
Bisnis karoseri di Indonesia tengah menghadapi tantangan yang cukup berat. Banyak perusahaan yang merasa pesimis terhadap kondisi pasar pada tahun ini. Salah satu contohnya adalah PT Adiputro Wirasejati, yang hingga saat ini baru mencapai realisasi target bisnis sekitar 45%-48%.
Menurut Direktur Adiputro, David Jethrokusumo, penurunan permintaan pembuatan bodi kendaraan bus pariwisata menjadi salah satu penyebab utama. Segmen ini biasanya mendominasi bisnis perusahaan. Namun, daya beli yang lesu dan tekanan pada sektor pariwisata membuat permintaan untuk kendaraan terkait semakin sepi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Di segmen pendidikan hilang. Tapi kalau yang lain itu saya lihat tetap jalan,” ujar David kepada aiotrade, Jumat (14/11/2025).
Meski ada tanda-tanda pemulihan sejak 2024, situasi kembali memburuk setelah Idul Fitri tahun 2025. Khususnya setelah pecahnya perang tarif antara Amerika Serikat dan negara-negara lain, industri ini terpukul karena banyak perusahaan memilih untuk menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut.
“Jadi (permintaannya) hilang 50% lah, hampir 50%,” tambahnya.
Saat ini, Adiputro sedang dalam mode bertahan. Meski demikian, David mengaku bahwa perusahaan berusaha menghindari lompatan bisnis besar seperti pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini karena pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian tinggi dan tidak mudah digantikan.
David memprediksi penurunan bisnis bisa mencapai 25% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. “Saya kok ada rada pesimistis,” ucapnya.
Hingga November 2025, Adiputro belum melihat adanya geliat permintaan yang signifikan. Padahal, menjelang hari raya Idul Fitri, biasanya terjadi lonjakan permintaan pembuatan bus pariwisata.
Di sisi lain, CV Delima Mandiri melihat tren permintaan yang relatif stabil. Tidak ada kenaikan maupun penurunan yang signifikan. Namun, tantangannya justru terletak pada bagaimana memenuhi kebutuhan pelanggan.
Product Manager CV Delima Mandiri, Albertus Whitney, menyebutkan bahwa pasar sering kali tidak menyediakan desain yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
“Jadi tantangan ke depannya buat Delima Mandiri adalah selalu mencari tahu customer itu sebenarnya punya problem apa, dan bagaimana karoseri itu bisa memberi jadi solusinya,” ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo), Jimmy Tenacious, menyebutkan bahwa bisnis karoseri saat ini menghadapi dua tantangan utama yang cukup mengkhawatirkan.
Tantangan pertama datang dari banjirnya produk-produk completely built up (CBU) atau bus utuh yang diimpor dari China. Menurut Jimmy, produk-produk ini membanjiri pasar karoseri Tanah Air dengan harga yang sangat murah.
“Terutama karoseri yang masuk secara utuh berikut dengan truck-nya,” terang Jimmy.
Ancaman ini diperparah oleh arah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak menentu dan kurang protektif terhadap industri karoseri nasional.
“Kita selalu menyuarakan kesulitan kami namun tanggapan pemerintah masih kurang cepat dan peka atas masalah yang kita hadapi,” tambahnya.
Askarindo berharap pemerintah dapat melibatkan asosiasi dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan industri karoseri nasional. Selain itu, mereka juga mendorong semua pengusaha karoseri untuk bergabung dalam asosiasi ini.