
INSTITUTE or Essential Services Reform (IESR) menilai kinerja sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) sepanjang 2025 belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Secara umum, lembaga ini melihat transisi energi berjalan lambat dan ketahanan energi nasional masih rapuh.
Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa mengatakan capaian yang disampaikan pemerintah tidak mencerminkan kemajuan struktural sektor energi. Sebelumnya, Kementerian ESDM melaporkan rata-rata lifting minyak bumi, termasuk Natural Gas Liquid (NGL), pada 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari. Angka ini sedikit di atas target APBN 605 ribu barel per hari.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Namun Fabby menilai capaian tersebut tidak mencerminkan penguatan produksi. Target lifting 2025 justru jauh lebih rendah dibandingkan target 2024 sebesar 635 ribu barel per hari. “Sejak 2020, target lifting minyak terus diturunkan dari 707 ribu barel per hari,” kata Fabby.
Ia juga mengkritik penggunaan NGL dalam perhitungan lifting minyak. Produk tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan minyak bumi. Tanpa NGL, capaian lifting dinilai berpotensi tidak memenuhi target. Kondisi ini membuat target 1 juta barel per hari pada 2030 semakin sulit dicapai.
Soal energi terbarukan, Kementerian ESDM mencatat bauran energi bersih 2025 mencapai 15,75 persen. Angka ini naik dari 14,65 persen pada 2024. Kapasitas terpasang energi terbarukan bertambah sekitar 1,3 gigawatt.
Menurut Fabby, kenaikan tersebut belum sesuai target Kebijakan Energi Nasional yang baru. Selain itu, sebagian besar penambahan berasal dari PLTS atap milik konsumen. Sementara proyek energi terbarukan dalam RUPTL PLN banyak yang tidak terealisasi. “Penambahan pembangkit yang diklaim besar itu sebagian besar datang dari inisiatif pelanggan, bukan proyek yang direncanakan pemerintah,” ujar Fabby.
Padahal, kata Fabby, peningkatan bauran energi terbarukan sangat penting untuk menekan emisi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam skenario ambisius, emisi bisa turun hingga sekitar 436 juta ton CO2 pada 2060 jika bauran energi terbarukan mencapai 77 persen.
Dari sisi realisasi investasi energi baru terbarukan dan konservasi energi pada 2025 mencapai US$2,4 miliar. Angka ini melampaui target US$ 1,5 miliar. Meski begitu, IESR menilai kinerja ini masih tertinggal dari tren global.
Fabby mencatat investasi energi bersih global mencapai US$ 2,1 triliun pada 2024. Untuk mengejar target emisi nol pada 2050, Indonesia perlu investasi US$ 30-US$ 40 miliar per tahun. Fabby juga menekankan pentingnya membangun industri energi terbarukan dalam negeri agar tidak bergantung pada impor teknologi.
Adapun produksi batu bara Indonesia pada 2025 mencapai 790 juta ton. Angka ini melampaui target 739,6 juta ton. Pemerintah juga menetapkan target produksi 2026 sebesar 600 juta ton. Fabby melihat tren ini menunjukkan dominasi energi fosil belum berkurang. “Target produksi batu bara selalu terlampaui karena dorongan ekspor dan ketergantungan pada royalti,” ujar Fabby.
Untuk itu, ia mengingatkan risiko penurunan harga batu bara di tengah transisi energi global. Pemerintah harus menyiapkan skenario dampaknya terhadap fiskal dan stabilitas ekonomi.
Di sektor kebijakan biodiesel, pemerintah mengklaim kebijakan biodiesel B40 berhasil menekan impor solar menjadi sekitar 5 juta ton pada 2025. Namun IESR mengingatkan penggunaan crude palm oil (CPO) untuk biodiesel punya risiko.
Jika terlalu banyak dialihkan untuk bahan bakar nabati, ekspor dan penerimaan negara bisa tertekan. Ia juga menolak solusi membuka lahan sawit baru karena berisiko merusak hutan dan memperburuk krisis iklim.
Sementara itu, di sektor program listrik desa pada 2025 yang menjangkau 77.616 pelanggan di 1.516 lokasi, Fabby melihat ada kemajuan. Tetapi, ia menilai kualitas pasokan masih timpang di daerah 3T.
Ia mendorong pemanfaatan PLTS dan baterai agar desa terpencil mendapat listrik yang andal. Menurut dia, pengelolaan listrik desa perlu melibatkan entitas lokal seperti koperasi atau BUMDes. “Tanpa tata kelola yang kuat, proyek PLTS bisa terbengkalai," kata dia.