IHSG Diprediksi Naik Terbatas, Perhatikan Sentimen Royalti dan Arus Modal Asing

IHSG Diprediksi Naik Terbatas, Perhatikan Sentimen Royalti dan Arus Modal Asing


Di Balik Artis Dunia.CO.ID - JAKARTA.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami fluktuasi pada pekan ini, setelah mengalami penurunan signifikan pada akhir pekan lalu. IHSG ditutup turun sebesar 2,86% ke level 6.969, yang disebabkan oleh sentimen negatif terkait rencana kenaikan tarif royalti mineral. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap dampaknya terhadap margin perusahaan tambang.

Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menjelaskan bahwa penurunan IHSG dipicu oleh ketidakpastian terkait kebijakan tersebut. Namun, tekanan pasar mulai mereda setelah muncul kabar tentang penundaan implementasi kebijakan tersebut. Ia menyatakan bahwa meskipun IHSG masih akan cenderung volatil, ada peluang untuk rebound teknikal selama arus modal asing membaik dan kondisi sentimen global stabil.

Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa risiko penurunan lanjutan masih ada, meskipun potensi penurunannya lebih terbatas dibandingkan pekan sebelumnya. Dalam analisis teknikal, Wafi memperkirakan bahwa IHSG akan bergerak dalam rentang terbatas pada pekan ini.

“Pada pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 6.850 hingga 7.100. Level 6.900 menjadi support psikologis penting,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa jika sentimen terkait royalti mereda dan nilai tukar rupiah stabil, IHSG memiliki peluang untuk menguat ke area 7.050 hingga 7.100. Namun, pasar masih sensitif terhadap isu-isu global serta arah suku bunga.

Dari sisi sektoral, saham komoditas, khususnya sektor tambang, masih memiliki prospek yang beragam. Penundaan kenaikan royalti memberi ruang nafas sementara bagi sektor ini. Namun, pergerakan saham tambang akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dan harga komoditas global.

Untuk strategi investasi, Wafi menyarankan investor tetap selektif dalam memilih saham sektor komoditas. “Belum perlu dihindari, tetapi harus lebih selektif. Emiten low-cost producer dan yang memiliki diversifikasi hilirisasi masih menarik,” ujarnya.

Ia memberikan contoh seperti saham batubara ADRO serta saham nikel ANTM dan INCO yang masih menarik untuk trading maupun investasi jangka menengah.

Selain sektor komoditas, investor juga dapat mempertimbangkan sektor lain yang bersifat defensif. Perbankan besar dan sektor telekomunikasi masih layak dicermati karena sifatnya yang relatif defensif dan mulai diakumulasi oleh investor asing.


Beberapa saham defensif yang layak dipertimbangkan antara lain:

  • Bank BCA (BBCA) – memiliki stabilitas keuangan yang baik dan reputasi kuat di pasar.
  • Bank Mandiri (BMRI) – salah satu bank terbesar di Indonesia dengan basis nasabah luas.
  • Telkom Indonesia (TLKM) – memiliki pangsa pasar yang kuat di sektor telekomunikasi.
  • Indosat Ooredoo (ISAT) – sedang melakukan transformasi bisnis dan memiliki potensi pertumbuhan di masa depan.

Investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan ekonomi makro dan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi performa pasar saham. Selain itu, penting untuk memperhatikan risiko likuiditas dan volatilitas pasar dalam mengambil keputusan investasi.