IHSG Lemah, Pilih Saham Ini Jelang Akhir Tahun 2025

admin.aiotrade 05 Okt 2025 2 menit 14x dilihat
IHSG Lemah, Pilih Saham Ini Jelang Akhir Tahun 2025


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan pergerakan yang kurang stabil meskipun sempat mencatatkan rekor tertinggi baru (all time high/ATH) beberapa kali pada bulan September 2025. Meski demikian, kekuatan IHSG masih terlihat lemah karena adanya aksi jual dari investor asing.

Hingga akhir perdagangan Jumat pekan lalu, investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 56,93 triliun sejak awal tahun. Hal ini menjadi indikasi bahwa pasar masih menghadapi tekanan dari sisi fundamental.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, secara historis, IHSG seringkali menunjukkan kinerja positif di kuartal IV. Rata-rata kenaikan IHSG pada Oktober adalah sekitar 1%, stagnan di November, dan naik antara 2,3% hingga 3,1% pada Desember. Kombinasi ini menghasilkan return kuartalan sebesar 2%-4% dengan rata-rata sekitar 3%.

“Tradisi window dressing tetap menjadi pendorong utama IHSG menjelang akhir tahun,” ujarnya dalam risetnya, Jumat (3/10/2025).

Selain itu, ada beberapa faktor positif yang turut memengaruhi IHSG, seperti stimulus ekonomi, injeksi likuiditas dari perbankan, tren penurunan suku bunga, serta proses rebalancing MSCI. Faktor-faktor ini memberikan peluang bagi IHSG untuk menguat di sisa tahun 2025.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, setuju bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk menguat. Ia menilai, faktor utama yang mendorong adalah window dressing dan rilis kinerja kuartalan emiten, terutama bank besar.

“Dengan tambahan sentimen global, terutama jika The Fed memangkas suku bunga di Oktober dan Desember, potensi window dressing pada akhir tahun ini semakin besar,” kata Nico.

Kinerja emiten pada kuartal IV-2025 akan menjadi penentu kekuatan IHSG. Saham-saham unggulan (blue chips) berpeluang kembali bangkit jika terlihat perbaikan kinerja. Harry Su, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, memperkirakan emiten bank big caps seperti BBCA dan BBNI akan mencatatkan laba positif secara kuartalan, didukung oleh perbaikan net interest margin.

Namun, Nico mengingatkan bahwa perbaikan kinerja tetap bergantung pada sektor, fundamental, dan valuasi masing-masing emiten. “Jika kenaikan harga saham blue chips sudah terlalu tinggi, perlu diwaspadai agar tidak berbalik turun,” ujarnya.

Untuk strategi trading, Liza merekomendasikan beberapa saham dengan target harga yang telah ditentukan. Antara lain, JPFA dengan target harga Rp 2.330 per saham, ICBP dengan target Rp 11.450 per saham, SSMS dengan target Rp 2.400 per saham, BBRI dengan target Rp 4.720 per saham, dan BMRI dengan target Rp 6.300 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan