Indonesia Hadapi Tantangan Global, Pakar Minta Lompatan Besar

Indonesia Hadapi Tantangan Global, Pakar Minta Lompatan Besar

Media sosial sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang ingin tahu kebenaran di balik Indonesia Hadapi Tantangan Global, Pakar Minta Lompatan Besar. Berikut fakta yang berhasil kami rangkum.

Tantangan Indonesia dalam Membangun Peradaban dan Daya Saing Global


Indonesia sedang menghadapi tantangan yang sangat serius dalam membangun peradaban dan meningkatkan daya saing di tingkat global. Kondisi ini menunjukkan bahwa negara ini membutuhkan lompatan besar dalam pembangunan nasional agar mampu bersaing dengan negara-negara lain.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Tantangan ini menjadi fokus utama dalam forum Refleksi Akhir Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Prasasti Center for Policy Studies dan BACenter di Jakarta, pada Senin (29/12). Forum ini menjadi ruang untuk merefleksikan pencapaian Indonesia sepanjang tahun 2025 serta mengevaluasi tantangan besar yang dihadapi bangsa di tengah kompetisi global.

Cendekiawan Yudi Latif menyampaikan pidato refleksi dengan tema “Rekonstruksi Peradaban Indonesia”. Pidato ini menyoroti pentingnya pembaruan arah pembangunan nasional agar Indonesia bisa keluar dari jebakan ketertinggalan peradaban. Acara dibuka oleh Burhanuddin Abdullah, Board of Advisors Prasasti sekaligus Ketua Dewan Pembina BACenter, dan diperkaya dengan pembacaan puisi oleh budayawan Taufiq Ismail.

Forum ini juga diselenggarakan dalam suasana keprihatinan akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Burhanuddin mengapresiasi partisipasi publik dalam membantu penanganan dan pemulihan pascabencana. Menurutnya, semangat gotong royong yang muncul menunjukkan kekuatan sosial bangsa Indonesia.

“Solidaritas masyarakat adalah modal sosial yang sangat berharga. Namun ke depan, pemerintah harus lebih bijak dan berkelanjutan dalam mengelola sumber daya alam agar pembangunan tidak memperbesar risiko bencana,” ujar Burhanuddin.

Dalam pidato pengantarnya, Burhanuddin menekankan pentingnya berhenti sejenak untuk berefleksi di tengah laju perubahan global yang kian cepat. Ia menjelaskan bahwa refleksi akhir tahun bukan sekadar ritual personal, tetapi cara bangsa menimbang dan mengendapkan pengalaman kolektif demi menentukan arah masa depan.

Ia mengapresiasi berbagai langkah pembangunan sepanjang 2025 yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, BUMN, UMKM, koperasi, hingga masyarakat. Program seperti pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi desa dinilai memiliki potensi untuk melahirkan generasi muda yang lebih sehat, tangguh, dan cerdas dalam jangka panjang.

Namun, Burhanuddin juga mengingatkan bahwa tantangan Indonesia masih sangat besar. Beberapa indikator menunjukkan posisi Indonesia tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Dalam Global Talent Competitiveness Index, peringkat Indonesia turun dari 65 pada 2020 menjadi 73 pada 2024. Sementara itu, Human Capital Index Indonesia hanya mencapai 0,56, yang berarti seorang anak Indonesia saat ini baru mengoptimalkan sekitar 56 persen potensi produktivitasnya di masa depan.

Dari sisi produktivitas tenaga kerja, Indonesia mencatat sekitar US$28.000 per pekerja, jauh di bawah Singapura yang melampaui US$150.000 dan Malaysia sekitar US$55.000. Kesenjangan juga tampak mencolok pada aspek inovasi. Data paten per satu juta penduduk menunjukkan Indonesia hanya mencatat 84 paten sepanjang 2000–2023, dibandingkan Singapura yang mencapai lebih dari 22 ribu dan Korea Selatan lebih dari 93 ribu.

“Ini bukan sekadar kesenjangan, tetapi sudah menjadi jurang peradaban,” tegas Burhanuddin. Karena itu, ia menilai Indonesia membutuhkan lompatan besar, bukan sekadar perbaikan bertahap.

Melalui forum ini, Prasasti Center for Policy Studies dan BACenter berharap refleksi akhir tahun dapat menjadi pijakan intelektual dan moral bagi para pemangku kepentingan dalam menatap masa depan Indonesia—dengan keberanian melakukan lompatan besar, konsistensi arah pembangunan, serta peneguhan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama peradaban bangsa.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar