Ingin Punya Teman, Keinginan Sederhana Timothy Anugerah Sebelum Lompat dari Gedung FISIP UNUD

admin.aiotrade 18 Okt 2025 5 menit 12x dilihat
Ingin Punya Teman, Keinginan Sederhana Timothy Anugerah Sebelum Lompat dari Gedung FISIP UNUD

Kehidupan Seorang Mahasiswa yang Berakhir Tragis

Di balik hiruk pikuk dunia perkuliahan, ada satu potret sunyi yang mengguncang nurani banyak orang. Ia datang dari kampus bergengsi di Pulau Dewata, Universitas Udayana, Bali. Di sanalah langkah seorang mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Timothy Anugerah Saputra, berakhir tragis.

Tulisan-tulisannya di media sosial seolah menjadi surat terakhir potongan perasaan yang menggambarkan seberapa dalam kesepian bisa berdiam di balik senyum seorang mahasiswa. Sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai empat gedung FISIP pada Rabu, 15 Oktober 2025, Timothy sempat menuliskan sesuatu yang sederhana, tapi penuh harapan: “Rencanaku.” Sebuah catatan kecil yang kini terasa begitu getir untuk dibaca kembali karena di balik kata-katanya yang polos, tersimpan cita-cita sederhana tentang masa muda yang ingin dijalani dengan damai.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Namun takdir berkata lain. Rencana itu kini hanya tinggal kenangan, setelah Timothy diduga menjadi korban perundungan (bullying) dari rekan-rekannya sendiri. Tragisnya, bahkan setelah ia meninggal dunia, masih ada enam mahasiswa dan mahasiswi Udayana yang mengejek kematiannya dengan candaan kejam. Candaan yang mencabik empati, mengoyak rasa kemanusiaan. Salah satu ejekan itu membandingkan foto jasad Timothy dengan sosok selebgram Kekeyi. Yang lain menulis komentar dingin, “Nanggung banget klok bnuh diri dari lantai 2 yak.” Ungkapan itu bukan hanya sekadar teks di layar tapi gambaran nyata betapa mudahnya seseorang menertawakan tragedi orang lain.

Tulisan Terakhir: “Rencanaku”

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Timothy menulis sebuah catatan sederhana berjudul “Rencanaku.” Ia menulis tentang mimpi-mimpi kecil yang ingin dicapainya selama kuliah, sesuatu yang bagi banyak orang tampak biasa, namun bagi dirinya adalah peta hidup. Di semester pertama, ia hanya ingin belajar mengenal lingkungan kampus dan berteman dengan rekan mahasiswa lainnya. Lalu di semester dua dan tiga, ia berharap bisa memiliki teman yang benar-benar tulus, bergabung dalam organisasi kemahasiswaan, dan ikut lomba-lomba.

“Mencari teman, mengikuti sebuah organisasi kuliah, mengikuti pertandingan,” tulis Timothy Anugerah Saputra pada 2022 silam. Di semester empat dan lima, ia ingin melangkah lebih jauh membentuk organisasinya sendiri dan menjalankannya. Lalu di semester tujuh dan delapan, impian Timothy begitu sederhana: menyelesaikan tugas akhir, menulis skripsi, lulus, lalu bekerja. “Tugas terakhir (Skripsi, Karya Tulis Ilmiah, dan lain-lain, wisuda, dan mencari pekerjaan),” tulisnya. Namun semua rencana itu kini terhenti. Impian yang ia susun dengan hati-hati berubah menjadi duka yang menorehkan luka mendalam bagi keluarganya.

Firasat Seorang Ibu

Sebelum tragedi itu terjadi, SKY (48), ibu Timothy, sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang tak beres. Ia melihat perubahan pada anaknya sejak lima bulan terakhir Timothy menjadi pendiam, berbeda dari biasanya. Firasat seorang ibu jarang salah. Maka ia pun datang jauh-jauh dari Bandung ke Bali, hanya untuk menemani sang anak yang ia rasakan sedang terluka. Namun, meski mendampingi secara langsung, SKY mengaku belum sempat membawa Timothy ke psikolog. Ketika peristiwa itu akhirnya terjadi, ia hanya bisa berusaha menerima. Menurut keterangan Kompol I Ketut Sukadi, sang ibu mengikhlaskan kepergian anaknya karena tahu betapa berat beban batin yang mungkin dipikul sang buah hati.

Detik-Detik Terakhir

Seorang mahasiswi, NKGA (21), menjadi saksi mata pagi itu. Ia melihat Timothy datang dari arah pintu lift, memanggul tas ransel dan mengenakan baju putih. Raut wajahnya tampak gelisah, seperti sedang mencari sesuatu. Ia duduk di kursi panjang di sebelah barat ruang kelas, memandangi sekeliling dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian, hanya sepasang sepatu yang tersisa di tempatnya duduk. Timothy sempat dilarikan ke RSUP Prof dr IGNG Ngoerah sekitar pukul 10.30 WITA. Saat itu, ia masih sadar, namun tubuhnya penuh luka: patah tulang pinggul, tangan, dan pendarahan organ dalam. Kesadarannya menurun perlahan hingga akhirnya pukul 13.03 WITA, Timothy dinyatakan meninggal dunia.

Para Pelaku: Mereka Bukan Mahasiswa Biasa

Keenam mahasiswa yang diduga mengejek kematian Timothy ternyata memiliki jabatan penting di lingkungan kampus. Mereka adalah:

  • Leonardo Jonathan Handika Putra, Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan, angkatan 2022.
  • Maria Victoria Viyata Mayos, mahasiswa FISIP angkatan 2023, Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
  • Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis dan Pendidikan Himapol FISIP.
  • Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana, Wakil Kepala Departemen Minat dan Bakat Himapol FISIP.
  • Vito Simanungkalit, Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP.
  • Putu Ryan Abel Perdana Tirta, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa FISIP.

Mereka bukan hanya sekadar mahasiswa, melainkan pengurus organisasi orang-orang yang seharusnya menjadi contoh bagi rekan-rekannya.

Sanksi dan Permintaan Maaf

Pihak Universitas Udayana akhirnya mengambil langkah tegas. Dr. Dewi Pascarani, Ketua Unit Komunikasi Publik Unud, menyebut bahwa para mahasiswa yang terbukti mengejek kematian Timothy akan direkomendasikan mendapat nilai D atau tidak lulus di seluruh mata kuliah semester berjalan. “Soft skill merupakan salah satu komponen penilaian dalam perkuliahan,” jelasnya. Namun keputusan final masih menunggu hasil pendalaman dari Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK). Sementara itu, keenam mahasiswa yang sebelumnya bersikap keji itu telah meminta maaf secara terbuka di media sosial. Namun bagi banyak orang, permintaan maaf itu datang terlambat sebab seorang anak muda sudah kehilangan nyawanya, dan seorang ibu kehilangan anak yang begitu ia cintai.

Kini, tulisan “Rencanaku” di akun Instagram Timothy menjadi semacam monumen kecil di dunia maya pengingat tentang betapa rapuhnya hati manusia di tengah tekanan sosial dan akademik. Ia hanya ingin berteman, berorganisasi, dan lulus seperti mahasiswa lain. Tapi jalan hidupnya berhenti di tengah jalan, di kampus yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bertumbuh. Timothy Anugerah Saputra, pemuda kelahiran 2003 dari Bandung itu, meninggalkan dunia dengan sunyi. Namun kisahnya menggema menjadi peringatan bahwa setiap tawa bisa jadi luka bagi orang lain, dan bahwa kehidupan di balik layar kampus tak selalu seindah foto wisuda di media sosial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan