14 Agustus, dia marah-marah karena gak ada kawan nasi di meja. Saya bilang, mau masak pakai apa, uang belanja pun gak ada, kata Melda dengan suara lirih.
Pertengkaran itu berlanjut, dan malamnya sang suami pergi keluar rumah. Esok paginya, setelah cekcok kembali terjadi, suaminya langsung mengucapkan kata cerai. Dia bilang ke saya, kamu Fitri, saya ceraikan satu, dua, tiga, lalu pergi bawa bajunya, ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tiga hari kemudian, Jakfar dilantik menjadi PPPK. Bagi Melda, perceraian itu bukan karena masalah rumah tangga semata, tapi karena sang suami mengutamakan jabatan. Dia ceraikan saya karena mau jabatan. Padahal kami dulu berjuang bersama dari nol, ucapnya penuh kecewa.
Pesan Menyentuh dari Seorang Istri yang Terluka
Dalam unggahannya, Melda juga menuliskan pesan yang kini banyak dikutip warganet karena sarat makna dan ketegaran. Tidaklah harta, pangkat, jabatan dibawa mati. Tapi hargailah wanita yang menemanimu dari nol hingga ke jalan kesuksesan, walaupun dibalas dengan perceraian, tulisnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak malu kembali ke rumah orang tua bersama dua anaknya di Meukek, Aceh Selatan. Kini, ia menjalani hari-hari dengan berjualan gorengan dan minuman seribu rupiah di depan rumah.
Ibu Vina: Cukup Dia Senang, Saya Sudah Bahagia
Bagi Ibu Vina, kisah Melda bukan sekadar tragedi rumah tangga, tapi pelajaran tentang empati dan ketulusan. Ia berharap Melda bisa terus kuat dan mendapat rezeki yang baik. Semoga murah rezekinya, sehat-sehat. Aku gak minta apa-apa, cukup dia senang, alhamdulillah, ujar Ibu Vina dengan suara bergetar.
Kisah Melda Safitri kini menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di Indonesia. Ia menunjukkan bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya. Ketulusan, kerja keras, dan doa tetap bisa menjadi jalan untuk bangkit.
Banyak warganet yang membanjiri komentar dukungan, menyebut Melda sebagai perempuan tangguh yang dicintai Allah. Beberapa juga mengirimkan bantuan kecil untuk mendukung dagangannya di Aceh Selatan.
Hidup memang tidak selalu adil. Kadang, orang yang paling kita bantu justru meninggalkan luka terdalam. Namun, kisah Melda Safitri dan Ibu Vina mengajarkan bahwa ketulusan tidak pernah sia-sia. Tangisan Ibu Vina bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih sayang sejati antarperempuan yang saling memahami rasa sakit satu sama lain.
Dan bagi Melda, perjuangan itu belum selesai. Ia kini terus melangkah, bukan dengan dendam, tapi dengan ketegaran dan doa. Saya yakin, Allah lihat semuanya. Saya hanya ingin hidup tenang dengan anak-anak saya, tutup Melda lirih.