
Kementerian Pekerjaan Umum Fokus pada Pengembangan Jaringan Irigasi Tersier
Di bawah amanat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, dan air, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menempatkan bendungan dan irigasi sebagai wajah kedaulatan bangsa. Sejak 21 Oktober 2024, evaluasi kinerja menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam potensi layanan air, namun juga menggarisbawahi tantangan krusial dalam menuntaskan penyaluran air hingga ke tingkat petani, khususnya pada jaringan irigasi tersier (on-farm).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam kurun waktu 2014-2024, pemerintah telah membangun 53 bendungan yang terkoneksi dengan 70 daerah irigasi (DI). Hasilnya, potensi layanan air irigasi untuk mendukung swasembada pangan telah meningkat dari semula 310.170 hektar menjadi 369.355 hektar.
Fokus 2025-2029: Tuntaskan Bendungan
Menteri PU Dody Hanggodo menuturkan, Kementerian PU kini fokus menyelesaikan 15 bendungan yang sedang dibangun dalam periode 2025-2029. Penyelesaian proyek ini diharapkan menambah potensi layanan irigasi secara masif, dari 184.515 hektar menjadi 263.055 hektar. Proyek-proyek strategis ini tersebar dari Bendungan Tigadihaji di Sumatera hingga Way Apu di Maluku.
"Kendati kapasitas tampung bendungan telah meningkat, efektivitas penyaluran air ke lahan pertanian masih menghadapi hambatan," ujar Dody kepada aiotrade.app, Jumat (24/10/2025).
Kementerian PU mengakui bahwa masih banyak daerah irigasi yang membutuhkan pembangunan berkelanjutan, rehabilitasi, dan peningkatan jaringan irigasi. Bahkan, beberapa daerah irigasi memerlukan saluran dari outlet bendungan agar air dapat mengalir ke sistem irigasi utama. Artinya, bendungan hanya menjadi waduk raksasa, sementara efektivitasnya sangat bergantung pada kesiapan sistem irigasi tersier (on-farm) yang menopang air benar-benar sampai ke sawah petani.
Strategi Kementerian PU dalam Menjembatani Hambatan
Bagaimana strategi Kementerian PU menjembatani hal ini? Tahun ini, Kementerian PU menjalankan berbagai program untuk menuntaskan jaringan air hingga tingkat petani. Fokus utama adalah membangun konektivitas air dari bendungan baru ke lahan dengan membangun saluran outlet yang dilaksanakan di 5 bendungan yang baru selesai sebelum 2024 yakni Tanju, Rukoh, Pidekso, Tugu, dan Tukul, untuk tambahan layanan irigasi baru.
Selain itu, juga pembangunan jaringan irigasi baru yang mencakup 70 kilometer saluran untuk layanan irigasi baru seluas 13.000 hektar. Kemudian, merehabilitasi 1.353 kilometer jaringan irigasi eksisting untuk melayani 203.000 hektar lahan, guna meminimalkan kehilangan air.
Untuk daerah irigasi yang jauh dari sumber air permukaan (bendungan, sungai), Kementerian PU membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebanyak 1.805 unit untuk melayani 18.424 hektar lahan.
Percepatan dan Efektivitas
Sementara untuk memastikan percepatan dan efektivitas hingga level tersier, Kementerian PU menggunakan dua instrumen kebijakan kuat yakni Inpres 2 Tahun 2025 yang fokus pada Irigasi Kewenangan Daerah, dan Program P3-TGAI: Pemberdayaan Petani (Last-Mile Solution).
Mulai tahun ini, Kementerian PU melaksanakan Instruksi Presiden (Inpres) 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Layanan Irigasi untuk DI Kewenangan Daerah. Program ini dilakukan secara bertahap dan masif. Tahap I-III, merehabilitasi jaringan irigasi sepanjang 5.291 Km dan membangun 1.093 unit JIAT untuk melayani total luas 652.890 hektar.
Sedangkan Program P3-TGAI, memberdayakan petani (Last-Mile Solution). Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) adalah last-mile solution yang krusial. Program ini melibatkan masyarakat (petani) secara langsung dalam pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier di wilayah mereka.
Hingga kini, P3-TGAI telah menyerap lebih dari 106.177 pekerja lokal, memberikan multiplier effect ekonomi signifikan di pedesaan. Keberhasilan ini mendorong peningkatan 50 persen titik lokasi P3-TGAI pada tahun depan, dari 9.597 menjadi sekitar 12.000 titik.
Kesimpulan
Meskipun Bendungan Baru telah meningkatkan potensi air secara signifikan, Kementerian PU menunjukkan kesadaran kritis bahwa efektivitasnya bergantung pada penyelesaian jaringan irigasi tersier yang masih memerlukan pembangunan berkelanjutan. "Dengan kombinasi proyek infrastruktur bendungan on-going, skema rehabilitasi Inpres, dan pemberdayaan masyarakat melalui P3-TGAI, pemerintah berupaya keras menjamin air dari bendungan raksasa benar-benar sampai ke sawah petani untuk mewujudkan kedaulatan pangan," tuntas Dody.