
aiotrade, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menetapkan target pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2026 berada di kisaran 8% hingga 12%. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo saat memaparkan indikator kinerja utama bank sentral untuk tahun depan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
"Kami terus mendukung kebijakan pemerintah dalam Asta Cita, yang fokusnya pada stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, mendorong pertumbuhan kredit, serta menciptakan lapangan kerja," ujar Perry.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sebagai perbandingan, pada awal tahun ini, BI sebelumnya menargetkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11% hingga 13%. Namun, dalam perkembangannya, target tersebut direvisi turun menjadi 8% hingga 11% pada akhir 2025. Dengan demikian, target untuk tahun depan sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi terbaru tahun ini.
Selain itu, BI juga menetapkan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) industri di atas 10%. Sementara itu, inflasi ditargetkan berada pada angka 2,5±1% secara tahunan.
Dalam hal sistem pembayaran, BI memiliki beberapa target yang harus dicapai. Pertama, jumlah pengguna QRIS diharapkan mencapai 60 juta orang dan merchant sebanyak 45 juta. Volume transaksi QRIS diperkirakan mencapai Rp15 miliar. Selain itu, volume Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) juga ditargetkan mencapai Rp15 miliar. Sementara itu, pertumbuhan volume transaksi digital payment diharapkan tumbuh sebesar 25% setiap tahunnya.
Untuk pertumbuhan ekonomi, BI memproyeksikan angka sebesar 5,33% pada tahun 2026. Perry menjelaskan bahwa proyeksi ini didasarkan pada perkembangan ekonomi global maupun domestik.
Dari sisi global, diperkirakan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, terutama di negara-negara mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan India. Perkembangan ini juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi lain, BI juga mempertimbangkan rencana dukungan bank sentral untuk mendorong pertumbuhan melalui penurunan suku bunga, ekspansi likuiditas moneter, dan kebijakan makroprudensial.
Perry mengakui bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,33% tersebut sedikit di bawah target APBN 2026 sebesar 5,4%. Meski begitu, ia melihat target pemerintah tersebut realistis, tetapi tergantung pada kecepatan realisasi belanja stimulasi fiskal di masa depan.
"Kami masih menggunakan pola pengeluaran APBN yang selama ini, dan ke depan kami melihat bahwa pengeluaran fiskal bisa lebih cepat dan bahkan bisa mencapai 5,4% sebagaimana yang tercantum dalam APBN," ujarnya.