
Tantangan Industri Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia
Industri tekstil dan produk tekstil di Indonesia kini menghadapi tantangan besar akibat banjirnya impor pakaian bekas atau yang dikenal dengan istilah thrifting. Hal ini telah menyebabkan gangguan pada pasar dalam negeri dan merugikan pelaku usaha lokal.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Perkembangan Impor Pakaian Bekas
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menjelaskan bahwa kuota impor pakaian thrifting pada tahun 2021 awalnya hanya sebesar 7 ton. Namun, jumlah tersebut terus meningkat menjadi 12 ton pada 2022 dan 2023, lalu melonjak tajam menjadi 3.600 ton pada 2024.
“Data tahun 2021, impor barang-barang bekas, baju-baju bekas itu hanya 7 ton per tahun. 2022 naik 12 ton, 2023 itu 12 ton, dan 2024 3.600 ton,” ujar Maman dalam acara Expo Keuangan dan Seminar Syariah (EKSiS) di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Hingga Agustus 2025, pemerintah mencatat bahwa impor thrifting sudah mencapai 1.800 ton. Banjir pakaian bekas ini membuat pasar dalam negeri terganggu dan membuat pelaku usaha rugi.
Keterlibatan Oknum Bea Cukai
Menurut Maman, fenomena kebanjiran pakaian bekas dari luar negeri tidak terlepas dari keterlibatan oknum Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Politikus Partai Golkar ini menyebut bahwa oknum-oknum di Kementerian Keuangan itulah yang membuka pintu masuknya pakaian bekas.
“Urusan thrifting, mengadunya ke Menteri UMKM. Tapi yang ngebuka akses oknum-oknum di Bea Cukai,” ujar Maman. Ia mengaku sering menerima keluhan dari pengusaha lokal yang dibuat pusing oleh banjir pakaian bekas dari luar negeri. Persoalan ini pernah ia sampaikan dalam acara 1 Tahun Prabowo-Gibran: Optimism 8% Economic Growth pada Oktober 2025.
Setelah itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bergerak menindak anak buahnya. "Alhamdulillah kemarin kita sentil saja, itu tolong Bea Cukai, oknum-oknum Bea Cukai ditertibkan. Alhamdulillah-nya Menteri Keuangannya gercep (gerak cepat) ditutup," ujarnya.
Blokir Pintu Impor Pakaian Thrifting
Setelah dunia industri tekstil dalam negeri gonjang ganjing, pemerintah menutup pintu masuk impor pakaian bekas. Tidak hanya itu, menurut Maman, pemerintah juga akan menindak jalur masuk pakaian baru dari China yang dijual dengan sangat murah.
Begitu murahnya produk China itu, pengusaha lokal sampai dibuat pusing. Usaha produksi pakaian dalam negeri pun berantakan. “Jilbab itu bayangkan, dijual harganya Rp 2.000 sampai Rp 3.000 perak. Hancur pengusaha-pengusaha kita, produsen-produsen kita di UMKM,” kata Maman.
Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya akan berhenti di thrifting karena impor pakaian bekas hanya sebagian momok persoalan pasar produk tekstil. Pemerintah bakal membidik impor baju dari China yang harganya menghancurkan pasar dalam negeri. "Kita enggak akan hanya berhenti di thrifting karena thrifting itu baru sebagian kecil. Yang paling besar ini adalah impor-impor produk baju dari China yang harganya sudah enggak bener ini,” kata dia.