IHSG Didukung Saham Mahal, Layak Dibeli?

admin.aiotrade 05 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
IHSG Didukung Saham Mahal, Layak Dibeli?

Kinerja Pasar Saham dan Peran Saham dengan Valuasi Tinggi

Pada akhir perdagangan Jumat (3/10/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan sebesar 0,59% menjadi 8.118,30. Penguatan ini terutama didorong oleh kenaikan saham-saham dengan valuasi tinggi. Sejak awal tahun, IHSG telah meningkat sebesar 14,67%.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi salah satu penopang utama penguatan indeks. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham DCII naik sebesar 576,72% menjadi Rp 284.900 per saham. Peningkatan ini berkontribusi sebesar 297,93 poin terhadap IHSG. Meskipun demikian, valuasi saham DCII tergolong sangat tinggi dengan Price Earning Ratio (PER) mencapai 500,40 kali. Dari sisi fundamental, DCII hanya meraup pendapatan sebesar Rp 1,33 triliun dan laba bersih sebesar Rp 616,95 miliar pada semester pertama 2025.

Selain DCII, beberapa saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI juga memiliki valuasi yang tinggi. Contohnya adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang memiliki PER sebesar 600,24 kali. Padahal, laba bersih BREN hanya sebesar Rp 65,46 miliar pada semester pertama 2025. Saat ini, saham BREN sudah menguat sebesar 4,09% dari harga awalnya Rp 780 per saham sejak melantai di BEI pada 9 Oktober 2024.

Di sisi lain, ada emiten dengan kinerja keuangan yang solid namun tidak diimbangi dengan kenaikan harga saham. Contohnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp 39,06 triliun selama Januari–Agustus 2025. Namun, harga saham BBCA justru turun sebesar 22,22% menjadi Rp 7.525 per saham. Hal ini membuat valuasi BBCA relatif rendah dengan PER sebesar 15,98 kali dan PBV sebesar Rp 3,55 kali.

Pandangan Para Ahli tentang Investor dan Emenit

Menurut pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, investor ritel sering kali bertindak secara irasional dalam memilih saham. Ia menyebutkan bahwa kondisi serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu, khususnya di pasar saham tahan air. Namun, saat ini, saham-saham milik konglomerat lebih diminati dibandingkan saham bank digital yang sempat populer antara 2021–2022.

Budi menilai bahwa kondisi saat ini menjadi pelajaran penting bagi investor dan emiten. Ia menekankan bahwa pemegang saham pengendali (PSP) harus komitmen untuk menjaga likuiditas dan stabilitas harga saham. Tanpa komitmen ini, bahkan saham blue chips yang memiliki kapitalisasi besar belum tentu menguntungkan untuk dikoleksi.

“Saham blue chips yang masuk dalam indeks IDX30 dan LQ45 pun belum tentu menguntungkan karena sulit naik signifikan,” ujarnya.

Investasi di Sektor Teknologi dan Risiko yang Terkait

Irwan Ariston, pengamat pasar modal, menambahkan bahwa sulit untuk menilai apakah suatu saham mahal atau murah, terutama di sektor baru yang prospeknya masih belum jelas. Ia menyebutkan bahwa hal ini mirip dengan kasus pada 1999 lalu, ketika banyak saham teknologi di AS mengalami lonjakan harga yang tidak wajar.

Contoh nyata adalah Amazon, yang meski rugi, berhasil naik berkali-kali lipat. Pada masa itu, banyak analis kesulitan menilai valuasi saham seperti Amazon. Namun, kini Amazon menjadi salah satu perusahaan dengan kapitalisasi terbesar.

Namun, Irwan mengingatkan bahwa tidak semua emiten bisa sukses seperti Amazon. Banyak perusahaan teknologi pada masa itu akhirnya gagal, sehingga risikonya sangat tinggi. Ia menyarankan investor untuk mengatur portofolio sesuai profil risiko masing-masing dan tidak terburu-buru ikut-ikutan dalam investasi.

“Tidak jadi masalah jika nilai portofolio hanya naik perlahan, asalkan saham yang dipilih membuat hati nyaman,” ujarnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan