
Peran Pemulia Tanaman dalam Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia
Di tengah tantangan yang semakin mengkhawatirkan, ketahanan pangan Indonesia menghadapi berbagai tekanan. Dari laju perubahan iklim hingga pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan secara signifikan. Tahun 2050 menjadi target penting di mana produksi pangan harus digandakan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Namun, kondisi ini tidak mudah dicapai. Lahan pertanian yang semakin menyusut, suhu global yang meningkat, dan ancaman gagal panen membuat situasi semakin rumit. Di tengah tantangan ini, para pemulia tanaman menjadi harapan besar bagi sektor pertanian.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pemuliaan tanaman adalah cabang ilmu pertanian yang fokus pada peningkatan sifat genetik tanaman agar dapat menghasilkan varietas unggul. Tujuan utamanya adalah menciptakan tanaman yang lebih produktif, tahan terhadap penyakit, serta cocok dengan lingkungan tertentu. Dalam wawancara dengan aiotrade, Prof. Muhamad Syukur, Ketua Umum Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (PERIPI), menjelaskan bahwa peran pemuliaan sangat sentral terhadap peningkatan kualitas dan produktivitas pertanian.
Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa revolusi hijau dunia dimulai dari tangan para pemulia tanaman. Varietas gandum dan padi berumur pendek yang mereka ciptakan dulu menjadi titik balik meningkatnya hasil panen global. Tanpa pemuliaan, kata dia, produktivitas pertanian tidak akan pernah melonjak hingga sepuluh kali lipat.
Kini, peran pemuliaan kembali dituntut. Syukur menegaskan bahwa sejumlah riset memperingatkan bahwa perubahan iklim bisa menurunkan produktivitas padi di Asia Tenggara hingga 10-20 persen. Solusinya hanya satu, yaitu pengembangan varietas adaptif yang tahan kekeringan, banjir, hama, dan penyakit.
Sayangnya, jumlah pemulia tanaman di Indonesia masih jauh dari ideal. Idealnya, satu pemulia melayani 3.000 petani. Dengan 30 juta petani, Indonesia membutuhkan 10 ribu pemulia. Saat ini, yang terdaftar di PERIPI hanya sekitar 1.000 orang, dan yang benar-benar aktif mungkin hanya seperempatnya. Minimnya peminat di bidang ini disebabkan oleh persepsi negatif generasi muda yang menganggap pekerjaan pemulia sulit, butuh waktu panjang, dan kurang menjanjikan secara finansial.
Padahal, pemulia bukan hanya bekerja di laboratorium, tapi juga di lapangan, menanam, mengamati, menyeleksi, dan berinovasi demi benih unggul. Untuk itu, Syukur menyarankan pemerintah agar membuka kembali formasi dosen pemulia, membuka program studi S1 khusus pemuliaan tanaman, dan memperluas magang di industri benih agar lulusan siap kerja.
Upaya memperkuat semangat para pemulia kini mendapat dukungan lewat penghargaan Indonesian Breeder Award (IBA 2025) yang akan digelar November 2025. Ajang ini memberi apresiasi kepada individu dan lembaga yang berhasil mengembangkan varietas unggul, teknologi pemuliaan, dan sumber daya genetik berdampak luas bagi ketahanan pangan nasional.
Selain krisis sumber daya manusia, Syukur menyebutkan, masalah klasik lain adalah pendanaan riset yang tidak berkelanjutan. Proses pemuliaan tanaman membutuhkan waktu panjang dan konsistensi, tetapi tiap tahun para peneliti harus bersaing lagi untuk dana baru. Akibatnya, banyak program berhenti di tengah jalan.
Hal senada disampaikan Prof Bayu Krisnamurthi, Guru Besar IPB University dan pakar agribisnis. Dalam pertemuan dengan asosiasi perusahaan benih Hortindo, ia menegaskan bahwa riset pemuliaan adalah investasi jangka panjang yang harus dijamin keberlanjutannya. "Kalau ingin menarik investasi, kita perlu menciptakan ekosistem yang mendukung riset pemuliaan di Indonesia," ujarnya.
Menurutnya, ketahanan pangan bukan hanya soal beras dan jagung yang cukup di pasar, tapi juga memastikan setiap keluarga dapat mengakses makanan bergizi di tengah tantangan iklim ekstrem. Karena itu, keberpihakan terhadap riset pemuliaan tanaman adalah kebutuhan strategis bangsa.