Potensi Wilayah Luar Jawa sebagai Hub Data Center Baru di Indonesia
Di luar Pulau Jawa, sejumlah wilayah seperti Batam hingga Makassar menunjukkan potensi besar untuk menjadi hub data center baru di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, yang menjelaskan bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki keunggulan strategis baik dari segi konektivitas, posisi geografis, maupun potensi pengembangan ekonomi digital di masa depan.
Batam: Pilihan Investasi yang Menarik
Batam dinilai menjadi salah satu wilayah paling menarik bagi investor data center. Alasannya adalah kedekatannya dengan Singapura, konektivitas internasional, serta posisi strategis sebagai hub digital regional. Di sini, terdapat lebih dari 32 kabel bawah laut atau subsea cable yang mendarat, yang memperkuat daya tariknya. Selain itu, keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park juga menjadi faktor penarik bagi para investor.
Hendra menyatakan bahwa Batam memiliki keunggulan dari sisi konektivitas internasional dan posisinya sangat strategis untuk menjadi hub digital regional. Ia menilai bahwa wilayah ini memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan industri digital nasional.
Kalimantan dan Makassar: Tantangan dan Peluang
Selain Batam, Kalimantan juga memiliki potensi besar dalam pengembangan data center. Ini terkait dengan pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kebutuhan infrastruktur pemerintahan digital di masa mendatang. Sementara itu, Makassar disebut berpotensi menjadi hub data center di kawasan Indonesia Timur karena posisinya strategis untuk distribusi trafik dan konektivitas ke wilayah timur Indonesia.
Menurut Hendra, posisi geografis Makassar sangat cocok untuk menjadi pusat distribusi data dan layanan digital di kawasan timur. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pembangunan data center tidak hanya bergantung pada lokasi, tetapi juga pada kesiapan ekosistem pendukung di suatu wilayah.
Tantangan Utama dalam Pembangunan Data Center di Luar Jawa
Meski ada potensi yang besar, Hendra menyebut beberapa tantangan utama yang masih dihadapi pelaku industri ketika ingin membangun data center di luar Jawa, khususnya di Indonesia Timur.
-
Supply Energy
Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil, scalable, dan memiliki reliability tinggi. Namun, di sejumlah wilayah kapasitas daya masih terbatas dan belum memenuhi kebutuhan industri hyperscale. -
Fiber Connectivity
Kualitas dan redundansi jaringan fiber optic masih menjadi tantangan karena data center modern membutuhkan konektivitas multi-route dengan latency rendah dan availability tinggi. Di sejumlah wilayah non-Jawa, opsi carrier dan jalur redundansi juga masih terbatas. -
Talent Availability
Tenaga kerja dengan kompetensi spesifik di bidang data center, mulai dari facility engineering, network, cloud, hingga operations management, masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Pulau Jawa. -
Kemudahan Berbisnis dan Kepastian Regulasi
Investor membutuhkan proses perizinan yang efisien, kepastian lahan, insentif investasi, serta dukungan pemerintah daerah yang konsisten agar investasi dapat berjalan lebih cepat dan kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan.
Pentingnya Sinergi untuk Pengembangan Infrastruktur Digital
Hendra menekankan bahwa pengembangan data center di luar Jawa perlu dilakukan secara bertahap dengan pendekatan pembangunan ekosistem, bukan hanya pembangunan gedung semata. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PT PLN (Persero), operator telekomunikasi, dan pelaku industri menjadi kunci agar pemerataan infrastruktur digital dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi yang kuat, wilayah-wilayah seperti Batam, Kalimantan, dan Makassar bisa menjadi bagian penting dalam transformasi digital nasional.