
Generasi Z dan Peran Mereka dalam Mendorong Kesetaraan Gender
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lebih terbuka dan berani menyuarakan pendapat, termasuk dalam isu-isu seperti kesetaraan gender. Hal ini terlihat jelas dalam seminar bertajuk “Break the Bias, Gender Equality, Gen Z Leading the Change”, yang diselenggarakan oleh Indonesia Women Fest Go To Campus bersama LSPR Institute of Communication and Business pada Jumat (17/10/2025). Seminar ini menjadi wadah untuk membahas bagaimana generasi muda dapat menjadi agen perubahan dalam memperjuangkan kesetaraan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Executive Director SWA Institute, Ghina Kemal Gani, menekankan bahwa kesetaraan tidak hanya tentang mendapatkan ruang yang sama, tetapi juga tentang rasa aman untuk berbicara dan dihargai. Ia menjelaskan bahwa setiap orang harus sadar bahwa suaranya penting, tanpa memandang gender atau posisi sosialnya.
Melvin Bonardo Simanjuntak, sebagai moderator acara, menyatakan bahwa Gen Z memiliki peran penting dalam membawa perubahan nyata. Menurutnya, perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mendengarkan, menghargai, dan berani menyampaikan pendapat.
Cerita Inspiratif dari Para Pembicara
Empat pembicara hadir dalam seminar ini dan berbagi pengalaman mereka dalam menghadapi tantangan terkait kesetaraan gender. Salah satu pembicara adalah Anissa Thabiina, Senior Candidate Marketing Manager Jobstreet by SEEK. Ia bercerita tentang tantangan saat memimpin tim yang terdiri dari para pria senior di awal karier.
Menurutnya, perempuan sering kali dipandang sebelah mata ketika diberikan tanggung jawab besar. Untuk menepis stereotip tersebut, ia membuktikan melalui prestasi kerjanya. Ia percaya bahwa kepercayaan tidak bisa diminta, tetapi dibangun perlahan melalui kinerja dan integritas. "Banyak yang meragukan kemampuan saya di awal, tapi saya terus buktikan lewat hasil kerja," ujarnya.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan bukan soal gender, melainkan tentang tegas tapi tetap mau mendengarkan.
Sementara itu, Dianty Anissa, Content Creator dan Co-Founder Tertata Journaling Community, mengaku sering menghadapi komentar negatif di media sosial. "Perempuan yang tegas kadang disebut emosional, sementara laki-laki dengan sikap sama disebut visioner," katanya.
Alih-alih tersulut, ia memilih mengubah kritik menjadi ruang refleksi. "Ketika kita tahu nilai diri, komentar negatif tidak lagi menggoyahkan," tambahnya.
Dari dunia kampus, Dellisya Setiawan, 1st Runner Up Miss LSPR 2025, melihat masih ada anggapan bahwa perempuan terlalu emosional untuk memimpin. "Padahal empati justru penting dalam kepemimpinan," ujarnya.
Meski begitu, tidak semua laki-laki berpandangan demikian. Salah satunya adalah Muhammad Dirar Adha Yusuf.,BA, Assistant Lecturer LSPR, yang justru melihat kesetaraan gender sebagai hal positif bagi semua pihak.
Menurutnya, kesetaraan tidak hanya memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang, tetapi juga membebaskan laki-laki dari tekanan sosial yang menuntut mereka selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi. Ia mengaku mulai memahami hal itu ketika menyadari adanya male privilege dalam kehidupan sehari-hari.
"Saya bisa pulang malam tanpa rasa takut, sementara banyak perempuan tidak punya kebebasan itu," ujarnya. Dari pengalaman itu, Dirar belajar bahwa kesetaraan bukan tentang siapa yang diuntungkan, melainkan soal menciptakan rasa aman dan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk berkembang sesuai potensinya.
Langkah Konkret dalam Mewujudkan Kesetaraan
Untuk menghadapi ketimpangan gender, Executive Director SWA Institute Ghina Kemal Gani mengatakan, perubahan harus dimulai dari lingkungan yang menghargai perbedaan. Melalui program ini, Indonesia Women Fest Go To Campus ingin menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk lebih berani, peduli, dan kolaboratif menghadapi bias gender.
Sebagai informasi, Indonesia Women Fest Go To Campus merupakan salah satu rangkaian roadshow menuju Indonesia Women Fest 2026, yang bertujuan mengajak generasi muda untuk berperan aktif dalam mewujudkan kesetaraan gender di berbagai bidang.
Melalui program Women Go To Campus, Indonesia Women Fest ingin membuka ruang dialog antara dunia akademik dan profesional agar isu kesetaraan tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dipraktikkan sejak bangku kuliah.
Acara ini didukung oleh berbagai partner brand Indonesia Women Fest, diantaranya JobStreet, Young Hearts, Geut by Dr. T, Wiselie, Deorex, Herbadrink, Konicare Indonesia, Wondermis, Majika, dan FFAR, serta didukung oleh Guardian sebagai brand partner dari LSPR.
Kegiatan juga bekerja sama dengan media partner dari LSPR, yaitu FTVC (Film, Television & Videography Club) dan LSPR News Club.