
Proyeksi IHSG di Tahun 2025 dan 2026
Banyak analis memperkirakan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mencapai level 9.000 dalam waktu dekat. Bahkan, dalam skenario bullish, indeks ini bisa mencapai 10.000. Hal ini menunjukkan optimisme terhadap prospek pasar saham Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Liza C. Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa pasar saham dalam negeri masih menjadi pilihan utama bagi investor asing. Pasar saham emerging market seperti Indonesia memiliki valuasi yang relatif menarik. Selain itu, pasar saham sedang menantikan sejumlah kebijakan yang akan dikeluarkan oleh otoritas.
Salah satu wacana kebijakan yang menarik perhatian adalah peningkatan batas minimal free float dari 7,5% menjadi 20%-30%. Jika kebijakan ini terealisasi, maka akan ada aliran dana yang besar ke pasar saham. Liza menilai bahwa jika tren positif tetap terjaga, bukan tidak mungkin IHSG mencapai level 10.000 hingga 10.200 pada akhir 2025.
Selain itu, Kiwoom Sekuritas juga memproyeksikan adanya potensi perbaikan aliran dana investor asing. Hal ini dapat memberikan dukungan tambahan bagi kenaikan IHSG.
Pengaruh Nilai Tukar Rupiah terhadap IHSG
Nico Laurens, Head of Research Panin Sekuritas, menjelaskan bahwa setiap kali rupiah melemah, IHSG cenderung terkoreksi. Ini bisa menjadi indikator awal untuk memprediksi arah IHSG. Para ekonom memproyeksikan nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp 16.266 per dolar Amerika Serikat (AS). Dengan proyeksi tersebut, Nico menilai ada katalis positif dari pergerakan rupiah.
Dari sisi valuasi, Panin Sekuritas menghitung bahwa PE IHSG untuk 2025 berada di posisi 14,8 kali. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata bursa global yang mencapai 16,1 kali. Untuk 2026, valuasi IHSG diproyeksikan berada di posisi 13 kali PE, masih di bawah rata-rata global yang diproyeksikan mencapai 14,9 kali.
Namun, Nico mencermati bahwa tidak semua valuasi murah bisa langsung naik cepat. Ia menilai bahwa jika valuasi sudah murah dan perusahaan memiliki potensi pertumbuhan, maka kenaikannya bisa lebih kuat. Nico memproyeksikan pertumbuhan laba emiten akan meningkat menjadi 13,8% di 2026, dari 2,2% pada tahun sebelumnya.
Percepatan Pertumbuhan Laba Bersih dan Likuiditas
Adrian Joezer, Head of Strategy and Equity Analyst Mandiri Sekuritas, menyebutkan bahwa pergerakan IHSG akan didorong oleh percepatan pertumbuhan laba bersih para emiten. Selain itu, tingkat likuiditas juga menjadi faktor penting dalam pergerakan IHSG.
Mandiri Sekuritas memproyeksikan Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk memangkas BI Rate sekitar 50 bps di 2026. Proyeksi ini dapat memberikan dukungan tambahan bagi kenaikan IHSG.
Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG bisa melaju ke posisi 9.050 hingga akhir 2026. Dalam skenario bullish, IHSG bisa mencapai 9.350, sedangkan dalam skenario bear, IHSG diperkirakan berada di posisi 7.670.
Sektor Pilihan dan Proyeksi IHSG
Sektor pilihan Mandiri Sekuritas meliputi keuangan, emas dan tembaga (copper and gold), alat berat, retail, konsumer, kesehatan, teknologi, dan sektor unggulan lainnya.
Di sisi lain, Panin Sekuritas memproyeksikan IHSG bisa mencapai 9.340 di 2026 dalam skenario dasar. Dalam skenario bear, IHSG diperkirakan berada di posisi 8.224, sedangkan dalam skenario bullish, IHSG bisa melaju ke 9.724.
Tiga sektor unggulan Panin Sekuritas untuk 2024 adalah perbankan, emas, dan poultry. Sejalan dengan itu, Panin Sekuritas memberikan rating overweight ke tiga sektor tersebut.
JPFA Chart
by TradingView
Sektor Pilihan Kiwoom Sekuritas
Sementara itu, sektor pilihan Kiwoom Sekuritas meliputi konsumer, perbankan, telekomunikasi, energi, dan infrastruktur. Beberapa saham unggulan yang disebutkan antara lain JPFA, KLBF, SSMS, TLKM, JSMR, ASII, BBNI, dan BBCA. Proyeksi ini menunjukkan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki potensi kenaikan yang baik dalam beberapa tahun mendatang.