IHSG Kembali Naik, Tapi Apakah Saham Mahal Masih Layak Dikoleksi?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melaju ke zona hijau pada awal kuartal IV 2025. Kenaikan ini didorong oleh kinerja saham-saham berkapitalisasi besar yang justru dinilai memiliki valuasi mahal. Namun, di tengah euforia kenaikan tersebut, muncul pertanyaan krusial: apakah saham dengan valuasi tinggi masih layak dikoleksi investor saat ini?
Pasar modal Indonesia sedang berada pada fase yang unik. IHSG yang sempat tertekan akibat tekanan eksternal kini berhasil bertahan di atas level psikologis 7.300. Saham-saham seperti DCII, BREN, BRPT, DSSA, dan CDIA menjadi motor utama penguatan indeks, sekaligus menjadi perdebatan mengenai rasionalitas harga di tengah valuasi premium.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Mengapa IHSG Digerakkan oleh Saham Valuasi Tinggi?
Kenaikan IHSG sepanjang September–Oktober 2025 banyak didorong oleh sektor energi terbarukan, data center, dan teknologi, di mana sebagian besar sahamnya mencatatkan rasio price-to-earnings (PER) jauh di atas rata-rata pasar.
“Investor global saat ini mencari eksposur terhadap ekonomi digital dan transisi energi di Asia Tenggara, dan Indonesia adalah episentrumnya,” ujar Kepala Riset Bahana Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo, dalam pernyataannya kepada publik.
Saham seperti Barito Renewables Energy (BREN) dan DCI Indonesia (DCII) menjadi primadona karena prospek jangka panjangnya di sektor energi hijau dan infrastruktur digital. Namun, valuasi saham tersebut kini mencapai kelipatan 70–100 kali laba bersih tahunan, jauh di atas rerata pasar yang hanya 12–15 kali.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) per awal Oktober 2025, lima saham dengan valuasi tertinggi berkontribusi lebih dari 18% terhadap kapitalisasi IHSG. Fenomena ini mengindikasikan konsentrasi kekuatan pasar yang semakin tajam, di mana pergerakan indeks lebih banyak dipengaruhi oleh segelintir emiten unggulan.
Risiko Fundamental di Balik Saham Premium
Kondisi valuasi yang terlalu tinggi menimbulkan kekhawatiran mengenai overpricing atau gelembung harga. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eka Sari Lorena, menilai bahwa investor ritel perlu berhati-hati terhadap saham yang naik karena sentimen, bukan karena peningkatan fundamental.
“Valuasi yang mahal tidak selalu buruk, tapi menjadi berisiko jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan laba yang sepadan. Investor perlu memeriksa rasio profitabilitas dan ekspansi usaha, bukan hanya melihat grafik harga,” jelasnya.
Selain itu, meningkatnya ketergantungan IHSG pada saham-saham dengan valuasi mahal bisa membuat indeks rentan terkoreksi tajam jika terjadi aksi ambil untung oleh investor institusi besar. Dalam beberapa pekan terakhir, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat adanya arus keluar dana asing sebesar Rp 1,3 triliun dari sektor energi dan teknologi, sinyal bahwa sebagian investor mulai melakukan rebalancing portofolio.
Apakah Masih Layak Dikoleksi?
Meski valuasinya mahal, tidak semua saham premium layak dihindari. Menurut analis dari RHB Sekuritas Indonesia, prospek saham dengan growth story kuat seperti BREN dan DCII masih menarik bagi investor jangka panjang. Pasalnya, kedua emiten tersebut tengah mengakselerasi ekspansi strategis di sektor berorientasi masa depan: energi hijau dan data center.
“Selama kinerja keuangan menunjukkan peningkatan signifikan dan perusahaan punya strategi pertumbuhan yang jelas, valuasi tinggi bisa dianggap sebagai cerminan ekspektasi pasar terhadap potensi masa depan,” ungkap analis RHB.
Namun, bagi investor ritel, strategi terbaik bukan mengejar saham mahal, melainkan mencari emiten undervalued yang berpotensi naik saat rotasi sektor terjadi. Sektor yang kini dinilai masih murah antara lain perbankan menengah, logistik, dan manufaktur ekspor. Saham-saham seperti BBTN, SMDR, dan ADRO disebut masih memiliki ruang kenaikan dengan rasio harga terhadap laba di bawah rata-rata IHSG.
Arah IHSG ke Depan: Seleksi, Bukan Euforia
Kinerja IHSG pada kuartal terakhir 2025 akan banyak ditentukan oleh arah kebijakan suku bunga global, harga komoditas, serta laporan keuangan kuartal III emiten besar. Jika laba korporasi mampu mengimbangi valuasi, maka tren penguatan masih dapat berlanjut.
Namun, jika pertumbuhan laba melambat, investor berpotensi beralih ke saham defensif seperti perbankan dan infrastruktur publik. Dengan demikian, momentum “saham valuasi mahal” mungkin mencapai puncaknya dan bergeser ke fase konsolidasi.
Ekonom Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 dapat menembus 5,4%, dengan dukungan investasi energi dan teknologi. Artinya, saham-saham dengan fundamental kuat masih punya ruang tumbuh, tetapi hanya bagi mereka yang benar-benar memiliki keunggulan kompetitif nyata.
Rasionalitas Menjadi Kunci Investasi 2025–2026
IHSG memang sedang ditopang oleh saham-saham mahal, namun bukan berarti semuanya tidak layak dikoleksi. Investor harus kembali pada prinsip dasar investasi: membayar harga yang wajar untuk nilai yang tepat.
Dengan kombinasi disiplin analisis fundamental, manajemen risiko, dan orientasi jangka panjang, saham dengan valuasi tinggi sekalipun bisa tetap memberikan imbal hasil yang menarik—selama pertumbuhan kinerjanya sejalan dengan harga.
Seperti yang dikatakan Lucky Bayu Purnomo, “Pasar modal bukan soal mencari harga termurah, tapi menemukan nilai terbaik di waktu yang tepat.”
Dan pada 2025 ini, waktu yang tepat hanya dimiliki oleh mereka yang berani berpikir rasional di tengah euforia pasar.