IHSG berpeluang lanjut melemah pada Jumat (9/1/2026), cek rekomendasi saham berikut

admin.aiotrade 09 Jan 2026 3 menit 13x dilihat
IHSG berpeluang lanjut melemah pada Jumat (9/1/2026), cek rekomendasi saham berikut

aiotrade.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,22% atau 19,34 poin ke level 8.925,47 pada akhir perdagangan Kamis (8/1/2026). IHSG diproyeksi lanjut melemah pada Jumat (9/1/2026) karena tekanan jual yang belum reda.

Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda melihat IHSG masih berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan tekanan jual terbatas.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Ini seiring dengan berlanjutnya aksi profit taking jangka pendek, serta kondisi teknikal IHSG yang sudah berada di area overbought.

Pasar juga akan mencermati sejumlah sentimen penting. “Yaitu, Data Consumer Confidence Indonesia, serta rilis data global seperti Non-Farm Payroll (NFP) AS dan Unemployment Rate AS,” ungkapnya Kamis (8/1/2026).

Reza memproyeksikan IHSG diproyeksikan bergerak pada level resistance di level 8.960 – 9.000 dan support di 8.895 – 8.910 pada perdagangan Jumat (9/1/2026).

Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang melihat, secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG di akhir perdagangan Kamis (8/1/2026) berada di area overbought dan berpotensi membentuk Death Cross. 

Selain itu, IHSG membentuk pola Shooting Star yang mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli selama beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi baru.

Sehingga, Alrich memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menguji level 8.850-8.900 pada perdagangan Jumat (9/1/2026).

Dari domestik, sentimen berasal dari defisit APBN mencapai Rp 695,1 triliun per Desember 2025 atau setara 2,92% dari PDB. Ini lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3% dari PDB dan melampaui target defisit APBN 2025 yang sebesar 2,53% dari PDB. 

Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai Rp 2.756,3 triliun atau mencapai 91,7% dari target. 

“Sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp 2.602,3 triliun atau 96,3% dari anggaran,” kata Alrich.

Data cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 156,5 miliar di Desember 2025 dari US$ 150,1 miliar di November 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri. 

Level ini merupakan level tertinggi sejak Maret 2025, dan setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri. 

“Selanjutnya, investor akan menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif,” katanya.

Alrich menyarakan investor untuk memerhatikan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) untuk perdagangan esok.

Sementara, Reza menyarankan investor untuk memperhatikan saham berikut pada perdagangan hari ini:

1. PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA)

Rekomendasi: Buy on Breakout di Rp 520 per saham

Resistance: Rp 535 – Rp 560 per saham

Stop Loss jika di bawah Rp 500 per saham

2. PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD)

Rekomendasi: Buy Area Rp 214 – Rp 224 per saham

Resistance: Rp 242 – Rp 252 per saham

Stop Loss jika di bawah Rp 204 per saham

3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

Rekomendasi: Buy on weakness Rp 428 – Rp 440 per saham

Resistance: Rp 476 – Rp 480 per saham

Stop Loss jika di bawah Rp 410 per saham

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan