IHSG Tembus Rekor, Waspadai Saham Spekulatif

admin.aiotrade 09 Okt 2025 3 menit 17x dilihat
IHSG Tembus Rekor, Waspadai Saham Spekulatif

IHSG Mencatat Rekor Tertinggi, Tapi Bukan Semua Investor Merasakan Kenaikan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) terbaru. Pada penutupan perdagangan Kamis (9/10/2025), IHSG menguat sebesar 1,04% ke level 8.250,93. Selama hari perdagangan tersebut, IHSG sempat mencapai titik tertingginya di 8.272,83.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari itu mencapai Rp 30,27 triliun. Meskipun IHSG mencatatkan kenaikan yang signifikan, tidak semua investor merasakan kenaikan yang sama. Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menyatakan bahwa penguatan IHSG ini tidak dirasakan secara merata oleh semua golongan investor.

“Buktinya, saham berkapitalisasi besar masih banyak minus. Tak hanya itu, kinerja reksadana saham juga masih minus,” ujar Parto kepada aiotrade.app, Kamis (9/10/2025). Contohnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 21,96% secara year to date per Kamis (9/10). Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 5,39%.

Menurut Parto, saham-saham yang naik dan memiliki valuasi tinggi mungkin saja karena harga sahamnya dijaga oleh pihak yang berkepentingan. Terlebih menjelang akhir tahun, ada potensi window dressing.

Teguh Hidayat, Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, menilai bahwa kenaikan IHSG dikendalikan oleh saham-saham yang "digoreng" alias dimanipulasi, bukan murni karena mekanisme pasar. Ia menyarankan untuk menggunakan indeks LQ45 sebagai acuan karena isinya terdiri dari saham-saham yang lebih stabil dan perusahaan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.

Memang, jika dibandingkan dengan kinerja indeks LQ45, kinerja IHSG justru berbeda. Sepanjang tahun ini, indeks LQ45 turun sebesar 3,21%, sementara IHSG naik 16,54%. Dalam hitungan Teguh, jika mengesampingkan saham-saham yang "digoreng", posisi IHSG seharusnya sama dengan indeks LQ45. Bahkan, IHSG hanya akan berada di kisaran 5.000.

Aksi "goreng" saham ini, menurut Teguh, membuat investor asing cabut dari pasar modal Tanah Air. Per Kamis (9/10/2025), investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 54.220,27 triliun. “Dulu tidak ada seperti ini, IHSG seperti dipaksakan naik ke 8.000. Ini membuat investor asing gerah, makanya saham seperti BBCA terus turun,” tambahnya.

Pengamat Pasar Modal Lanjar Nafi menjelaskan bahwa saham-saham dengan volatilitas ekstrem dan tidak wajar harus dibersihkan. Menurutnya, level wajar IHSG akan sedikit lebih rendah dari posisi saat ini. Ia memproyeksikan IHSG akan berada di kisaran 7.800–7.900.

Di tengah lonjakan IHSG, Lanjar menyarankan investor untuk tidak menempatkan semua dana investasi sekaligus. Jika ingin masuk, investor dapat menerapkan strategis Dollar Cost Averaging (DCA) untuk memitigasi risiko.

“Daripada ikut-ikutan spekulasi di saham 'gorengan', lebih baik fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat, rekam jejak kinerja bagus, dan valuasi yang masih masuk akal,” jelasnya.

Sementara itu, Parto menilai investor harus mengacu pada fundamental terlebih dahulu. Selain itu, investor juga bisa mencari sektor defensif, yang produknya dibutuhkan terus oleh masyarakat.

“Selain itu, saham yang membagikan dividen konsisten dan besar misalnya yield di atas 5% dan memiliki potensi pertumbuhan atau cerita prospek ke depannya,” kata Parto.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan