
Pengembangan Agrowisata Alpukat di Tanjung Banun
Kementerian Transmigrasi memiliki rencana besar untuk mengembangkan agrowisata alpukat di kawasan transmigrasi Tanjung Banun, Kota Batam, Kepulauan Riau. Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanegara menyampaikan bahwa pengembangan agrowisata alpukat di Tanjung Banun akan mulai direalisasikan pada tahun 2026. Dalam peninjauannya ke lokasi tersebut, ia menjelaskan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan para ketua RT dan RW tentang bagaimana Tanjung Banun bisa ditanami alpukat.
“Mulai tahun depan. Tadi kami berdiskusi dengan para ketua RT dan RW bagaimana Tanjung Banun bisa ditanami alpukat. Kami memiliki pilot project di Kediri sebagai brand mark, dan di sana hampir tidak ada warga miskin karena semuanya produktif,” ujar Iftitah saat meninjau lokasi di Tanjung Banun, Minggu, 20 Desember 2025.
Untuk mendukung program tersebut, Kementerian Transmigrasi menghadirkan langsung Kepala Desa Jambu, Kabupaten Kediri, Agus Joko Susilo, guna meninjau dan menilai kelayakan lahan transmigrasi Tanjung Banun. Agus Joko Susilo dikenal berhasil mengembangkan Desa Jambu melalui budidaya berbagai jenis alpukat, termasuk alpukat aligator yang memiliki ukuran lebih besar dibanding alpukat pada umumnya dan bernilai ekonomi tinggi.
“Pak Agus Joko Susilo ini sukses mengembangkan agrowisata alpukat. Saya bertemu beliau di ITS, dan hari ini saya ajak langsung ke Tanjung Banun untuk melihat apakah kawasan ini cocok dikembangkan alpukat,” jelas Iftitah.
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, lokasi transmigrasi Tanjung Banun dinilai sangat potensial untuk pengembangan tanaman alpukat. “Dari hasil pengecekan, kawasan ini sangat cocok. Nantinya akan ada pendampingan langsung, dan hal ini juga sudah saya sampaikan kepada para ketua RT dan RW,” terangnya.
Iftitah menegaskan bahwa konsep transmigrasi saat ini tidak hanya berfokus pada pemindahan penduduk, tetapi pada peningkatan produktivitas lahan dan sumber daya manusia. Lahan yang sebelumnya tidak optimal harus diolah menjadi produktif, begitu pula masyarakatnya.
“Budidaya alpukat adalah salah satu contoh yang sangat baik. Karena itu kami menghadirkan langsung Kepala Desa Jambu untuk memastikan kecocokan lahan, dan hasilnya dinyatakan sangat sesuai,” katanya.
Ia menyebutkan terdapat sekitar 72 varietas alpukat yang berpotensi dikembangkan di Tanjung Banun. Keberagaman jenis tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik tersendiri, baik dari sisi pertanian maupun pariwisata berbasis agrowisata.
Sementara itu, Agus Joko Susilo menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan masyarakat Tanjung Banun dan Rempang dalam mengembangkan alpukat unggulan berukuran besar. “Kami siap mendampingi masyarakat sesuai arahan Pak Menteri. Kawasan Tanjung Banun ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi agrowisata buah, dan tentu akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat,” ujar Agus.
Pengembangan agrowisata alpukat ini diharapkan menjadi model baru transmigrasi produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan warga, serta menjadikan Tanjung Banun sebagai destinasi agrowisata unggulan di Batam.