
IHSG Berpotensi Mencapai Rekor Baru Tahun Depan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang besar untuk terus meningkat dan menciptakan rekor baru hingga tahun depan. Salah satu faktor yang dapat menjadi katalis adalah kembalinya saham-saham bank jumbo yang mulai pulih. Perkembangan ini dianggap mampu mendorong laju IHSG dalam jangka panjang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Optimisme terhadap proyeksi IHSG tidak hanya datang dari otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi juga dari para analis. Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) memperkirakan bahwa IHSG dapat menembus level 8.500 sebelum akhir tahun ini. Sementara itu, BEI lebih percaya diri dengan prediksi bahwa IHSG bisa melampaui level 9.000.
Ketua Umum PAEI, David Sutyanto, menjelaskan bahwa pasar saham Indonesia telah mengalami fase turbulensi yang tajam sepanjang tahun ini. Pada April lalu, IHSG sempat anjlok lebih dari 9% ke level 6.000, namun kini telah melonjak lebih dari 40% hingga posisi saat ini.
David menyatakan bahwa dinamika pasar ini merupakan bagian dari siklus alami. Namun, arah kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif diyakini akan menjadi pendorong utama bagi penguatan pasar ke depan. Dengan dukungan kondisi makro, dia memprediksi bahwa pasar saham Indonesia dapat tumbuh sekitar 10% hingga akhir 2026.
Menurutnya, IHSG berpotensi menembus level 8.500 pada tahun ini dan mencapai level 9.300 pada 2026. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa pergerakan IHSG masih akan bersifat volatil mengingat dominasi saham-saham non-fundamentalis dengan harga tinggi, seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII).
Pergerakan Saham Konglomerasi dan Blue Chip
Sejumlah saham konglomerasi diprediksi akan cenderung stagnan atau melambat hingga akhir tahun ini. Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) seperti perbankan mulai bangkit.
Meski harga saham-saham perbankan jumbo telah kembali hijau, PAEI melihat bahwa pemulihan belum sepenuhnya optimal. Jika saham bank jumbo seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali ke posisi Rp 11.000 serta saham bank Himbara lainnya ke harga semula, hal ini akan menjadi pendorong IHSG.
Co Founder sekaligus pengamat Pasar Dana Yohanis Hans Kwee menyatakan bahwa pergerakan harga saham-saham konglomerasi besar agar berhenti menjelang penutupan tahun ini. Ia berharap ada rotasi, yaitu investor dapat masuk ke saham big cap karena valuasinya lebih murah.
Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, pada periode November-Desember, pasar saham cenderung menguat ditopang sentimen dari hari raya. Selain itu, sentimen positif lainnya adalah penambahan emiten baru dari sektor perbankan, pertambangan, dan energi baru terbarukan (EBT).
Optimisme BEI Terhadap IHSG
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, mengatakan bahwa optimisme IHSG mencapai level 9.000 muncul setelah berhasil menembus level 8.000 pada Oktober lalu. “Ya optimis dong. [level] 8 ribu aja tercapai kan,” katanya usai peresmian tiga indeks baru menggandeng S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) di Main Hall Bursa, Senin (3/11).
BEI juga tengah menargetkan 50 perusahaan penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2026. Sebelumnya, target IPO tahun ini adalah 66 perusahaan, namun kini telah dikurangi menjadi 45 perusahaan.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, membeberkan rencana besar di penghujung 2025 terkait rencana tiga perusahaan berskala jumbo atau lighthouse company akan melantai di bursa. Dia mengatakan lewat 3 IPO tersebut, perusahaan berpotensi meraup dana jumbo.
BEI menyebutkan bahwa tiga calon emiten berasal dari sektor finansial, pertambangan, dan infrastruktur. Menurut Iman, IPO ditargetkan akan berlangsung pada akhir tahun ini.